Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Analisis

Siapa Mengirim Pasukan Baret Hijau Iran ke Suriah?

AFP
Tentara Iran berbaris selama parade militer Perayaan Hari Angkatan Darat di Teheran pada 18 April 2014
Bagikan:

Hidayatullah.com–Pada awal bulan ini, Brigjen Ali Arasteh, Wakil Koordinator Komandan Angkatan Darat Iran, untuk pertama kalinya secara publik berbicara tentang operasi militer Iran terhadap IS di Suriah.

Dia mengatakan pada para wartawan Iran, “Brigade 65 merupakan bagian dari pasukan darat kami dan kami mengirim tentara dari Brigade 65, sama seperti unit lainnya, sebagai penasihat ke Suriah. Pengiriman ini tidak sebatas komando atas Brigade 65, sebagai penasihat Brigade 65 sudah berada di sana.”

Dengan pengecualian dari perang 1980-1988 dengan Iraq, pasukan itu tidak melakukan operasi luar negeri sejak Revolusi Iran 1979. Hanya Quds Force, cabang operasi eksternal Komandan Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC), dan Brigade Fatehin, yang dibuat oleh sukarelawan Iran, telah menjadi penasihat dan melakukan operasi darat di Suriah dan Iraq.

Pasukan itu hanya bertanggung jawab untuk menjaga perbatasan Iran, hanya jika mendapat perintah dari panglima tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, mereka dapat ikut serta dalam misi luar negeri.

Brigade 65, yang juga dikenal dengan julukan Nohed, merupakan sebuah pasukan angkatan udara khusus, dan salah satu unit militer paling elit Iran. Mereka dibuat sebelum Revolusi Iran, dan mempunyai catatan sukses dalam perang dengan Iraq.

Inti aslinya dibuat pada tahun 1950an, ketika militer mengirim 10 pejabat senior ke Prancis. Pada tahun-tahun berikutnya, dua brigade baru bertanggung jawab dalam misi penyelamatan sandera, perang luar biasa, perang secara langsung dan sebagai dukungan dalam penambahan pasukan angkatan udara sementara Brigade 65 diciptakan.

Meningkatnya pelatihan disamping pengalaman bertarung yang sukses – seperti basis militer Manston Dhofar di Oman pada 1970an, dan bahkan dilaporkan di Perang Vietnam – membawa unit ini menjadi unit terbaik yang dimiliki Iran, disamping Imperial Guard, pada akhir era Pahlevi.

Partisipasi Brigade 65 dalam operasi di Oman merupakan tindakan resmi. Ini rupanya tidak seperti kasus di Vietnam; bagaimanapun juga, sebelum kematiannya, Jenderal Alireza Sanjabi berbagi pengalamannya dengan penulis ini tentang bagaimana dia telah beperan menjadi seorang penembak jitu di Vietnam.

Sanjani menambahkan, “Sebelum revolusi, kebanyakan dari latihan brigade ini telah selesai dalam pembentukan operasi bersama dengan SAS Inggris.”

Memang, kekuatan Brigade 65 meningkat tajam selama hari-hari awal dari Revolusi Iran, beberapa anggota parlemen mendesak untuk pembubaran mereka sejak mereka takut akan adanya usaha kudeta. Bagaimanapun juga, mereka tidak dibubarkan dan masih tetap kuat seperti sebelumnya.

Pada tahun 1990an, ada sebuah sindiran operasi militer di Teheran dimana pasukan angkatan udara diminta untuk memegang semua pusat militer dan politik di ibukota. Meskipun perlawanan sengit disiapkan oleh pasukan keamanan yang menjaga pusat-pusat itu, “Pasukan Hantu” yang kuat itu dapat menduduki ibukota dalam dua jam. Sejak saat itu, pasukan baret hijau dikenal dengan “Powerful Ghosts” (Hantu yang Kuat).

Sebelum pengiriman pasukan baru-baru ini, Brigade 65 tidak turut serta dalam operasi luar negeri sejak perang dengan Iraq, seperti yang diketahui secara resmi. Namun, terdapat laporan yang belum dikonfirmasi mengindikasikan bahwa anggota dari brigade ini melakukan misi pengintaian di Iraq, Pakistan dan Afghanistan.

Sementara IRGC telah mendapat kekuasaan untuk memberikan dukungan pada pasukan Suriah sejak pecahnya perang Suriah, pasukan itu selama dua tahun terakhir telah mengambil langkah-langkah pencegahan dalam pertempuran dengan ISIS yang bertujuan untuk menetralisir kemungkinan serangan ke Teheran.

Tahun lalu, komandan pasukan darat, Brigadir Jenderal Ahmad Reza Pourdastan, menyebut operasi yang melibatkan pengiriman pasukan ke perbatasan Iran-Iraq dan serangan artileri melewati perbatasan. Dia juga mengatakan bahwa “sebuah unit tanggap respon yang mendapat pelatihan khusus penembak jitu telah dibentuk selama beberapa bulan terakhir.”

Sebagai tambahan, peralatan militer canggih telah dikirim kepada pasukan tersebut untuk mempersiapkan mereka melawan ancaman apapun.

Iran mengklasifikan ukuran brigade itu mencapai 6.000 hingga 7.000 pasukan. Sehingga, kemungkinan sekitar 100 hingga 200 pasukan Brigade 65 telah dikirim ke Suriah.

Berita pengiriman tersebut sangat ditutup-tutupi oleh situs berita Iran. Memang, hanya beberapa hari setelah pengiriman itu, laporan empat anggota Brigade 65 yang tewas di Aleppo mengejutkan publik. Pourdastan dengan cepat menjelaskan situasi tersebut pada pers, “Terjadi sebuah serangan yang dilakukan beberapa ribu pasukan takfiri [Salafi] dan pasukan dari Jabha al-Nusrah di selatan Aleppo … empat anggota tercinta dari pasukan darat [Iran] menjadi martir. Dalam konfrontasi ini, sejumlah tank dan personel bersenjata yang dibawa kelompok teroris al-Nusrah telah dihancurkan dan juga 200 teroris telah terbunuh,” begitu pernyataannya.

Berdasarkan laporan tersebut, terlihat sepertinya pasukan Iran menjadi target dari serangan kejutan.

Baca juga:

Lagi, Jenderal Garda Revolusi Iran Tewas di Suriah

NCRI: Banyak Tentara Bayaran Iran Tewas Minggu Ini

Menyusul gelombang reaksi yang intens atas kematian dari empat tentara penyerang Iran, komandan pasukan Mayor Jenderal Ataollah Salehi mengatakan bahwa pasukan biasa tidak mempunyai tanggung jawab memberikan jasa penasihat pada Suriah, dan terdapat sebuah organisasi di Iran yang melakukan langkah-langkah yang berhubungan dengan itu.

Salehi mengatakan bahwa beberapa sukarelawan telah dikirim ke Suriah dibawah tanggung jawab dari organisasi tersebut dan mungkin terdapat beberapa anggota dari Brigade 65 diantara mereka. Dia menambahkan bahwa dikarenakan aturan ketat tentara, sepertinya sangat tidak mungkin anggotanya akan memasuki Suriah atas keinginan mereka sendiri dan bahwa mereka mungkin melakukan itu di bawah perintah dari staff jenderal pasukan bersenjata. Pernyataan itu menyampaikan ketikdakpuasan Salehi atas kehadiran dari pasukan bersenjata di Suriah.

Perang Suriah siap memasuki babak baru dan fase yang semakin serius pada bulan-bulan yang akan datang. Sementara Rusia sedang mengurangi kehadiran militernya di Suriah, Iran sedang mencoba meningkatkannya dengan mengirimkan pasukan khusus mereka sendiri.

Mempertimbangkan sejumlah kecil pasukan Iran yang telah dikirim, ini mungkin tidak menjadi pengiriman yang penting dari sudut pandang militer. Namun, dengan jelas menunjukkan bahwa Iran bertekad untuk tidak membiarkan keseimbangan kekuatan di Suriah terganggu.

Dalam beberapa bulan terakhir, Iran telah berpartisipasi dalam negosiasi damai PBB, dengan jelas menunjukkan bahwa mereka tidak berkeinginan untuk menyerah pada rival regional mereka, seperti Turki dan Arab Saudi, setelah lima tahun mendapati tentara mereka terluka dan terbunuh serta menghabiskan miliaran dolar. Jadi sangat mungkin bahwa jika pemerintah Suriah mendapat ancaman yang semakin serius, bahkan lebih banyak pasukan tentara akan dikirimkan ke Suriah bersama dengan IRGC.*

Abbas Qaidaari. Penulis adalah analis kebijakan pertahanan dan strategi keamanan. Tulisan dimuat di laman al-monitor, Kamis, (28/04/2016) diterjemahkan Nashirul Haq AR. Twitter: @abbasqaidaari

Rep: Nashirul Haq AR
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Ini Saatnya Memboikot Perusahaan yang Berbisnis di Xinjiang

Ini Saatnya Memboikot Perusahaan yang Berbisnis di Xinjiang

Pelesir Politis Obama dan Kejutan KTT Arab

Pelesir Politis Obama dan Kejutan KTT Arab

Apakah ‘Perubahan’ Menjadi Sebuah Kutukan Bagi Negara Arab?

Apakah ‘Perubahan’ Menjadi Sebuah Kutukan Bagi Negara Arab?

‘Israel’ Gunakan Darurat Corona untuk Mencaplok Tepi Barat

‘Israel’ Gunakan Darurat Corona untuk Mencaplok Tepi Barat

‘Likud’ Teluk

‘Likud’ Teluk

Baca Juga

Berita Lainnya