Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Ragam

Dunia, Islam Bukan Barang Baru di Eropa! [2]

the washington post
Muslim di Eropa
Bagikan:

Sambungan artikel PERTAMA

DI ABAD ke-21 ini, Islam bukan agama yang asing bagi Eropa. Jerman dan Prancis memiliki jumlah Muslim terbesar di Eropa, masing-masing 4,8 juta serta 4,7 juta jiwa. Negara-negara seperti Bosnia-Herzegovina dan Kosovo bahkan didominasi oleh para Muslim. Di Polandia, agama Islam telah muncul di sensus negara tersebut sejak abad ke-17 sejak kedatangan etnis Tatar.

Terlepas dari agama apa yang dipeluk para imigran, masalah yang dihadapi Eropa adalah peningkatan jumlah manusia yang masuk ke teritori mereka. Tahun 2015 menandai peningkatan 51% jumlah imigran yang datang ke Eropa, dibandingkan dengan tahun sebelumnya, menandakan lonjakan pendatang lebih besar dari daerah manapun di dunia.

Alasan yang paling sering digunakan oleh anti-imigran Muslim adalah para orang asing, terutama Muslim, gagal melakukan asimilasi dengan cara hidup orang Eropa yang didominasi pemeluk Kristiani. Kerusuhan di daerah yang didominasi imigran di Paris digunakan sebagai bukti. Ketakutan Eropa akan anak-anak muda Muslim yang akan mengambil posisi-posisi strategis di lapangan pekerjaan akan membawa pandangan ekstrim agamanya juga muncul, meski sebenarnya alasan anak-anak muda ini pindah ke Eropa demi menghindari pandangan ekstrim tersebut. Serangan teroris di Prancis, Belgia, Denmark, dan tempat-tempat lain juga tidak menolong reputasi Islam.

Namun bagi Sezen Coskun, seorang imigran Turki generasi kedua yang lahir dan dibesarkan di Berlin, Jerman, masalah bukan terletak di imigran. Masalah terletak di penduduk asli Eropa. “Di negaraku, aku tidak dianggap sebagai orang Jerman, meski aku lahir dan tumbuh besar di sini. Aku bukan orang Turki-Jerman. Aku orang Jerman saja,” ujar Coskun. Wanita ini menabahkan, bahwa dirinya bangga akan pemerintahnya yang memutuskan untuk membantu ratusan ribu pengungsi dan migrant dari Timur Tengah, tetapi dirinya juga khawatir akan masa depan para pengungsi.

“Kita harus bertindak cepat dengan memilki program khusus. Kita harus mengajari mereka Bahasa Jerman, membantu mereka mendapatkan pekerjaan, serta memasukkan anak-anak mereka ke sekolah. Ini penting karena jika seseorang merasa tidak diterima atau tidak dibutuhkan oleh masyarakat, mereka akan merasa terasing, dan dari sini banyak masalah timbul,” ujar Coskun, yang turut mendirikan kelompok bernama Typisch Deutsch (Tipikal Jerman) yang memiliki tujuan untuk menunjukkan bahwa tidak penting latar belakang seseorang, asosiasi tipikal Jerman harus berubah.

Seperti telah dibeberkan, persepsi Eropa harus digeser. Karena sejarah telah mebuktikan bahwa Islam dapat tinggal di Eropa dan Eropa tetap menjadi benua yang damai. Jika ada seseorang seperti politisi Belanda Geert Wilders, misalnya, yang mengatakan bahwa dirinya menginginkan ‘lebih sedikit Islam’ di Eropa, maka dia menyangkal sejarahnya sendiri. Karena menuliskan sejarah Eropa tanpa menyertakan Islam adalah hal yang amat sulit dilakukan.* (berbagai sumber)

Rep: Tika Af'idah
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Invasi Iraq dan Kasus Pencurian Manuskrip

Invasi Iraq dan Kasus Pencurian Manuskrip

10 Negara Islam Ini Pernah Dijajah Prancis

10 Negara Islam Ini Pernah Dijajah Prancis

Mirip Xinjiang, Pemerintah Tajik Lakukan ‘Cuci-Otak’ Siswa Madrasah di Sekolah-Sekolah Tertutup [2]

Mirip Xinjiang, Pemerintah Tajik Lakukan ‘Cuci-Otak’ Siswa Madrasah di Sekolah-Sekolah Tertutup [2]

Ketahanan Pangan dalam Peradaban Islam (1)

Ketahanan Pangan dalam Peradaban Islam (1)

Inilah Yang Tidak Banyak Diketahui Orang tentang Hagia Sophia

Inilah Yang Tidak Banyak Diketahui Orang tentang Hagia Sophia

Baca Juga

Berita Lainnya