Dakwah Mbah Wono di Pinggir Rel Kereta Api

Hidayatullah.com-Di sepanjang jalur rel kereta api Kelurahan Gilingan, Banjarasari, Kota Solo tempat ini terkenal sebagai tempat hitam di kota Solo. Di beberapa sudutnya, tempat ini terkenal dengan prostitusi, pusat preman dan tempat pemotongan anjing terbesar di kota Solo.

Mbah Wono memulai dakwanya bukan dari khutbah di atas mimbar. Ia memulai dari membawa sapu setiap pagi. Menyapu di gang-gang sempit dan menjumputi sampah plastik di rel kereta api. Itu dilakukan bertahun-tahun hingga warga sekitar yang menyaksikan pun tergerak hatinya untuk turut menjaga kebersihan.

Perlahan berlanjut ke warung kopi. Ia sering ngopi bareng masyarakat sekitar. Dalam obrolan-obrolan hangat itu tak lupa sedikit ia selipkan nasehat, khususnya tentang hakikat kehidupan.

Kegiatannya pun berkembang. Mbah Wono sering mengadakan acara makan bersama, kegiatan sosial lainnya. Setelah itu yang dilakukan Mbah Wono adalah membangun Masjid dan mengatur kegiatannya.

Perjalanan dakwahnya masih panjang. Setelah  lebih 15 tahun berdakwah Mbah Wono berhasil membina 9 RW, 4 RW sudah mulai dimasukinya dan 6 masjid dan musholla telah berdiri disana.

Simak kisah Mbah Wono selengkapnya dalam video ini. []