Rencana Pembongkaran Masjid di China ‘Ancam Perdamaian’

Laporan badan HAM PBB memperkirakan sekitar 1 juta warga Uighur ditahan di kamp "pendidikan ulang"

Rencana Pembongkaran Masjid di China ‘Ancam Perdamaian’
AP
Masjid Jami' Weizhou di Uighur yang dikabarkan akan dirobohkan komunis China

Terkait

(Halaman 2 dari 2)

Sambungan artikel PERTAMA

Dalam pidato Kongres Partai Komunis China (CCP) yang ke-19 pada bulan Oktober 2017, Xi menyatakan partai harus “menegakkan prinsip bahwa agama di China harus berorientasi kepada China dan memberikan arahan aktif kepada agama agar mereka dapat beradaptasi ke dalam masyarakat sosialis”.

Setelah pernyataan Xi, pejabat setempat di seluruh China melakukan penggerebekan menyeluruh terhadap berbagai praktik keagamaan.

Operasi ini paling dirasakan masyarakat Muslim China.

Contoh paling jelas dari kebijakan ini terjadi di Daerah Otonomi Uighur Xinjiang di barat laut.

Sebuah laporan badan hak asasi manusia PBB baru-baru ini memperkirakan sekitar satu juta warga Uighur ditahan di kamp “pendidikan kembali” akibat dituduh negara-partai sebagai ekstrimis agama, karena mereka memakai hijab, pergi ke luar negeri, atau berbagi ayat Al-Quran di media sosial.

Untuk menjawab desakan dari luar negeri agar menghentikan penggerebekan, pemerintah China menegaskan para pengkritik asing tidak sepenuhnya memahami keadaan.

Sekitar satu juta warga Uighur ditahan di kamp “pendidikan kembali” akibat dituduh negara-partai sebagai ekstrimis agama

Pada tanggal 13 Agustus, di tengah meningkatnya tekanan masyarakat dunia, Global Times, Koran komunis China,  menyatakan “media Barat seharusnya memeriksa keadaan secara langsung sebelum menuduh China”.

Baca: Home Stay: ‘Deradikalisasi dan Indoktrinasi’ ala Komunis China pada Keluarga Muslim

Provinsi Muslim China panutan

Meskipun operasi paling keras dilakukan di Xinjiang, masyarakat Hui -terutama yang berada di Ningxia- mulai merasakan tekanan.

Sejumlah laporan menyebutkan operasi penghancuran Islamisasi lewat pengrusakan kubah masjid gaya Arab muncul dari Ningxia setahun lalu.

Orang Hui di China

Kelompok etnis terbesar ketiga China, sekitar 10 juta penduduk, sebagian besar di barat laut

Kebanyakan Muslim Sunni, kelompok Islam mayoritas dan sebagian besar berbahasa Mandarin.

Hampir semua adalah keturunan pedagang Jalan Sutra, yang menikah campur dengan kelompok Mongol dan China Han

Beijing lebih bisa menerima Hui dibandingkan Uighur, kelompok yang konfliknya dengan pemerintah pusat banyak didokumentasikan.

Masjid Besar di Weizhou dengan gaya Arabnya menjadi sasaran operasi ini.

Baca: Tahanan Muslim di China Dipaksa Makan Daging Babi

Dengan mengancam masyarakat Islam di Weizhou, pemerintah China berisiko memicu tindakan balasan dari sebuah masyarakat yang seharusnya menjadi salah satu contoh keberhasilannya.

Slogan propaganda di provinsi Ningxia: “Sebuah keluarga nasional bersatu, berjabat tangan membangun “Tongxin baru”.

Sama seperti kebanyakan daerah China barat lainnnya, pembangunan kota Weizhou tertinggal dibandingkan Pantai Timur yang lebih makmur. Pada tahun 1990-an, Weizhou mengalami kemiskinan dan masalah penyalahgunaan heroin. Pengumuman yang ditaruh di tempat umum masih mendorong usaha pemberantasan kecanduan.

Kebijakan Pembangunan Barat Besar-besaran pada permulaan tahun 2000-an menyalurkan sumber daya ke kota seperti Weizhou, dan dengan dukungan ekonomi ini, penduduk kota kecil Hui bangkit dari kemiskinan dan menumbuhkan kembali warisan Islamisnya.

Penduduk setempat menjadi wiraswastawan dan menjadi cukup makmur.

Baca: Netizen Marah Dugaan Pernikahan Paksa Muslimah Uighur dengan Pria China

Masyarakat mendirikan sekolah untuk anak miskin agar dapat membaca Al-Quran.

Warga mulai salat secara teratur. Salah satunya mengatakan kepada saya, “Penduduk hidup dengan sederhana. Tidak ada gedung tinggi, tetapi warga setempat sebenarnya cukup makmur. Kehidupan disini nyaman.”

Jauh dari penolakan ekstremisme pemerintah negara-partai, masyakat Hui di Weizhou berkembang berdasarkan inisiatif pembangunan di bawah pimpinan negara.

Ketaatan beragama masyarakat berkembang bersamaan dengan ekonominya. Penduduk kota memandang diri mereka sebagai contoh ketaatan Islamis dan patriotisme China.

Dengan mempertanyakan mereka, Partai Komunis China berisiko memicu penentangan di antara kelompok penduduk yang sebenarnya mereka tidak dapat korbankan.*

Dr David R. Stroup adalah pengajar politik China, nasionalisme dan poltik kesukuan di Department of International and Area Studies, University of Oklahoma, Amerika Serikat

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !