Mengapa Wanita Saudi Boleh Menyetir?

Dengan meningkatkan partisipasi pekerja wanita dari 22 persen menjadi 30 persen, akan mempermudah wanita berpendidikan mengendalikan kemampuan dalam bepergian

Mengapa Wanita Saudi Boleh Menyetir?
MEMO
Perempuan Arab Saudi boleh menyetir

Terkait

(Halaman 2 dari 2)

Sambungan artikel PERTAMA

Perang kerajaan dengan Yaman juga membuatnya menerima kritik pedas, di saat pertempuran yang sedang berlangsung dengan pemberontak Houthi telah menyebabkan 10.000 orang mati, serta 20 juta orang membutuhkan bantuan menurut PBB dan sebuah wabah kolera di negara yang telah menjadi negara paling miskin di planet ini. Meskipun PBB menganggapnya sebagai krisis kemanusiaan terbesar di dunia, lagi, Arab Saudi tidak menunjukkan tanda-tanda mengalah, di mana pada minggu ini mendapat banyak kecaman karena menghalangi pengiriman bantuan medis ke Yaman.

Rumor-rumor tentang hubungan diplomatik masa depan dengan Israel baru-baru ini juga muncul kembali, setelah dokumen-dokumen yang dibocorkan oleh akun Twitter Mujtahidd yang berbicara tentang rencana negara itu untuk “menerima Israel sebagai negara sahabat”. Publik Saudi dengan dengan kukuh telah menyangkal upaya apapun terkait normalisasi hubungan dengan Israel di masa lalu, dan laporan seperti ini memicu kekhawatiran bagi banyak orang.

Baca: Menteri Israel Minta Hubungan Penuh dengan Saudi dan Kunjungan Resmi Pemerintah Riyadh

Sekali lagi, di tengah-tengah perselisihan internal dan eksternal, memperbolehkan wanita untuk menyetir mobil menghasilkan pemerintah  beberapa poin politik yang sangat dibutuhkan, keduanya di dalam dan luar negeri, memperlihatkan bahwa pemerintah sedang melayani kepentingan masyarakat. Media-media memuji tindakan itu sebagai awal dari era baru dan  menyiarkan reaksi-reaksi para wanita Saudi juga berperan sebagai sebuah pengalihan dari kekacauan yang kebijakan luar negeri Kerajaan tidak bisa hindari.

Sebuah langkah moderenisasi?

Bahkan sebelum larangan menyetir dicabut, Arab Saudi sedang berada dalam perubahahan. Dalam laporan sama yang dibocorkan oleh Mujtahidd pada awal bulan ini menuduh Putra Mahkota Mohammad ingin “membaratkan” Kerajaan Teluk, sebuah ide yang tidak mengejutkan mengingat keinginan yang diungkapkannya pada berbagai platform untuk menggabungkan negara ke dalam dunia moderen.

Niat semacam itu juga terlihat muncul pada bulan lalu, ketika Arab Saudi mengumumkan bahwa garis pantai Laut Merahnya akan dikembangkan menjadi sebuah destinasi pariwisata global yang akan menjadi “semi-otonom”, seperti akan memperbolehkan wisatawan asing untuk meminum minuman keras dan memperbolehkan wanita menggenakan bikini; yang kedua hal itu saat ini tidak diperbolehkan.

Penangkapan massal para ulama terkenal baru-baru ini juga muncul sebagai yang terbaru dalam upaya-upaya semacam ini.

Baca: Arab Saudi Dikabarkan Menangkap Syeikh Salman al Audah

Setidaknya 27 ulama Islam, penceramah, penulis, peneliti dan penyair dikonfirmasi telah ditangkap oleh pasukan keamanan Saudi selama sebulan terakhir, termasuk ulama terkemuka Salman Al-Ouba, yang dilaporkan telah melakukan mogok makan sebagai bentuk protes. Pihak keamanan negara hanya mengklaim bahwa mereka telah menangkap sejumlah individu yang berupaya menimbulkan kekacauan dan menyabotase persatuan nasional, meskipun banyak dari mereka yang tidak mempunyai sejarah menentang kerajaan atau berasosiasi dengan Ikhwanul Muslimin, yang oleh Saudi anggap sebagai ‘kelompok teroris’.

Tindakan seperti itu mungkin mengejutkan sejumlah orang karena reputasi Arab Saudi sebagai negara konservatif, tetapi hanya membuktikan sekali lagi bahwa bagi pemerintah, moderenisasi tidak akan pernah sama dengan oposisi politik.

Dengan latar belakang ini, sebuah langkah yang akan lebih jauh mengintegrasi wanita ke dalam masyarakat tidak hanya memenuhi tuntutan masyarakat internasional, tetapi juga memberi kesan bahwa hak-hak perempuan sedang diperjuangkan di atas pembentukan relijius.

Sebenarnya, hak-hak wanita sedang digunakan sebagai alat untuk semakin menjelekkan kelompok Islam dan menghadirkan mereka, sebagai musuh sebenarnya dari moderenitas. Strategi seperti ini telah seringkali digunakan dalam sejarah Saudi kapanpun politik Islam dirasa populer di kalangan wanita; ini muncul menjadi kasus terbaru.

Di tengah-tengah pergolakan politik, ekonomi dan sosial, pembatalan larangan menyetir Saudi merupakan sebuah upaya untuk memenangkan massa dan memperkenalkan visi baru Kerajaan itu. Di saat popularitas Arab Saudi rendah,  ulasan positif internasional mengalihkan gambar-gambar Perang Yaman atau pengecaman Qatar.

Baca: Sebuah E-mail Bocoran, Dugaan Saudi Berencana Serang Qatar

Sama halnya dengan visi ekonomi Putra Mahkota yang bertumpu pada perubahan sosial dan konsolidasi kekuatan politik – memperbolehkan wanita menyetir dapat mengubah status quo marjinalisasi wanita di masyarakat dan menghasilkan apresiasi politik dari publik.

Sementara penghapusan larangan menyetir hanya berdampak positif bagi wanita di Arab Saudi, ini mengindikasi keadaan yang lebih parah yang mungkin terjadi pada penduduk lainnya.

Arab Saudi selalu menjadi negara otokratis, dan sepertinya pemahaman baru Arab Saudi tentang negara moderen dan progresif hanya akan semakin memperjelas visi yang sudah ada. Jika trend baru-baru adalah sesuatu yang dapat diadili, kemungkinan bahwa tindakan keras yang lebih besar pada mereka yang mempunyai perbedaan dengan arah baru negara akan segera terjadi.*

Artikel ini dimuat di laman   middleeastmonitor.com

Rep: Nashirul Haq AR

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !