Kamis, 2 Desember 2021 / 26 Rabiul Akhir 1443 H

Ragam

“Bau Amis” Teror Komunis (3): Menginjak-injak al-Qur’an

politbiro muh. abdus syakur/hidayatullah.com
"Dibuat berdasarkan hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) para pelaku penyiksaan..."
Bagikan:

Yang dibantai PKI itu adalah adik kandung dari anggota Politbiro –semacam pengurus eksekutif PKI.

Hidayatullah.com | MAYOR JENDERAL TNI S. Parman duduk di atas sebuah kursi di balik meja. Ia bersama sekelompok prajurit dalam sebuah misi. Alih-alih bisa memberi perintah kepada para prajurit itu, S. Parman justru disekap oleh mereka.

Seorang di antaranya, dengan pakaian sobek-sobek, mengangkat celurit di tangan kanannya tinggi-tinggi, seperti hendak menebas sang Jenderal. Seorang lainnya, berseragam lengkap, terlihat hendak menghantamkan popor senjatanya ke orang yang sama.

Sementara itu, para prajurit lain bersiaga. Ada yang mengacungkan kepalan tangan dan senjatanya ke arah S Parman yang tampak berlumuran darah.

Pemandangan itu terhidang dalam diorama di Rumah Penyiksaan, salah satu situs di Monumen Kesaktian Pancasila, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

“Diorama ini dibuat berdasarkan hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) para pelaku penyiksaan dan pembunuhan dalam sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmillub), serta kesaksian Agen Polisi II (Dua) Sukitman,” demikian keterangan tertulis pada situs yang dikunjungi Suara Hidayatullah beberapa waktu lalu itu.

Para pelaku penyiksaan tersebut diyakini sebagai anggota Pasukan Cakrabirawa dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Mereka diceritakan sedang menyiksa empat perwira TNI.

Selain S Parman, perwira lainnya seperti tertulis pada keterangan di situs itu, adalah Mayjen TNI R Soeprapto, Brigjen TNI Sutoyo S, dan Lettu Pierre Andreas Tendean. Ketiga perwira itu ditampilkan berlumuran darah.

Cukup dekat dari Rumah Penyiksaan terdapat situs lain yaitu Lubang Buaya. Ini adalah sumur tua yang dijadikan tempat pembuangan tujuh Pahlawan Revolusi setelah mereka disiksa dengan begitu keji oleh PKI.

Pahlawan Revolusi itu adalah Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mayjen Anumerta DI Panjaitan, Letjen Anumerta MT Haryoo, Kapten CZI Anumerta PA Tendean, Letjen Anumerta S Parman, Letjen Anumerta R Soeprapto, dan Mayjen Anumerta Sutoyo Siswomiharjo.

Mereka gugur setelah diculik pada malam hari, dalam tragedi pemberontakan PKI yang dikenal dengan Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu) 1965 atau G30S/PKI.

Ironisnya, sebagaimana diketahui, S Parman yang dibantai PKI itu adalah adik kandung dari anggota Politbiro PKI, Ir Sakirman. Politbiro merupakan semacam pengurus eksekutif.

Tragedi pembantaian para Pahlawan Revolusi itu seperti ditulis oleh Salim Haji Said dalam bukunya, Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno, dan Soeharto, terjadi pada Jumat, 1 Oktober 1965 pagi.

Salim bercerita, setelah mendapatkan kabar tragedi itu, ia segera menuju rumah Brigjen TNI Soegandhi, Direktur Penerangan Staf Angkatan Bersenjata (SAB), di Jl Diponegoro 54, Jakarta. Beberapa pegawai SAB sudah menunggu di situ.

“Tidak lama kemudian, tuan rumah muncul. Soegandhi baru saja pulang dari rumah beberapa Jenderal yang jadi korban pembantaian pagi itu. Dia bercerita mengenai darah yang masih berceceran di rumah-rumah para koleganya yang dibantai menjelang Shubuh.”

“Mengingat ketegangan antara PKI dan kaum anti-Komunis –terutama dengan Angkatan Darat– yang hari-hari itu memang makin memuncak, tidak sulit bagi kami semua pagi hari itu untuk dengan cepat berkesimpulan bahwa PKI yang berada di balik peristiwa berdarah itu,” tulisnya.

Saat tragedi itu, Salim berusia 22 tahun. Soegandhi lah katanya yang pertama kali memperkenalkan istilah Gestapu.

Kekejaman PKI bukan cuma dilakukan terhadap pihak TNI, tapi juga kepada rakyat sipil, khususnya umat Islam.

Misalnya, seperti dituturkan Salim, pada suatu pagi buta, 15 Januari 1965. Saat itu, peserta pelatihan kader Pelajar Islam Indonesia (PII) sedang bersiap-siap melaksanakan shalat Shubuh di masjid. Tiba-tiba mereka diserang.

Penyerangan fisik itu dilakukan secara brutal. Selain menganiaya para kader PII, orang-orang Komunis juga menginjak-injak kitab suci al-Qur’an.

“Aksi yang menistakan Al-Qur’an ini memicu kemarahan para kiai di hampir semua pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah,” tulis Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pertahanan yang juga mantan wartawan ini.* (bersambung)

Sumber: Majalah Suara Hidayatullah edisi Agustus 2020.

Rep: Rofi' Munawwar
Editor: Muhammad

Bagikan:

Berita Terkait

Pengakuan Buzzer  Ahok kepada Media Inggris: Tim Buzzer  Ahok Sekarang Bangun Citra Jokowi ” [3]

Pengakuan Buzzer Ahok kepada Media Inggris: Tim Buzzer Ahok Sekarang Bangun Citra Jokowi ” [3]

Senjata Muslim yang Berhasil Mengalahkan Kepungan Pasukan Salib

Senjata Muslim yang Berhasil Mengalahkan Kepungan Pasukan Salib

Uighur dan Kisah Persekusi China

Uighur dan Kisah Persekusi China

Rahasia 10 Keindahan Sastra Kitab Suci Al-Qur’an

Rahasia 10 Keindahan Sastra Kitab Suci Al-Qur’an

Shalahuddin al-Ayubi Pulihkan Ajaran Sunni

Shalahuddin al-Ayubi Pulihkan Ajaran Sunni

Baca Juga

Berita Lainnya