Selasa, 7 Desember 2021 / 2 Jumadil Awwal 1443 H

Analisis

Rekam Jejak Penaklukan Salahudin Al Ayyubi atas Baitul Maqdis Palestina

Bagikan:

Hidayatullah.com — Baitul Maqdis, kota suci bagi penganut tiga agama monoteistik besar, masih memiliki jejak pemimpin Muslim, Salahudin Yusuf bin Ayyub atau kita kenal sebagai Salahudin Al Ayyubi, Sultan Mesir dan Suriah, yang mengalahkan pasukan Kristen di Pertempuran Hattin dalam perang salib dan hasilnya, merebut kekuasaan atas Baitul Maqdis atau Yerusalem pada 1187 setelah lebih dari 90 tahun penjajahan.

Umat Islam di seluruh dunia menganggap pembebasan Baitul Maqdis ini sebagai peristiwa terbesar dalam sejarah Salahudin Al Ayyubi. Dia memulihkan keseimbangan agama, sosial, dan politik atas kota suci itu.

“Dia mempunyai rencana strategis untuk memulihkan identitas demografis dan sosial kota tersebut. Yang terbukti pada hari ini dengan hadirnya keluarga tentara yang bertempur dengannya. Seperti keluarga Maroko, Kurdi, masyarakat Afrika, dan lainnya,” kata Abdallah Marouf, profesor Sejarah Islam di Universitas 29 Mei Istanbul.

Para keluarga tersebut saat ini masih menjadi bagian penting dan asli dari masyarakat umum di Baitul Maqdis.

Salahudin memperkuat posisi politiknya di kota dengan cara pandang Islam, pada kekuasaan tertingginya, menyatukan umat Islam dari Mesir hingga Arab. Ia memanfaatkan kelihaian politik dan militer yang membantunya merasakan kemenangan bersama pasukannya.

“Intelijen politik Salahudin Al Ayyubi menekankan pentingnya politik di kota itu, bersama dengan simbolisme agama di kalangan umat Islam. Hal itu masih bisa terlihat dari semua periode sejarah melewati kota dari Ayyubiyah hingga sejarah modernnya,” tambah Marouf.

Salahudin Al Ayyubi juga memulihkan keseimbangan sosial dan hubungan damai antar pemeluk agama di Baitul Maqdis.

“Keluarga Joudeh yang beragama Islam masih menyimpan kunci Gereja Makam Suci yang menunjukkan tangga sosial di kota tersebut setelah mengalami periode berdarah selama Perang Salib,” tambahnya.

Mimbar Pemberian Salahudin Al Ayyubi

Pembebasan Baitul Maqdis masih menjadi peristiwa bersejarah yang sangat penting dan dampaknya masih jelas dalam ingatan masyarakat. Khususnya di situs arkeologi Utsmaniyyah di dalam Masjid Al-Aqsha.

Utsmaniyyah membangun kubah di dalam pekarangan kompleks Masjid Al-Aqsha dan menamakannya kubah Yusuf bin Ayyub. Selain itu, Utsmaniyyah juga memasang manuskrip dari pemerintahannya di tembok-tembok kota selama rekonstruksi di era Utsmaniyyah.

Mimbar Nurudin Zangi yang di bawa Salahudin dari Damaskus ke Baitul Maqdis setelah penaklukannya adalah tonggak paling penting dari kemenangan umat Islam. Hingga akhirnya mimbar itu di bakar pada tahun 1969 oleh Denis Michael Rohan.

“Pendudukan ‘Israel’ terus menerus berusaha untuk melenyapkan simbol apapun yang mengingatkan warga Palestina akan kemenangan Salahudin, dan saya kira itu adalah salah satu motif utama Rohan membakar mimbar tersebut,” kata Marouf.

Ia menyebutkan banyak peninggalan bersejarah lain dari Ayyubiyah yang menjadi target penghancuran ‘Israel’. Ada pula yang peninggalan yang kemudian di ubah menjadi kuil Yahudi.

“Pada tahun 1967, pasukan ‘Israel’ menghancurkan lingkungan Maroko di sebelah barat Masjid Al-Aqsha yang di bangun Salahudin. Lingkungan sebagai Wakaf bagi tentara yang datang bersamanya dari Maroko untuk membebaskan Baitul Maqdis,” tambahnya.

Entitas Zionis kemudian menyita bagian yang di wakafkan kepada keluarga Kurdi di utara Masjid Al-Aqsha. Bagian itu kemudian di ubah menjadi Tembok Ratapan kecil, sebutan yang umum di kalangan pemukim ilegal Yahudi ‘Israel’,

Marouf meyakini bahwa saat ini adalah masa terburuk Baitul Maqdis, karena upaya terus menerus Zionis ‘Israel’ untuk menghapus peninggalan Islam dan menyematkan ingatan baru padanya, berbeda dari apa yang telah berusaha dilestarikan kota itu selama sejarahnya.

“Entitas Pendudukan secara konsisten melenyapkan identitas Kristen-Islam Arab yang berumur panjang. Penduduk kota menyadari rencana ‘Israel’ untuk membuat pijakan permanen bagi pemukim ekstremis di situs-situs suci kota melalui serbuan konsisten mereka ke dalam Masjid Al-Aqsha dan aktivitas pemukiman untuk merebut banyak Wakaf Kristen,” catat Marouf.* Disadur dari Anadolu Agency (03/10/2021)

Rep: Nashirul Haq
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Dari Kamp ke Penjara: Bencana HAM Xinjiang Berikutnya

Dari Kamp ke Penjara: Bencana HAM Xinjiang Berikutnya

Tiga Skenario Pertempuran Idlib

Tiga Skenario Pertempuran Idlib

UEA, Antek AS dan Israel di Tanah Arab

UEA, Antek AS dan Israel di Tanah Arab

Turki Uighur Menlu China

Solidaritas Global Virus Corona dan Genosida Uighur

Pemimpin Arab dan Masalah Umat

Pemimpin Arab dan Masalah Umat

Baca Juga

Berita Lainnya