Dompet Dakwah Media

Wabah Global dalam Lintasan Sejarah

Akibat wabah Yustinianus, Eropa kehilangan separo populasi. Sejarawan Barat memperkirakan wabah turut berpengaruh terhadap menurunnya kekuatan militer Kekaisaran Romawi

Wabah Global dalam Lintasan Sejarah
Peta yang menunjukkan sejarah dan distribusi Black Death di seluruh dunia. (Wikimedia Commons)

Terkait

Hidayatullah.com | MENURUT info dari www.worldometers.info/coronavirus/, sampai kemarin (27/3/2020) virus Covid-19 sudah tersebar di 199 negara. Jumlah orang yang terinfeksi sudah mencapai 532.150 orang. Yang wafat sudah mencapai 24.084 orang. Di Indonesia sendiri yang terinfeksi sudah mencapai 893 orang, dan yang wafat akibat penyakit ini 78 orang.

Sesungguhnya bukan baru pada tahun 2020 ini dunia dilanda wabah penyakit yang bersifat global. Pada abad ke-21 saja, terjadi beberapa kasus wabah yang mendunia. Bahkan wabah global yang juga disebabkan virus Corona pernah terjadi pada tahun 2003. Hanya saja saat itu wabah tersebut lebih populer dengan sebutan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), alias Sindrom Pernafasan Akut Berat.

Seperti wabah Covid-19 yang saat ini tengah berlangsung, wabah SARS juga bermula dari RRC, tepatnya dari Provinsi Guangdong. Wabah muncul sejak November 2002 di provinsi tersebut, namun karena ditutup-tutupi oleh pemerintah setempat, wabah ini baru diketahui World Health Organization (WHO) pada bulan Februari 2003, setelah terjadi kasus seorang pengusaha AS yang terinfeksi SARS wafat dalam perjalanan dari RRC ke Singapura.

Badan Kesehatan Dunia itu kemudian mengeluarkan peringatan global pada bulan Maret 2003 yang menyebabkan masyarakat dunia terkejut dan waspada. Wabah SARS sempat menyebar ke beberapa negara lain, namun tidak seluas sebaran virus Covid-19.

Dari laporan WHO, penyakit ini sempat menular ke 29 negara. Yang terbanyak di Taiwan, Hong Kong, Singapura, dan Kanada. Penyakit ini juga sempat menginfeksi Indonesia dengan jumlah pasien 2 orang. Wabah SARS mereda pada bulan Juli 2003 dengan jumlah orang terinfeksi secara keseluruhan 8.069 orang. Sedangkan yang mengalami kematian sebanyak 775 orang.  Tingkat fatalitasnya (jumlah kematian per jumlah orang yang terinfeksi) sebesar 9,6%.

Baca: Kasus Corona, Antara Memelihara Agama dan Jiwa

Selain itu ada pula wabah flu burung. Wabah pertama terjadi pada tahun 1997, akibat virus H5N1, menginfeksi 861 orang dan menyebabkan kematian hingga 455 orang di 18 negara. Tingkat fatalitasnya 52,8%. Wabah kedua terjadi pada tahun 2013, akibat virus H7N9, menginfeksi 1.568 orang dan menyebabkan kematian hingga 616 orang di 3 negara. Tingkat fatalitasnya 39,3%.

Pada tahun 2012 wabah sakit pernafasan melanda kawasan Timur Tengah. Wabah yang diberi nama Middle East Respirator Syndorome (MERS) ini bermula di Arab Saudi, kemudian menyebar ke 26 negara, menginfeksi 2.494 orang, dan menyebabkan kematian 858 orang.

Yang lebih dahsyat adalah wabah flu babi pada tahun 2009. Penyakit yang disebabkan virus H1N1 ini menginfeksi 1,6 juta orang dan menyebabkan kematian hingga 284.500 orang di 214 negara. Tingkat fatalitasnya 17,4%.

Baca: Teladan Sahabat Umar dan Amr bin Al-Ash saat Wabah Thoun

Wabah Global yang Terjadi Selama 1997-2020

Nama Wabah Tahun Jumlah Terinfeksi Jumlah yang Mati Fatalitas
Flu Burung H5N1 1997 861 455 52,8%
SARS 2002-2003 8.069 775 9,6%
Flu Babi H1N1 2009 1,6 juta 284.500 17,4%
Flu Burung H7N9 2013 1.568 616 39,3%
MERS 2012-2019 2.494 858 34,4%
Ebola 2014-2016 28.616 11.325 39,58%
Covid-19*) 2020 532.150 24.084 4,53%

*) Data pada tanggal 27/3/2020.

Rumah Sakit darurat selama pandemi Flu Spanyol, Camp Funston, Kansas, 1918
(Gambar: ©Arsip Museum Nasional Kesehatan dan Kedokteran)

Flu Spanyol Asal China

Pada tabel di atas, nampak wabah yang paling banyak menginfeksi orang adalah flu babi, yakni 1,6 juta orang. Tiga kali lipat jumlah orang yang terinfeksi virus Covid-19 hingga hari ini. Yang wafat akibat penyakit ini 10 kali lipat lebih banyak daripada yang wafat akibat wabah Covid-19.

Wabah yang terjadi pada tahun 1918 angkanya lebih spektakuler. Menurut situs www.history .com, wabah yang disebut  flu Spanyol itu telah menyebabkan kematiannya 50 juta orang di seluruh dunia. Situs lain bahkan ada yang menyebut angka kematian mencapai 100 juta orang.

Meski disebut flu Spanyol, wabah ini tidak bermula dari Spanyol, namun bermula dari daratan RRC. Wabah itu tersebar ke luar wilayah negeri itu ketika sejumlah pekerja Cina yang terinfeksi virus dibawa ke Eropa melalui benua Amerika. Mereka diangkut dengan kereta api melintasi Kanada, kemudian diangkut dengan kapal ke Eropa. Selama dalam perjalanan itulah virus menginfeksi orang lain hingga menyebar ke berbagai negara.

Baca: Wabah ꜥAmwās di Era ꜥUmar bin al-Khattab

Wabah Kematian Hitam (Black Death)

Wabah yang disebabkan oleh penyakit pes ini menyebabkan kematian terbanyak di dunia sepanjang sejarah peradaban manusia. Sejarah mencatat ada lebih dari 75 juta orang yang tewas selama wabah berlangsung dari tahun 1347 sampai tahun 1353. Sumber lain memperkirakan yang tewas mencapai angka 200 juta jiwa.

Surat kabar New York Times terbitan 4 November 2010 mengutip hasil penelitian para ahli yang memperkirakan wabah ini bermula dari negeri Tiongkok. Yakni ketika para tentara Mongol yang dipimpin Jani Beg  menginvasi kota Kaffa di Krimea (kini termasuk wilayah Ukraina) pada tahun 1347.

Rupanya sebagian tentara Mongol ada yang mengidap penyakit itu sejak mereka berangkat dari negerinya, hingga kemudian ada yang mati saat menjalankan ekspedisi militernya. Sebelum itu penyakit pes sudah mewabah di Provinsi Hubei (tempat bermulanya wabah Covid-19 pada tahun 2020) sejak tahun 1334.

Mayat-mayat tentara Mongol yang mati karena penyakit pes itu kemudian dilemparkan oleh temannya ke dalam Kota Kaffa melalui tembok benteng kota itu. Akibatnya para penduduk kota Kaffa ikut terinfeksi dan terjangkiti penyakit pes. Celakanya, ada sebagian penduduk itu pergi mengungsi ke daerah lain untuk menghindari wabah itu tanpa sadar bahwa pada dirinya sudah terdapat kuman penyakit pes.

Dari Kaffa wabah menjalar ke Genoa dan Venesia di Italia, kemudian menjalar ke Spanyol dan Perancis, hingga akhirnya melanda hampir seluruh Eropa. Akibatnya sepertiga penduduk Eropa tewas karena wabah penyakit itu. Yang selamat dari wabah ini adalah penduduk desa yang tinggal di pegunungan serta daerah-daerah yang tergolong sebagai daerah terpencil pada saat itu.

Kota besar yang padat penduduknya adalah yang paling terdampak wabah. Paris kehilangan 50% penduduknya. Hamburg dan Bremen di Jerman berkurang penduduknya sebanyak 60%. Kota Florence di Italia berpenduduk 110 ribu orang pada tahun 1338, kemudian menyusut tinggal 50.000 ribu pada tahun 1351.

Baca:  Fatwa Ibnu Hajar tentang Kegiatan Kumpul Massal untuk Berdoa saat Dilanda Wabah

Catatan Ibnu Khaldun dan Ibnu Bathuthah

Wabah pes juga menjalar ke Afrika bagian utara, India, serta Timur Tengah. Kota Makkah ikut terkena wabah ini pada tahun 1349.  Konon negeri Mesir sampai kehilangan 40% penduduknya. Kota Kairo yang sebelum wabah berpenduduk  sekitar 500.000 orang kemudian menyusut tinggal 300.000 orang. Sultan Mamluk, Al-Hasan, pada tahun 1348 sampai mengungsi dari Kairo ke Siyaqus, wilayah pedesaan di timur laut Kairo, demi menghindari wabah.

Tunisia, negeri kampung halaman Ibnu Khaldun (1332–1406) turut terkena wabah pes ini. Setiap hari ada 1.200 orang yang wafat di Tunisia. Kedua orangtua dan sejumlah guru Ibnu Khaldun turut kehilangan nyawa akibat wabah tersebut, sehingga membuat cendekiawan Muslim ini sangat sedih. Sewaktu wabah berkecamuk, usianya baru 18 tahun.

Sosiolog Muslim terkemuka ini menuliskan pengalaman dukanya, “Ketika aku pada usia meningkat lebih tinggi lagi, masaku berkembang mereguk ilmu pengetahuan…tiba-tiba penyakit pes menyerang semua orang. Seluruh syaikh dan kedua orangtuaku—semoga Allah merahmati mereka—wafat oleh wabah penyakit tersebut…”

Ketika wabah sedang merajalela di Timur Tengah pada tahun 1348, Ibnu Bathuthah tengah berada di Aleppo, Suriah. Ia mendapat kabar dari musafir dari selatan, bahwa wabah sedang melanda Gaza. Setiap hari ada lebih dari 1.000 orang yang mati. “Apabila korban mulai meludahkan darah dan menampakkan gejala radang paru-paru, biasanya dia akan mati dalam beberapa jam,” tulis Ibnu Bathuthah.

Ketika Ibnu Bathuthah pergi ke Palestina, dia berjalan melewati desa-desa yang sudah tidak berpenghuni lagi karena ditinggal mati penduduknya. Akhirnya dia tiba di Gaza dalam keadaan hampir tak berpenghuni lagi, karena hanya sedikit orang selamat dari wabah itu.

Baca: Pakar Israel: Virus Corona yang Melanda Wuhan Akibat Senjata Biologi China yang Bocor

Wabah Abad Ke-17

Pada abad ke-17, wabah penyakit pes kembali terjadi Eropa. Pada tahun 1629-1631 wabah melanda Italia. Seperti pada kasus wabah Covid-19, wabah di negeri ini pada abad ke-17 juga mulai berjangkit wilayah Lombardia yang terdapat di Italia bagian utara. Milan, ibu kota wilayah Lombardia, mengalami penyusutan jumlah penduduk, dari 130.000 menjadi tinggal 70.000.

Wabah pes juga kembali berjangkit di Inggris dengan jumlah korban yang cukup banyak. Di London saja yang tewas sebanyak 100.000 orang, atau sekitar 20% dari penduduk London saat itu.

Pada tahun 1679 wabah pes melanda Wina, Austria, menewaskan 76.000 orang. Kemudian menjalar ke Praha, Ceko, hingga menewaskan 83.000 jiwa.

Wabah Yustinianus

Wabah Yustinianus

Wabah yang lebih dulu terjadi pada abad ke-6 , melanda wilayah Kekaisaran Romawi, Kekaisaran Persia, dan kota-kota pelabuhan di Laut Tengah. Wabah ini mulai merajalela sekitar 30 tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, tepatnya pada tahun 541. Wabah berlangsung lama, hingga berlangsung selama dua abad, dan menewaskan lebih dari 25 juta orang.

Kaisar Romawi saat itu, Justinianus, termasuk orang yang terkena wabah tersebut, namun tidak sampai menemui kematian. Karena itu wabah tersebut kerap disebut sebagai Wabah Yustinianus.

Akibat Wabah Yustinianus ini Eropa kehilangan separo populasinya. Para sejarawan Barat memperkirakan wabah tersebut turut berpengaruh terhadap menurunnya kekuatan militer Kekaisaran Romawi sehingga mereka dikalahkan oleh pasukan Muslim dari Arab dalam perebutan wilayah Syam.

Baca: China, Virus Corona dan Pasukan Gajah!  

Penutup

Ross E. Dunn, sejarawan dari Universitas San Diego, dalam bukunya Petualangan Ibnu Bathuthah, Seorang Musafir Muslim Abad 14 menulis, “Wabah telah mengubah kebiasaan masyarakat. Mereka menjadi lebih rajin shalat dan berdoa.”

Begitulah tabit manusia. Ketika dalam kondisi sulit, menjadi lebih mendekat kepada Tuhan, sebagaimana Allah Ta’ala jelaskan dalam kitab suci-Nya:

وَإِذَا مَسَّ النَّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا رَبَّهُمْ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا أَذَاقَهُمْ مِنْهُ رَحْمَةً إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ

“Dan apabila manusia ditimpa oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali (bertaubat) kepada-Nya. Kemudian apabila Dia memberikan sedikit rahmat-Nya kepada mereka, tiba-tiba sebagian mereka menyekutukan Allah.” (Ar-Ruum [30]: 33).

Semoga wabah yang tengah berkecamuk saat ini menyadarkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, mudah ditaklukkan oleh makhluk sangat kecil bernama virus. Manusia butuh perlindungan dan pertolongan-Nya. Maka sudah selayaknya manusia tunduk dan patuh kepada Allah, di saat ada wabah ataupun tidak.*/Saiful Hamiwanto

Rep: Saiful Hamiwanto

Editor: Insan Kamil

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan. Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !