Dompet Dakwah Media

Bangkitnya ‘Nabi Palsu’ di Teluk

Penulis buku “Turabi's Revolution: Islam and Power in Sudan” (1991), “The Conquest of Muslim Hearts and Minds: Perspectives on U.S. Reform and Public Diplomacy Strategies” (2005). Artikel ini dimuat di laman Al Araby Al Jadid, 10 Juni 2017 dengan judul ‘Hamas and the rise of false prophets in the Gulf’ diterjemahkan secara bebas oleh Nashirul Haq AR

Bangkitnya ‘Nabi Palsu’ di Teluk
Para suporter kesebelasan Korea Selatan bentang spanduk "Kami Cinta Qatar" dalam pertandingan antar kedua kesebelasan pada seleksi Asia untuk Piala Dunia

Terkait

(Halaman 2 dari 2)

Sambungan artikel PERTAMA

Semua ini memastikan bahwa Hamas bukanlah masalah bagi pihak-pihak yang merencanakan agresi. Hamas mungkin menjadi masalah bagi beberapa orang yang “berkolaborasi” dengan pihak ini, seperti mantan pejabat Palestina, Mohammad Dahlan, yang bercita-cita menjadi penerus Mahmoud Abbas, dan yang mengakui bahwa dia bekerja di intelejen Uni Emirat Arab (UEA), seperti yang dikatakan di dalam sebuah buku yang dipublikasikan musim panas lalu.

Jelasnya, Hamas digunakan sebagai sebuah alat untuk menarik dukungan Benjamin Netanyahu dan kemudian dukungan Presiden AS Donald Trump.

Para pemboikot Qatar menunjukkan diri mereka sebagai ‘pelindung Israel’ yang keamanannya terancam oleh Qatar; dengan kata lain, mereka adalah pelindung garis depan Israel melawan “ekstrimisme”.

Rezim Abdul Fattah Al-Sisi telah siap meminta bantuan Netanyahu dengan membuktikan dirinya lebih Zionis daripada Avigdor Lieberman dan lebih agresif terhadap Palestina daripada kelompok “price tag“.

Tujuan kedua dari mengangkat masalah Hamas ialah untuk mendorong Qatar mengenali posisi negara-negara yang tidak keberatan dengan blokade Gaza dan tidak keberatan menerima Israel sebagai sebuah “negara Yahudi” atau membalas jasa Netanyahu. Itu bertujuan untuk memperlemah kredibilitas dan status Qatar, karena masalah mereka, seperti yang telah kami tunjukkan, bukanlah Hamas atau Ikhwanul Muslimin, tetapi lebih pada status moral dan kekuatan media Qatar.

Tanda merah adalah gambaran blokade Negara Teluk disebrangi pesawat menuju Qatar

Ketika keempat Negara Teluk  –dengan  kemampuan material, manusia dan teknis– memutuskan bahwa sebuah negara kecil seperti Qatar merupakan ancaman bagi keamanan mereka, itu berarti bahwa masalah negara-negara itu ialah ketidakmampuan mereka untuk menyamai pencapaian media Qatar atau diplomasinya.

Negara-negara ini memiliki channel rival mereka sendiri, dan mereka telah mengeluarkan uang sebanyak yang mereka bisa untuk membeli koran-koran dan channel TV Barat. Mereka bahkan telah menggunakan Israel terhadap satu sama lain. Tetapi semua ini belum bisa membuat mereka bersaing dengan Aljazeera, jadi saat ini mereka bersikeras untuk membungkamnya.

Tujuannya ialah untuk memperburuk kredibilitas Qatar sampai jatuh ke tingkat para kompetitornya. Baru saat itu mereka dapat setara dan hanya pada saat itu mereka akan meyakinkan diri bahwa Qatar tidak menimbulkan ancaman apapun.

Baca:  Hamas: Peryataan Arab Saudi Hanya Akan Untungkan Penjajah Zionis

Namun, strategi yang telah digunakan untuk mencapai tujuannya itu berada di jurang kegagalan, karena menggunakan kebohongan yang jelas dan mencolok untuk mengurangi kredibilitas orang lain tentu bukan cara terbaik dalam mencapai tujuan seseorang.

Permasalahan menjadi semakin rumit jika media massa yang digunakan dalam kampanye isolasi ini terkenal karena menyebarkan kebohongan dan kemunafikan serta media yang tidak dipercayai oleh publik. Karena menggunakan kebohongan tidak akan membuat senjata mereka semakin tajam, khususnya di era saat ini di mana mendeteksi kebohongan dapat dilakukan hanya dengan menekan satu tombol.

Semakin media-media ini mengarang kebohongan, semakin pula kredibilitas mereka ternoda, dan status mereka akan ditolak, sejalan dengan status orang-orang yang menggunakan jaringan ini untuk berlindung.

Sebelum dan setelah ini semua, ini merupakan bulan suci Ramadhan. Tidak ada keraguan bahwa langit akan menjatuhi hukuman mengenai kembalinya cara-cara Musailamah (nabi palsu yang muncul di Arab pada akhir masa Nabi Muhammad) dan berubahnya tanah dua Masjid Suci menjadi sumber terbesar dari fitnah; di bulan ini; dan dalam cara ini; bekerja sama dalam kejahatan dan agresi.*

Dr. Abdul Wahab Al-Effendi adalah penulis buku “Turabi’s Revolution: Islam and Power in Sudan” (1991), “The Conquest of Muslim Hearts and Minds: Perspectives on U.S. Reform and Public Diplomacy Strategies” (2005). Artikel ini dimuat di laman Al Araby Al Jadid, 10 Juni 2017 dengan judul ‘Hamas and the rise of false prophets in the Gulf’ diterjemahkan secara bebas oleh Nashirul Haq AR

Rep: Admin Hidcom

Editor:

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan. Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !