Sabtu, 27 Maret 2021 / 13 Sya'ban 1442 H

Ragam

Spesialis Mata dalam Budaya Islam [2]

Uraian medis kerja mata dari abad ke-9 karya Hunayn ibn Ishaq
Bagikan:

Sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Dr Ibrahim Shaikh

Ammar bin Ali Al-Mosuli

AMMAR berasal dari Mosul, Iraq, mulai terkenal sekitar tahun 1010. Beliau menulis sebuah buku berjudul Kitab al-Muntakhab fi ‘Ilaj Al-‘ayn (Buku Tentang Macam-Macam Pengobatan Penyakit Mata) dan biasanya membuka praktek di Mesir. Bukunya berisi tentang anatomi, patologi, dan mendeskripsikan enam kasus operasi katarak dalam sejarah bahkan sebuah kasus mengenai optik neuritis. Ammar mendiskusikan tentang 48 penyakit mata dalam sebuah tulisan pendek yang hanya terdiri atas 1500 kata. Manuskrip ini dapat ditemukan di Perpustakaan Escorial dekat Madrid, Spanyol dengan label nomor 894.  Meskipun lebih pendek dari buku Bin Isa, bukunya mengandung lebih banyak tulisan serta observasi orisinil.

Sampai Abad ke-20, tulisan Ammar hanya tersedia dalam bahasa Arab dan bahasa Ibrani yang terjemahannya dikerjakan oleh seorang Yahudi bernama Nathan pada abad-ke13. Buku itu kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman oleh Profesor Julius Hirschberg pada 1905. Ammar Bin Ali Al-Mosuli adalah seorang penemu operasi katarak dengan metode suction, menggunakan sebuah jarum berongga yang dimasukkan melalui limbus (dimana kornea bertemu dengan conjunctiva). Ini adalah metode operasi paling canggih pada masa itu, dan sampai hari ini metode tersebut masih menjadi salah satu opsi prosedur operasi katarak. Metode operasi yang umum dikerjakan saat itu adalah ‘couching’, atau mengganti lensa mata dengan kasar, ada sejak zaman Babylonia, namun metode ini jelas berefek dan beresiko tinggi.

Mata_islam2a

Zarrindast (Tangan Emas)

Abu Ruh Muhammad Ibnu Mansur Bin Abdullah, atau dikenal juga dengan Al-Jurjani, seorang dokter bedah handal dari Persia yang terkenal sekitar tahun 1088 masehi, menulis sebuah buku berjudul Nur-ul ‘Uyun (Cahaya Mata). Buku tersebut yang sebagian besar tulisan aslinya dan bukannnya kutipan, ditulis selama masa kepemimpinan Sultan Malikshah dan terdiri atas 10 bab. Dalam tujuh bab, dirinya menjelaskan sekitar 30 metode operasi mata, dan tiga diantaranya adalah prosedur operasi katarak. Beliau juga membahas anatomi dan fisiologi mata dan penyakit-penyakitnya. Salah satu bab dikhususkan untuk jenis-jenis penyakit mata yang jelas terlihat seperti katarak, trachoma, kelopak, serta penyakit di kornea dan sclera (bagian putih mata).

Bab lainnya menjelaskan penyakit-penyakit yang lebih tersembunyi, contohnya seperti kelumpuhan saraf ketiga, kelainan darah, keracunan, dsb. Buku tersebut juga menyebutkan penyakit-penyakit yang dapat dan tidak dapat disembuhkan, dan cara perawatannya. Satu bagian besar dalam buku tersebut membahas operasi mata, serta satu bagian lainnya memberikan obat-obat yang disarankan oleh ahli mata tersebut.

Nama lainnya yang disebutkan Hirschberg dalam kuliahnya adalah Abu Muttarif dari Sevilla, Spanyol yang terkenal di abad ke-11. Selain seorang ahli mata, Abu Mutarrif juga seorang Wazir atau Menteri. Sayangnya, seluruh tulisannya telah hilang.

Al-Ghafiqi

Muhammad Ibn Qassoum Ibn Aslam Al-Ghafiqi, atau cukup dikenal sebagai Al-Ghafiqi, juga berasal dari Spanyol. Beliau menulis buku di abad ke-12 berjudul Al-Murshid fi’ ‘l-Kuhl (Petunjuk Tentang Ophthalmology). Bukunya tidak hanya terbatas pada mata, namun juga memberikan detil mengenai kepala dan penyakit pada otak. Al-Ghafiqi menggunakan risalat Ammar sebagai referensi bukunya. Kini, mereka yang mengunjungi Kordoba dapat melihat patung Muhammad Al-Ghafiqi, sebuah penghormatan dari penduduk Kordoba untuk seorang ahli mata Muslim yang luar biasa. Patung yang sama, namun menggunakan turban, dapat dilihat di sebuah taman di dalam sebuah rumah sakit umum di Kordoba, Spanyol. Patung tersebut dipasang pada 1965 untuk memperingati 800 tahun meninggalnya Al-Ghafiqi.* (bersambung)

Dr Ibrahim Shaikh seorang praktisi medis. Anggota Manchester Medical Society, Manchester, Inggris. Artikel dimuat di laman www.muslimheritage.com

Rep: Tika Af'idah
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Protokol Kesehatan dalam Peradaban Islam, sebelum Covid-19

Protokol Kesehatan dalam Peradaban Islam, sebelum Covid-19

Tahanan Penjara Teluk Guantanamo yang Nasib mereka Disegel oleh Ciutan Twitter Trump [2]

Tahanan Penjara Teluk Guantanamo yang Nasib mereka Disegel oleh Ciutan Twitter Trump [2]

Siapa Mohammad Dahlan, yang Diburu Turki dengan Imbalan 4 Juta Lira? (1)

Siapa Mohammad Dahlan, yang Diburu Turki dengan Imbalan 4 Juta Lira? (1)

12 Hari di Xinjiang: Bagaimana Pengawasan Negara Membanjiri Kehidupan Sehari-hari [1]

12 Hari di Xinjiang: Bagaimana Pengawasan Negara Membanjiri Kehidupan Sehari-hari [1]

Kisah Seorang Yahudi: Sendirian Berdemo Bela Uighur

Kisah Seorang Yahudi: Sendirian Berdemo Bela Uighur

Baca Juga

Berita Lainnya