Siapa Mohammad Dahlan, yang Diburu Turki dengan Imbalan 4 Juta Lira? (2)

Wawancara wartawan New York Times Peter Baker pada November 2017 begitu takjub melihat kekayaan Mohammad Dahlan di Abu Dhabi, sementara warga Gaza kelaparan

Siapa Mohammad Dahlan, yang Diburu Turki dengan Imbalan 4 Juta Lira? (2)
Mohammad Dahlan

Terkait

Sambungan artikel PERTAMA

 

Uni Emirat Arab dan Arab Saudi

Hidayatullah.com DAHLAN menikahi Jaleela, seorang perempuan yang lahir di Saudi 1 Januari 1966 dan memiliki empat anak: Fadi (lahir Tunis, 5 Oktober 1990); Firaz (lahir Tunis, 8 Agustus 1992); Hadil (lahir di Gaza, 19 Oktober 1995); dan Asil (lahir di Gaza, 25 September 2003). Keenamnya memperoleh kewarganegaraan Serbia bersama pada tanggal 6 Desember 2013.

Pada 2015 Serbia juga memberikan kewarganegaraan Mohammad Dahlan. Istrinya, empat anak, seorang kerabat dan lima pendukung juga menerima paspor Serbia.

Bisnis utama yang dibawa Dahlan ke Serbia adalah melalui kesepakatan dengan perusahaan-perusahaan senjata negara itu yang dikenal sebagai sumber besar distribusi senjata di negara-negara Timur Tengah untuk Israel dan proksi AS.

Ia tinggal di pengasingan di Abu Dhabi, di mana ia “bekerja erat” dengan keluarga Al Nahyan yang berkuasa, yang digambarkan sebagai “Palestina favorit UEA” dan juga bersekutu dengan Presiden Mesir yang bertangan besi, Abdal Fattah al-Sisi.

Dahlan memutuskan pindah ke Uni Emirat Arab (UEA) setelah berselisih dengan Abbas dan pejabat senior Fatah lainnya.

Dahlan besama tentara bayaran (UAE Crown Prince Zayed’s army of assassins)

 

Laporan BuzzFeed News, beberapa tentara Amerika yang paling terlatih yang disewa oleh Pangeran Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohammad bin Zayed telah bekerja pada misi tentara bayaran untuk membunuh para pemimpin terkemuka serta politisi di Timur Tengah.

Menurut laporan, Putra Mahkota Uni Emirat Arab (UEA) Mohammad bin Zayed (MBZ), mempekerjakan perusahaan tentara bayaran Spear Operations Group yang berbasis di Delaware untuk membunuh terutama para pemimpin Yaman, termasuk ulama, politisi, dan tokoh agama.

Jurnalis investigasi AS Aram Roston, yang berfokus pada pelaporan tentang kontrak militer, menerbitkan daftar panjang pembunuhan yang dipimpin Uni Emirat Arab (UEA) dan mengungkapkan foto-foto pasukan pembunuh.

Beberapa pembunuh bayaran dikatakan mantan Baret Hijau AS, mantan Navy SEAL, mantan pekerja untuk “cabang tanah” CIA, dan sersan Pasukan Khusus di Pasukan Nasional Angkatan Darat Maryland.

Yang menarik, Mohammad Dahlan, mantan kepala keamanan untuk Otoritas Palestina yang juga dikenal sebagai “pembunuh bayaran” dari Timur Tengah, adalah mediator utama antara pemerintah UEA dan pasukan pembunuh. Dia pertama kali memanggil mantan Angkatan Laut AS Isaac Gilmore dan Abraham Golan untuk berkumpul pada pertemuan makan siang di pangkalan militer di kota terpadat kedua UEA di Abu Dhabi, pada 2015.

Dahlan mencium tangan mantan Menlu AS, Condolezza Rice

Golan dan Gilmore menerima  1,5 juta Dolar AS per bulan dalam gaji dan bonus, jumlah yang mereka tolak untuk mengungkapkan, karena berhasil membunuh target mereka, kutip Yeni Safak.

Mereka juga mengatakan bahwa kesepakatan itu termasuk melatih tentara UEA dalam taktik komando.

Meskipun ia telah diusir dari Fatah atas permintaan Mahmoud Abbas, Dahlan terus menikmati dukungan luas di antara para kader Fatah di Jalur Gaza. Loyalis Dahlan bahkan secara teratur bentrok dengan pendukung Fatah Abbas, kata sebuah sumber dikutip The Jerussalem Post.

Dahlan telah tinggal di Uni Emirat Arab dan menjadi sangat dekat dengan putra mahkota Abu Dhabi, Mohammad bin Zayed.

Meskipun Dahlan mulai mengumpulkan kekayaan di Gaza sebelum pengasingannya pada tahun 2006, kekayaannya di UEA tumbuh dengan subur.

Ketika diwawancarai oleh New York Times November 2017, Peter Baker takjub kekayaan Dahlan dari paragraf pertama laporannya.

“Rumahnya yang luas di Abu Dhabi .. memiliki sofa-sofa mewah, langit-langit berkubah, dan lampu gantung. Kolam infinity di bagian belakang tampaknya tumpah ke jalur air yang berkilau, ”tulis Baker.

Pada saat yang sama, dan masih sampai hari ini, jutaan warga Palestina di Gaza tetap kehilangan tempat tinggal setelah perang Israel di Jalur Gaza pada tahun 2014. Sebulan setelah serangan itu,  PBB mengumumkan  Gaza menjadi tempat yang “tidak dapat dihuni” sampai pada tahun 2020.

Kolomnis Middle East Monitor (MEMO), David Hearst menulis kolom berjudul “Dahlan: Philanthropist or notorious fixer?” mempertanyakan ada apa “pencuri”yang melarikan diri dari Palestina ini tiba-tiba begitu dekat dengan keluarga Kerajaan UEA?

“Mengapa Dahlan mengatakan dalam wawancara dengan stasiun radio Monte Carlo Doualiya pada Februari 2015 bahwa ia memiliki “hubungan pribadi” dengan kepemimpinan UEA? Dan mengapa Dahlan menggambarkan pangeran mahkota dalam sebuah wawancara dengan Al-Youm7 pada 1 September 2015 sebagai “saudara laki-laki dan temannya”?”, tulis David.

Dalam sebuah artikel berjudul The secret connection: Muhammad Dahlan and the Saudi royal family, oleh Pinhas Inbari menyebutkan, Dahlan, juga memiliki markas di Uni Emirat Arab (UEA) serta hubungan khusus dengan Pangeran Bandar bin Sultan Arab Saudi.

Alasan lain dukungan Saudi dan Negara-negara Teluk kepada Dahlan adalah kehawatiran ada aliansi antara Hamas dan Iran.

“Mata-Mata UEA”

Unit Intelijen Turki mengungkapkan bahwa Dahlan juga memiliki koneksi ke jaringan dengan mata-mata UEA di Turki. Mereka mencatat bahwa UEA, bekerja sama dengan Israel, akan mencoba dan menggoyahkan Turki, Iran, dan Qatar. Mereka percaya bahwa Dahlan, yang mempertahankan kontak dengan saluran yang baru didirikan di Turki, melayani tujuan ini dengan menyalurkan dana ke organisasi media tertentu, kutip TRTWorld.

April lalu, Pengadilan Turki  mengumumkan dua orang berinisial S.S (40 tahun) dan Z.H. (55 tahun), warga Palestina, berusaha mencuri rahasia militer dan siasat politik Ankara.

TRT World berbahasa Arab, mengatakan, investigasi pengadilan Turki menunjukkan kedua mata-mata tersebut terhubung dengan Mohammad Dahlan, yang saat ini menghabiskan kesehariannya di Uni Emirat Afrab (UEA).

Kedua intel bawahan Emirat tersebut menerima perintah dari Dahlan dan banyak bukti kehadiran mereka di kudeta Juni 2016 Ankara. Kedua warga Palestina tersebut juga mengaku terhubung dengan instansi intelijen UEA.

Keduanya masuk Istanbul tahun 2008, tepatnya pasca perselisihan gerakan Fatah Palestina dengan Hamas. Turki mengaku memiliki bukti rekening bank dan email yang terhubung dengan jaringan yang terorbit dengan Mohammad Dahlan.

Turki menuduh Dahlan menjadi tentara bayaran untuk Uni Emirat Arab dan terlibat dalam upaya kudeta 2016 terhadap Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Menurut beberapa media Turki, Dahlan berperan dalam pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi di konsulat Arab Saudi di Istanbul tahun lalu.

Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu bulan lalu menuduh UEA menyembunyikan seorang teroris: “Ada seorang teroris bernama Dahlan dan dia memata-matai untuk Israel. Itulah sebabnya dia melarikan diri dari negara itu,” katanya kepada Al Jazeera dalam sebuah wawancara.* (Habis)

Rep: Ahmad

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !