Jum'at, 28 Januari 2022 / 24 Jumadil Akhir 1443 H

Ragam

Dunia, Islam Bukan Barang Baru di Eropa! [1]

the washington post
Muslim di Eropa
Bagikan:

PADA acara talkshow-nya di stasiun TV Kabel HBO, Real Time, yang tayang tepat pada perayaan 14 tahun 9/11, Presenter Bill Maher mengungkapkan bahwa dirinya mengerti mengapa banyak Muslim yang meninggalkan kampung halamannya, terutama mereka yang berasal dari Suriah dan Iraq.
Namun Maher melanjutkan dengan mempertanyakan haruskah mereka datang ke Eropa yang mengklaim moderat dan toleran dan dikemudian hari akan membuat Eropa menjadi tidak terlalu moderat dan toleran.

Pernyataan presenter yang juga mendukung pelegalan marijuana dan pernikahan sesama jenis tersebut disambar oleh bintang tamunya, Linda Chavez.

Mantan penasehat Presiden Ronald Reagan itu setuju dengan ketakutan Maher, dengan mengatakan bahwa orang Eropa (mengimplikasikan mereka yang berkulit putih dan memeluk agama Kristen) tidak memiliki banyak anak sementara para imigran yang datang ke Eropa cenderung beranak banyak. Chavez menuturkan, suatu hari nanti mereka akan memenuhi populasi Eropa, namun mereka tetap tidak mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Eropa. Mereka tetap akan menjadi Muslim Timur-Tengah, dan akan membangun ‘Little Syria’ mereka sendiri dan tidak berkumpul dengan orang Eropa lainnya.

Apa yang Maher dan Chavez obrolkan sebenarnya sama pentingnya dengan perdebatan dua anak tentang apakah coklat atau vanilla rasa es krim yang paling enak. Para imigran dari Suriah dan Iraq, serta negara-negara Timur Tengah lainnya bukan orang-orang Muslim pertama yang datang ke Eropa. Sejarah membuktikan bahwa Islam dapat tumbuh subur di Eropa tanpa menghilangkan ‘identitas’ orang-orang Eropa di sekelilingnya.

Berabad-abad yang lalu, Islam telah datang ke Eropa jauh sebelum nenek moyang Chavez dan Maher dilahirkan (Chavez adalah nama Spanyol sementara Maher keturunan Irlandia). Jejak-jejak peninggalan Islam masih dapat ditemui di Eropa, yang paling jelas dapat ditemui di Spanyol.

Selat yang membatasi Spanyol dan Maroko misalnya, disebut Selat Gibraltar. Gibraltar sendiri asimilasi dari kata ‘Jabal Tariq’, yang dinamai untuk menghormati Tariq bin Ziyadh, Jendral Bani Umayyah yang datang ke Spanyol untuk menaklukkan Kerajaan Visigothic, sebuah kerajaan yang berkuasa di Prancis dan Semenanjung Iberia, yang merupakan turunan Kerajaan Roman Barat.

Daerah-daerah tersebut kini menjadi Spanyol, Portugal, Prancis, Andorra, dan Monako. Dipimpin oleh Tariq, Bani Umayyah menaklukkan sebagian besar wilayah tersebut dan hanya menyisakan utara Spanyol.

Salah satu tempat wisata paling terkenal di Spanyol, Alhambra, adalah benteng peninggalan masa penaklukkan Islam. Terletak di Granada, Provinsi Andalusia, Alhambra berasal dari kata ‘al-Hamra’, yang berarti ‘merah’. Kastil sekaligus benteng ini berdiri di atas bukit Al-Sabika, dan telah berdiri sejak abad ke-9. Tempat ini pertama kali dipugar oleh Sawwar bin Hamdun, kala itu masih berupa sebuah benteng. Baru pada abad ke-13, raja Dinasti Nasrid yang pertama, Muhammad bin Al-Hamar yang menjadikannya tempat tinggal keluarga kerajaan. Sejak saat itu, bagian-bagiannya ditambah terus menerus hingga masa pemerintahan Mohammad V.

Tidak hanya Spanyol, Muslim juga pernah menduduki Sisilia. Pulau milik Italia yang terkenal akan kisah mafia-nya tersebut pernah dikuasai oleh Islam selama 150 tahun sejak abad ke-9. Pada abad ke-11, Roger I merebut kekuasaan dari Islam, namun para Muslim masih diperbolehkan tinggal di Sisilia. Roger I meninggal pada 1101, dan digantikan oleh anaknya, Simon yang masih berusia 8 tahun. Sayangnya, Simon berumur pendek dan meninggal pada usia 12 tahun. Simon digantikan adiknya, Roger II yang memerintah hingga kematiannya di usia 58 tahun. Sampai masa pemerintahan Roger II, para Muslim masih hidup tenteram di Sisilia.

Selama beratus-ratus tahun, Inggris punya hubungan erat dengan Islam. Sebelum United Kingdom lahir, Raja Offa of Mercia di daerah Anglo-Saxon pernah menerbitkan koin dengan tulisan “Laa Illa ha Ilallah” pada abad ke-8. Koin yang masih bisa dilihat di British Museum tersebut tidak diketahui motif penerbitannya. Ada yang menyatakan Raja Offa telah beragama Islam, ada pula yang menyebutkan bahwa koin tersebut dicetak untuk memperlancar bisnis dengan saudagar Timur Tengah. Ada pula dokumen-dokumen yang menunjukkan seorang raja Inggris pada abad ke-13 sering berkorespondesi dengan Sharif Maroko. Bahkan pada satu titik, raja tersebut mendiskusikan kemungkinan untuk menikahkan seorang putrinya, serta diberi tawaran untuk masuk Islam.

Raja yang dimaksud kemungkinan besar adalah Raja John yang dikucilkan oleh Paus Vatikan saat itu dan mencari bantuan ke Maroko karena ancaman dari Prancis. Sejarah juga mencatat bahwa banyak bangsawan Inggris yang memeluk agama Islam. Lord Stanley of Alderley, Lord Headley, serta Lady Khalida Hamilton-Buchanan adalah segelintir contohnya.* (dari berbagai sumber) Bersambung

Rep: Tika Af'idah
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

politbiro

“Bau Amis” Teror Komunis (3): Menginjak-injak al-Qur’an

India Mengkambing Hitamkan Muslim Terkait Penyebaran Virus Corona

India Mengkambing Hitamkan Muslim Terkait Penyebaran Virus Corona

Muslim India Warga Kelas Kedua

Muslim India Warga Kelas Kedua

Astaghfirullah,  Ka’bah Dihancurkan

Astaghfirullah, Ka’bah Dihancurkan

Mirip Xinjiang, Pemerintah Tajik Lakukan ‘Cuci-Otak’ Siswa Madrasah di Sekolah-Sekolah Tertutup [2]

Mirip Xinjiang, Pemerintah Tajik Lakukan ‘Cuci-Otak’ Siswa Madrasah di Sekolah-Sekolah Tertutup [2]

Baca Juga

Berita Lainnya