Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Ragam

Pompeii: Kota “Kaum LGBT” yang Hilang [2]

BBC
Korban Pompeii jadi tontonan pengunjung
Bagikan:

Sambungan artikel PERTAMA: Tentang musibah melandanya pada tanggal 24 Agustus, 79 M ketika gunung berapi Vesuvius meletus dan menyelimuti Kota Pompeii dengan debu dan abu.

***

Pemusnahan Pompeii dari muka bumi oleh bencana yang demikian dasyat ini tentunya bukan tanpa maksud. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kota tersebut ternyata merupakan pusat kemaksiatan dan kemungkaran. Kota tersebut dipenuhi oleh meningkatnya jumlah lokasi perzinahan atau prostitusi. Saking banyaknya hingga jumlah rumah-rumah pelacuran tidak diketahui. Organ-organ kemaluan pria dengan ukurannya yang asli digantung di pintu tempat-tempat pelacuran tersebut.

Menurut tradisi ini, yang berakar pada kepercayaan Mithraic, organ-organ seksual dan hubungan seksual sepatutnya tidaklah tabu dan dilakukan di tempat tersembunyi; akan tetapi hendaknya dipertontonkan secara terbuka.

Namun Tuhan berkehendak lain. Lava gunung Vesuvius menghapuskan keseluruhan kota tersebut dari peta bumi dalam waktu sekejap. Yang paling menarik dari peristiwa ini adalah tak seorang pun mampu meloloskan diri dari keganasan letusan Vesuvius. Hampir bisa dipastikan bahwa para penduduk yang ada di kota tersebut tidak mengetahui terjadinya bencana yang sangat sekejap tersebut, wajah mereka terlihat berseri-seri.

Bahkan ada jasad dari satu keluarga yang sedang asyik menyantap makanan sempat terawetkan pada detik-detik tersebut. Selain itu, banyak sekali pasangan-pasangan yang tubuhnya terawetkan berada pada posisi (maaf) sedang melakukan persetubuhan. Yang paling mengagetkan adalah terdapat sejumlah pasangan yang berkelamin sama, dengan kata lain mereka melakukan hubungan seks sesama jenis (homoseksual). Ada pula pasangan-pasangan pria dan wanita yang masih ABG. Hasil penggalian fosil juga menemukan sejumlah mayat yang terawetkan dengan raut muka yang masih utuh.

Secara umum, raut-raut muka mereka menunjukkan ekspresi keterkejutan, seolah bencana yang terjadi datang secara tiba-tiba dalam sekejab.” [Harun Yahya, Pompeii: Mengulang Sejarah Kaum Luth]

Reruntuhan Pompeii bahkan memberikan perspektif yang unik bagi arkeolog tentang kehidupan Romawi. Kita bisa mendapatkan gambaran yang jelas tentang sebuah kota dalam krisis, karena abu telah mengawetkan segalanya begitu baik, termasuk keluarga yang berkumpul bersama-sama, penjahat yang masih dalam rantai, hewan yang ditinggalkan berdiri dan lukisan dinding yang sempurna seperti diawetkan.  . [Indopos, Jumat, 4 Juli 2014, Ini Dia, Penemuan-Penemuan Peradaban yang Dianggap Penting]

“Meskipun ledakan gunung ini terjadi sekitar 2.000 tahun lalu, namun kami tidak tahu apa yang akan kami temukan, apakah jasad seorang anak laki-laki, seorang ibu atau bahkan seluruh anggota keluarga. Ini adalah arkeologi manusia bukan sekadar arkeologi,” tandas Giudice dikutip BBC. [ BBC,  5 April 2010, Fosil Warga Pompeii Dipamerkan]

Hujan batuan vulkanis dalam jumlah luar biasa itu menghantam kota dan mengakibatkan sebagian besar penduduk dan berbagai jenis hewan tewas seketika.

Akibat timbunan abu vulkanis, jasad manusia dan hewan yang menjadi korban terawetkan selama ribuan tahun dan sekarang menjadi subyek sebuah pameran Museum Antiquarium de Boscoreale, dekat reruntuhan kota Pompeii.

Sebagian dari sisa-sisa kerangka manusia dan hewan korban bencana itu diawetkan para ahli menggunakan lapisan campuran plester khusus untuk merekonstruksi sosok mereka semasa hidup.

“Hingga kini, jasad-jasad warga Pompeii masih tersebar di sekitar kota ini atau di berbagai museum di seluruh dunia. Namun belum pernah dipamerkan secara bersamaan,” kata Grete Stefani, penyelenggara pameran arkeologi temuan Kota Pompeii yang hilang.* [ BBC,  5 April 2010, Fosil Warga Pompeii Dipamerkan]

Aspek ini menunjukkan bahwa penghancuran Pompeii mirip dengan peristiwa-peristiwa adzab yang dikisahkan dalam Al-Qur’an, sebab Al-Qur’an secara khusus mengisyaratkan “pemusnahan secara tiba-tiba” ketika mengisahkan peristiwa yang demikian ini. Misalnya, “penduduk suatu negeri” sebagaimana disebut dalam surat Yaasiin ayat 13 musnah bersama-sama secara keseluruhan dalam waktu sekejap. Keadaan ini diceritakan sebagaimana berikut:

إِن كَانَتْ إِلاَّ صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ خَامِدُونَ

“Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.” (QS. Yaasiin, 36:29)

Di surat Al-Qamar ayat 31, pemusnahan dalam waktu yang singkat kembali disebut ketika kehancuran kaum Tsamud dikisahkan:

إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ صَيْحَةً وَاحِدَةً فَكَانُوا كَهَشِيمِ الْمُحْتَظِرِ

“Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.”

Demikianlah tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu Wata’ala. Semoga kita bisa merenunginya.*

Rep: Panji Islam
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Sekolah, Mercusuar Ahli Ilmu di Kalangan Kaum Muslimin

Sekolah, Mercusuar Ahli Ilmu di Kalangan Kaum Muslimin

Yang Perlu Diketahui: Apa Perang Suriah, Rezim Bashar dan Keterlibatan Syiah? [2]

Yang Perlu Diketahui: Apa Perang Suriah, Rezim Bashar dan Keterlibatan Syiah? [2]

Apa Rasanya Jadi Muslim Uighur?

Apa Rasanya Jadi Muslim Uighur?

Fatwa Tarjih Muhammadiyah Tentang Ucapan Selamat Natal dan Perayaan Natal Bersama

Fatwa Tarjih Muhammadiyah Tentang Ucapan Selamat Natal dan Perayaan Natal Bersama

Pengakuan Buzzer Ahok pada Media Inggris: “Saya Merasa Jijik dengan Diri Sendiri” [1]

Pengakuan Buzzer Ahok pada Media Inggris: “Saya Merasa Jijik dengan Diri Sendiri” [1]

Baca Juga

Berita Lainnya