Kamis, 25 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Analisis

2016: Tahun Cerdas dan Semangat Keuangan Keluarga

AP
Himbauan untuk mengurangi pembelian barang – barang impor dapat membantu pemerintah untuk menaikkan produksi dalam negeri [ilustrasi]
Bagikan:

Oleh: Dr. Murniati Mukhlisin & Luqyan Tamanni

 

Kondisi makro Indonesia

TAHUN 2015 adalah tahun penuh ujian bagi ekonomi Indonesia, dengan pertumbuhan yang melambat, disertai permasalahan klasik yang masih menghantui, seperti tingginya angka kemiskinan dan pengangguran, lemahnya nilai tukar rupiah, serta terpuruknya harga komoditas yang menjadi andalan ekonomi nasional. Hal yang sama juga diperkirakan akan berlaku pada tahun 2016, terutama karena faktor eksternal dan kondisi global, misalnya penyesuaian suku bunga Federal Reserve dan melambatnya ekonomi China.

Tingkat kemiskinan Indonesia saat ini masih berkisar sekitar 11-12 persen dari total jumlah penduduk, atau lebih dari 30 juta penduduk Indonesia masih hidup dengan pendapatan pas-pasan – kurang dari dua dolar per hari. Meski secara prosentase tingkat kemiskinan terus menurun, jumlah riil penduduk miskin ternyata meningkat. Misalnya, penduduk miskin tercatat naik sebesar 8-9 juta orang pada tahun 2015 dibandingkan tahun 2014 (Baca artikel Sakinah Finance: “Berantas Kemiskinan Dengan Disiplin”).

Sementara itu, tingkat penggangguran terbuka juga mengalami hal yang sama. Kadar penganguran di akhir 2014 adalah 5,81 persen, dan kemudian naik menjadi 5,94 persen di awal tahun 2015. Separuh dari angka pengangguran itu adalah lulusan sekolah dasar, disusul oleh mahasiswa baru lulus, dan siswa sekolah menengah/kejuruan (Sumber: BPS). Menurut sumber yang sama, penyerapan tenaga kerja paling popular adalah di sektor pertanian, bisnis usaha, jasa sosial dan manufaktur.

Dari sisi ekspor dan impor, data dari OECD menunjukan bahwa neraca perdagangan Indonesia terus mengalami defisit dari tahun 2012 hingga sekarang, dimana tahun 2014 angka defisit berada pada posisi -2 persen. Namun diperkirakan angka ini akan membaik, karena kuartal I-III 2015 telah terjadi kenaikan positif terhadap neraca perdagangan Indonesia.

Adapun dari kekuatan nilai tukar, Rupiah masih melemah terhadap USD, Yen, atau Poundsterling. Sebagai ilustrasi sederhana, empat tahun yang lalu nilai kurs tengah Bank Indonesia untuk satu Poundsterling (GBP) masih sebesar 14 ribu rupiah, namun pada akhir 2015 nilai kurs rupiah naik tajam menjadi 20 ribu lebih terhadap pound.

Dari sisi komoditi, harga minyak dunia dan emas menurun drastis pada tahun 2015. Harga terakhir tahun 2015 tercatat paling rendah pada 37,91 dolar Amerika per barel dibandingkan harga tertinggi 85,60 dolar pada tahun 2014. Sedangkan harga emas turun dari menjadi 470,6 ribu rupiah per gram di akhir tahun 2015 dari harga tertinggi sebesar hampir 550 ribu per gram beberapa bulan sebelumnya.

Meski sebagian analis memprediksikan bahwa harga komoditas seperti minyak akan naik pada paruh kedua 2016, misalnya akibat konflik di Timur Tengah (Suriah, Yaman) dan Ukraina yang berkepanjangan, namun secara umum, harga sebagian besar komoditas tidak akan berubah banyak pada tahun 2016. Hal ini terutama disebabkan oleh masih akan melemahnya permintaan terhadap komoditas dunia, baik emas, batu-bara, sawit, dan lainnya; serta untuk kasus minyak adalah tingkat penawaran yang cukup tinggi, misalnya dari produksi sumur shale gas di US dan ‘membandelnya’ negara OPEC yang masih belum mau membatasi produksi.

Analisa keuangan keluarga syariah

Walaupun harga minyak dunia turun yang (seharusnya) menyebabkan harga BBM/bensin dan transportasi umum turun, namun hal ini tidak otomatis mempengaruhi harga sembako. Tidak seperti ketika harga minyak dunia naik, yang menyebabkan produsen berlomba ‘menyesuaikan’ harga, yang menyebabkan harga BBM, sembako dan kadar inflasi secara umum naik susul-menyusul secara drastis. Untuk, kondisi sekarang mengharuskan keluarga Indonesia untuk semakin jeli dan bijak dalam mengatur keuangannya.

Sementara itu, dampak melemahnya harga emas mengisyaratkan agar keluarga Indonesia tidak menjual aset emasnya saat ini, namun kalau mampu untuk lebih banyak membeli untuk investasi jangka panjang. Sebaliknya, dengan terus turunnya nilai kurs rupiah, konsumsi barang impor sebaiknya dihindari atau dikurangi.

Secara makro, cara ini juga dapat membantu neraca perdagangan nasional untuk lebih positif lagi dan diharapkan neraca pembayaran mengikuti trend yang sama. Produsen dalam negeri seharusnya menyambut ajakan ini untuk lebih memastikan produk dan jasanya supaya dapat lebih dapat bersaing di pasar global.

Dari sisi pariwisata dan belanja perjalanan ke luar negeri, dalam beberapa tahun terakhir tercatat ada peningkatan tajam untuk perjalanan ke Saudi Arabia untuk ibadah umrah dan haji disusul naiknya minatnya perjalanan ke Eropa (Baca artikel Sakinah Finance: Kapan Kita Boleh ‘Bermimpi’?). Melihat makin melemahnya kurs rupiah, sebaiknya para keluarga dapat membuat keputusan yang lebih bijaksana kapan saatnya memilih untuk liburan di luar atau di dalam negeri.

Industri pariwisata dan ekonomi kreatif adalah salah satu industri andalan untuk menambah masuknya devisa negara yang seharusnya juga diramaikan oleh turis domestik, sebagai alternative wisata ke luar negeri. Banyak sekali destinasi unggulan di tanah air, yang sangat menarik dan layak dikunjungi.

Misalnya, pada Oktober 2015 yang lalu Nusa Tenggara Barat telah dinobatkan sebagai “The World’s Best Halal Tourism and Honeymoon” yang dapat menjadi sasaran bagi turis mancanegara yang peduli dengan nilai – nilai Islam.

Tahun 2015 juga diisi dengan berita pengiriman jumlah mahasiswa yang dikirim keluar negeri drastis meningkat (Baca artikel Sakinah Finance: “Berhaji Sambil Studi di Inggris”), baik belajar dengan beasiswa atau biaya sendiri. Dengan melemahnya kurs rupiah, keluarga yang cermat harus pandai memetakan porsi investasi nya untuk pendidikan masa depan. Termasuk juga memilih keahlian yang diperlukan untuk menurunkan tingkat pengangguran akibat tidak tepatnya keahlian yang dimiliki oleh lulusan sarjana saat ini.

Saat ini pengumpulan dana zakat masih belum maksimal padahal dampaknya sangat dasyat untuk mengurangi kemiskinan di tanah air. Maka dari itu, para keluarga diharapkan untuk menaikkan kesadarannya untuk membantu menurunkan angka kemiskinan dengan cara menyalurkan dana zakat, infaq, shodaqah dan wakaf dengan tepat sasaran, salah satunya untuk menunjang pemberdayaan ekonomi masyarakat dhuafa. Jika bingung bagaimana caranya, kita dapat menyerahkan dana tersebut kepada Badam Amil Zakat/Lembaga Amil Zakat di tanah air untuk menyalurkannya.* (BERSAMBUNG) halaman DUA

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Perang ISIS Melawan Hamas di Gaza?

Perang ISIS Melawan Hamas di Gaza?

myanmar

Kudeta Myanmar: Bagaimana Kekuatan Global Mengecewakan Muslim Rohingya

Pengepungan Sydney Cara Barat Bangkitkan Perang? (1)

Pengepungan Sydney Cara Barat Bangkitkan Perang? (1)

Iran-Damaskus: Sarapan yang Dituanrumahi Moskow dan Tel Aviv

Iran-Damaskus: Sarapan yang Dituanrumahi Moskow dan Tel Aviv

Erdogan dan Politik Persenjataan  [1]

Erdogan dan Politik Persenjataan [1]

Baca Juga

Berita Lainnya