Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Analisis

Masyarakat Melayu Pendatang di Tanah Melayu?

Bagikan:

Sambungan artikel PERTAMA

Sewaktu kesultanan Aceh mencapai puncak kegemilangannya pada kurun keenam belas, jajahan takluknya amat luas melebar dari Sumatera ke Tanah Melayu mencakupi negeri-negeri Kedah, Pahang dan Johor.

Fakta ini jelas menunjukkan bahawa sebelum negara-negara moden seperti Malaysia dan Indonesia diwujudkan di Nusantara, orang-orang Melayu bebas untuk mengembara dan meneroka bukan sekadar daerah di dalam Tanah Melayu, malah kawasan di luar Tanah Melayu.

Ini karena keseluruhan Kepulauan Melayu dianggap sebagai wilayah bagi orang-orang rumpun bangsa Melayu.

Era penjajahan

Garis pembahagian Kepulauan Melayu yang pertama telah dilukis oleh pihak Inggris dan Belanda menerusi Perjanjian Inggris-Belanda 1824, yang dimaterai di London, secara langsung mengasingkan Tanah Melayu dengan Pulau Sumatera dan Pulau Jawa.

Perjanjian ini meletakkan Tanah Melayu dan Singapura bawah pengaruh Inggris. Walaupun begitu, Inggris tidak menjadikan kesultanan-kesultanan yang wujud di Tanah Melayu sebagai jajahan takluknya tetapi diberikan taraf negeri naungan, tanpa melucutkan sepenuhnya kedaulatan sultan-sultan yang bertakhta di negeri-negeri ini.

Memang benar terdapat sedikit golongan dari komuniti China, iaitu golongan Baba Nyonya, yang telah menganggap Tanah Melayu sebagai tanah airnya.

Baca:  Indonesia-Malaysia bentuk keseragaman bahasa Melayu 

Namun begitu, perpindahan besar-besaran kaum China ke Tanah Melayu berlaku pada kurun kesembilan belas apabila mereka dibawa masuk oleh Inggris dari provinsi selatan China, rantau yang sememangnya terletak di luar Kepulauan Melayu, untuk bekerja sebagai kuli dan buruh kasar di lombong-lombong bijih timah yang kebanyakannya terletak di Selangor, Perak dan Negeri Sembilan.

Pendatang-pendatang ini masuk ke Tanah Melayu dengan satu tujuan – peluang pekerjaan – tanpa niat untuk menetap selama-lamanya di Tanah Melayu.

Orang-orang India juga dibawa masuk ke Tanah Melayu dari jajahan takluk Inggris di India dan Ceylon sebagai buruh dan kuli.

Kebanyakan imigran ini adalah lelaki dewasa bujang yang memang tidak berniat untuk menetap di Tanah Melayu kerana mereka mempunyai keluarga yang menunggu di India dan Sri Lanka.

Imigrasi secara besar-besaran ini, tidak seperti penghijrahan orang-orang Melayu anak dagang, tidak dilakukan secara sukarela kerana mereka dibawa masuk oleh pemerintah Inggris untuk mengusahakan lombong-lombong bijih timah dan perkebunan getah di Tanah Melayu.

Imigran-imigran ini sudah tentunya mempunyai bahasa, adat, agama dan budaya yang berbeza dengan orang-orang Melayu di Tanah Melayu pada ketika itu.

Kedudukan orang-orang China dan India di zaman tersebut tidak ubah seperti pekerja-pekerja migran yang dibawa masuk dari Indonesia dan Bangladesh di Malaysia pada hari ini kerana mereka tidak dianggap rakyat Duli Yang Maha Mulia Paduka Sultan mahupun rakyat negeri-negeri Tanah Melayu.

Baca: Ulama dan Kekuasaan: Sejarah Melayu 

 Apakah orang-orang Melayu juga pendatang?

Malaysia adalah negara pewaris bagi Inggris Tanah Melayu dan Indonesia pula mewarisi wilayah-wilayah yang pernah menjadi sebahagian daripada Hindia Timur Belanda.

Keadaan kini tidak sama lagi seperti di waktu zaman penjajahan.

Keberadaan batas internasional memisahkan Malaysia dan Indonesia berarti orang-orang Melayu atau bangsa rumpun Melayu tidak lagi boleh berhijrah dari satu kawasan ke kawasan lain di dalam Kepulauan Melayu tanpa rintangan.

Sebelum kemerdekaan Hindia Timur Belanda pada tahun 1945 dan Inggris Tanah Melayu pada tahun 1957, batas internasional yang memisahkan kedua wilayah ini masih belum ada.

Pada ketika itu, seluruh Kepulauan Melayu dianggap sebagai wilayah bagi bangsa rumpun Melayu.

Karena itu, bagaimanakah orang Melayu dapat disebut sebagai imigran di dalam wilayahnya sendiri?

Terdapat orang-orang Melayu Malaysia yang berketurunan Indonesia. Namun begitu, adalah tidak tepat untuk melabel mereka sebagai ‘pendatang Indonesia’ karana leluhur mereka pada waktu itu cuma berhijrah dari satu kawasan ke kawasan yang lain yang masih dalam Kepulauan Melayu.

Indonesia masih lagi belum ada. Mereka tentusaja juga orang-orang Kepulauan Melayu.

Selain itu, tidak ada imigrasi formal atau kontrol pabean yang diberlakukan oleh pemerintah Inggris, Belanda, atau bahkan Melayu pada waktu itu.

Kesimpulan

Orang-orang Melayu Malaysia tidak tepat dilabelkan sebagai pendatang walaupun terdapat sebahagian daripada mereka yang berasal dari Indonesia.

Berbeda dengan imigran China dan India yang dibawa masuk ke Tanah Melayu, orang-orang Melayu berhijrah secara sukarela dengan niat untuk berada di Malaya sebelum perbatasan internasional yang memisahkan Malaysia dan Indonesia diwujudkan.

Tanah Melayu juga sememangnya terletak secara geografi, di Semenanjung Melayu dalam rantau Kepulauan Melayu. Mana mungkin sesuatu kaum itu wajar digelar pendatang di wilayahnya sendiri.

Menjelang kemerdekaan, orang-orang Melayu menerima kaum-kaum China dan India sebagai rakyat Persekutuan Tanah Melayu yang merdeka, dengan syarat hak-hak keistimewaan orang-orang Melayu sebagai  pribumi dihormati dan diakui sepenuhnya oleh masyarakat non pribumi.

Ini adalah pendekatan yang diambil oleh pemimpin-pemimpin pada ketika itu yang sehingga kini menjamin kestabilan politik, ekonomi dan sosial negara Malaysia.

Walaupun orang-orang China dan India di Malaysia pernah menjadi imigran pada zaman penjajahan, orang-orang Melayu kini perlu menerima yang kaum non pribumijuga adalah teman senegara.

Tidak wajar bagi orang-orang Melayu untuk menganggap mereka pendatang secara berterusan kerana mereka adalah rakyat Malaysia.

Baca: Muslim Melayu Kehilangan Keterampilan untuk

Sementara itu, kaum non pribumi perlu menghormati hak istimewa orang-orang Melayu dan   pribumi yang termaktub dalam Perlembagaan Persekutuan dan hak ini tidak boleh dipersoalkan sewenang-wenangnya.

Mereka juga harus menghormati Rukun Negara dengan mempelajari dan menghormati Bahasa Melayu, bahasa yang diauki sebagai bahasa kebangsaan dalam Konstitusi Federal.

Adalah amat menyedihkan sehingga kini ada rakyat Malaysia yang tidak fasih berbahasa Melayu.

Malah, ada wakil rakyat sendiri yang kurang fasih berbahasa Melayu seolah-olah mereka tidak lahir dan dibesarkan di Malaysia.

Rakyat Malaysia perlu senantiasa menghormati antara satu sama lain agar kegemilangan Sriwijaya, Majapahit ataupun Malaka dapat dikembalikan di zaman moden ini menerusi negara kita yang tercinta, Malaysia.

Bak kata-kata Prof Emeritus Tan Sri Dr Khoo Kay Kim:

“Generasi muda di negara ini perlu sadar yang mereka milik sebuah negara bangsa dan dengan itu perlu menghormati sejarahnya.“

Penulis dosen di Universiti Sains Islam Malaysia dan profesor hokum di Far Eastern Federal University, Vladivostok, Rusia.Artikel dimuat di Malaysiakini

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

97 Tahun setelah Ataturk Mendirikan Sekularisme Turki

97 Tahun setelah Ataturk Mendirikan Sekularisme Turki

Hagia Sophia: Ataturk, Orang Kaya Amerika dan Seorang Homo Mengubah Statusnya

Hagia Sophia: Ataturk, Orang Kaya Amerika dan Seorang Homo Mengubah Statusnya

Solidaritas Qatar untuk Palestina Menunjukkan Tak Semua Anggota Liga Arab Egois

Solidaritas Qatar untuk Palestina Menunjukkan Tak Semua Anggota Liga Arab Egois

Erdogan dan Konspirasi Global

Erdogan dan Konspirasi Global

Inggris Siapkan RUU Bendung Aktivis “Boikot Israel” [1]

Inggris Siapkan RUU Bendung Aktivis “Boikot Israel” [1]

Baca Juga

Berita Lainnya