Kamis, 27 Januari 2022 / 24 Jumadil Akhir 1443 H

Ragam

Sejarah Imam Besar Al-Azhar

Hingga kini setidaknya telah ada 44 orang Syaikh Azhar sejak pemilihan Syaikh Azhar pertama
Bagikan:

Hidayatullah.com | IMAM Besar Al-Azhar (bahasa Arab: Al-Imam al-Akbar), juga dikenal sebagai Grand Syeikh Al-Azhar atau Syeikh Besar Al-Azhar atau Syeikh al-Azhar asy-Syarif adalah jabatan ulama Islam Sunni yang dihormati dan jabatan publik penting di Mesir. Hal ini dianggap oleh sebagian umat Islam sebagai otoritas tertinggi dalam pemikiran Islam Sunni dan fikih serta mempunyai pengaruh kuat dalam masyarakat lslam di seluruh dunia terutama bagi pengikut Mazhab Asy’ariyah dan Maturidiyah.

Imam Besar mengawasi Masjid Al-Azhar, keberadaan Universitas Al-Azhar dan bertanggung jawab atas urusan agama resmi selain Mufti Besar Mesir.  Gelar Imam Besar dikeluarkan sesuai dengan Undang-undang Nomor 103 Tahun 1961 mengenai Pegembangan Al-Azhar, dengan dibubarkannya Dewan Ulama Senior al Azhar dan digantikan dengan Akademi Riset Islam.

Dengan dikeluarkannya peraturan ini, maka Syeikh Al-Azhar merupakan Imam Besar Al Azhar, dan Imam yang diminta pendapatnya mengenai urusan-urusan keagamaan, yang sesuai dengan al-Qur’an dan ilmu-ilmu Islam. Pengangkatan Imam Besar Al-Azhar sesuai dengan Keputusan Presiden yang diambil dari anggota Akademi Riset Islam.

Meskipun gelar Imam Besar Al-Azhar pertama kali digunakan sejak tahun 1961 tetapi sejak abad ke-14, Masjid Al-Azhar dan Universitas Al-Azhar dipimpin Musyrif Al-Azhar kemudian gelar tersebut diganti menjadi Nazhir Al-Azhar pada masa Kesultanan Utsmaniyah gelar tersebut menjadi Grand Syeikh Al-Azhar atau Syeikh Besar Al-Azhar.

Dalam sejarahnya al-Azhar telah mengangkat 44 Syeikh al-Azhar, berikut profil singkat Syeikh al-Azhar dari pertama hingga keenam:

Pertama,  Syeikh Muhammad Bin Abdullah Al-Kharrasyi (1010-1101 H/1601-1690 M.)

Syeikh al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Ali al-Kharrasyi, orang pertama yang diangkat menjadi Syeikh al-Azhar. Lahir di desa Abu Kharrasy, markaz Syabrakhit, propinsi Buhayra tahun 1010 H/1601 M.

Beliau dididik oleh para ulama terkemuka, seperti ayah beliau sendiri, Syeikh Jamaludin Abdullah al-Kharrasyi, Syeikh Lugony, Syeikh al-Ajhury, Syeikh al-Syamy dan syeikh-syeikh yang lain. Para syeikh mengajarkan beliau kurikulum al Azhar, berupa ilmu-ilmu agama, ilmu bahasa, sejarah, mantiq dan ilmu kalam.

Karya-karya beliau: Risalah fi Basmalah, Fathu al-Jalil, fikih Maliki, al-Syarh al-Kabir (tentang fikih), Al-Syarh al-Shaghir, ringkasan al-Syarh al-Kabir Muntaha al-Raghbah.

Kedua, Ibrāhīm ibn Muhammad ibn Ahmad al-Bājūrī

Nama lengkapnya Burhanuddin Ibrahim al-Bajuri bin Syeikh Muhammad al-Jizawi bin Ahmad.  Beliau di lahirkan di desa Bajur dari propinsi al-Munufiya Mesir tepat pada tahun 1198 H/1783 M.

Sejak kecil beliau telah hidup dalam kalangan orang shaleh karena orang tua beliau juga merupakan seorang ulama yang alim dan shaleh.

Tahun 1212 H beliau berangkat ke al-Azhar untuk mengambil ilmu dari para syeikh-syeikh di Universitas tertua tersebut. Pada tahun 1213 H/1798 M Prancis telah menduduki Mesir sehingga membuat beliau keluar dari al-Azhar dan tinggal di Jizah selama beberapa tahun, dan akhirnya kembali lagi ke al-Azhar pada tahun 1216 H (1801 M) setelah Prancis keluar dari Mesir.

Rektor Universitas al-Azhar

Al-Bajuri mengajar di Universitas al-Azhar, dan pada tahun 1847 menjadi rektornya, posisi yang dipegangnya sampai akhir hayatnya. Selama masa jabatannya sebagai Syeikh al-Azhar ia menghabiskan banyak waktunya untuk mengajar.

Sebagai pengikut Imam Al-Syafii, ia menulis lebih dari 20 karya. Di bawah ini beberapa karyanya;

  • Asyiyah Ala Risalah Syeikh al-Fadhali, merupakan ulasan dan penjelasan makna “La Ilaha Illa Allah”, kitab ini merupakan kitab yang pertama sekali beliau karang, ketika itu umur beliau sekitar dua puluh empat tahun.
  • Hasyiyah Tahqiqi al-Maqam `Ala Risalati Kifayati al-`Awam Fima Yajibu Fi Ilmi al-Kalam, kitab ini selesai pada tahun 1223 H.
  • Fathu al-Qaril al-Majid Syarh Bidayatu al-Murid, selesai di karang pada tahun 1224 H.
  • Hasyiyah Ala Maulid Musthafa Libni Hajar, selesai pada tahun 1225 H.
  • Hasyiyah `Ala Mukhtasor as-Sanusi (ummul Barahain), selesai pada taun 1225 H.
  • Hasyiyah `Ala Matni as-Sanusiyah fil mantiq, selesai pada tahun1227 H.
  • Hasyiah `ala Matn Sulama fil mantiq
  • Hasyiah `ala Syarh Sa`ad lil aqaid an-Nasafiyah
  • Tuhfatu al-Murid `Ala Syarhi Jauharatu at-Tauhid Li al-Laqqani, selesai pada tahun 1234 H.
  • Tuhfatu al-Khairiyah `Ala al-Fawaidu asy-Syansyuriyah Syarah al-Manzhumati ar-Rahabiyyah Fi al-Mawarits, selesai pada tahun 1236 H.
  • Ad-Duraru al-Hisan `Ala Fathi ar-Rahman Fima Yahshilu Bihi al-Islam Wa al-Iman, selesai pada tahun 1238 H.
  • Hasyiyah `Ala Syarhi Ibni al-Qasim al-Ghazzi `Ala Matni asy-Syuja`i, selesai di tulis pada tahun 1258 hijriyah, kitab ini merupakan kitab yang di pelajari di al-Azhar Syarif dan seluruh pesantren di Nusantara sampai sekarang. Kitab ini beliau tulis di Makkah tepat di hadapan Ka`bah dan sebagiannya di Madinah tepat di samping mimbar Rasulullah dalam masjid Nabawi.
  • Fathul Qarib Majid `ala Syarh Bidayah Murid fi ilmi Tauhid, selesai beliau karang tahun 1222 H
  • Manh al-Fattah `ala Dhau’ al-Mishabah fin Nikah
  • Hasyiah `ala Manhaj, tidak sempat beliau sempurnakan
  • Hasyiah `ala Mawahib Laduniyah `ala Syamail Muhammadiyah Imam Turmuzi
  • Tuhfatul Basyar, ta`liqat `ala Maulid Ibnu Hajar al-Haitami
  • Ta`liqat `ala tafsir al-Kisyaf
  • Hasyiah `ala Qashidah Burdah
  • Hasyiah `ala Qashidah Banat Sa`ad
  • Hasyiah `ala Matn Samarqandiyah fi ilmi Bayan
  • Fathul Khabir Lathif fi ilmi Tashrif
  • Durar Hisan `ala fath Rahman fima Yahshulu bihi Islam wal Iman
  • Hasyiah `ala maulid ad-dardir
  • Risalah fi ilmi Tauhid yang kemudian di syarah oleh ulama Nusantara, Syeikh nawawi al-bantani dengan nama kitab beliau Tijan ad-dadari.
  • Hasyiah `ala Qashidah Burdah lil Bushiry. (Bersambung >>halaman 2 >>>)

Rep: Ahmad
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Inilah Semua Data Pribadi Anda yang Disimpan Facebook dan Google

Inilah Semua Data Pribadi Anda yang Disimpan Facebook dan Google

Mayoritas Paling Menderita kasus Terorisme adalah Negara Muslim [2]

Mayoritas Paling Menderita kasus Terorisme adalah Negara Muslim [2]

India Manfaatkan Musibah Corona untuk Gebuk Muslim

India Manfaatkan Musibah Corona untuk Gebuk Muslim

103 Tahun Kejahatan Balfour dan Dosa Inggris terhadap Palestina

103 Tahun Kejahatan Balfour dan Dosa Inggris terhadap Palestina

Anak Durhaka, Tendang Ibunya Gara-Gara Hanphone

Anak Durhaka, Tendang Ibunya Gara-Gara Hanphone

Baca Juga

Berita Lainnya