Selasa, 30 Maret 2021 / 17 Sya'ban 1442 H

Analisis

Kolumnis Melanie Phillips Bela Kebohongan Netanyahu Tentang Holocaust

Benyamin Netanyahu
Bagikan:

Oleh: David Cronin

BEBERAPA waktu yang lalu, PM Israel Benyamin Netanyahu mengutarakan klaim kontroversial yang menyatakan bahwa dalang di balik peristiwa Holocaust adalah mufti agung Palestina, Haji Amin al-Husseini. [Baca: Benyamin Netanyahu Pidato Kontroversial, Sudutkan Muslim terlibat Holocaust]

Dikatakan Netanyahu, pada 1941, al-Husseini pergi ke Berlin untuk bertemu Adolf Hitler. Pertemuan itu dituding Perdana Menteri Israel tersebut sebagai titik awal Hitler melakukan pemusnahan terhada orang-orang Yahudi di Eropa, terutama Jerman, Polandia, dan Austria.

Holocaust sendiri, menurut Wikipedia, adalah pemusnahan masal sekitar 6 juta Yahudi oleh Nazi di bawah pimpinan Hitler. Holocaust berasal dari dua kata bahasa Yunani, holos yang berarti keseluruhan, dan kaustos yang berarti terbakar.

Sejak 1941 hingga 1945, kaum Yahudi dibantai oleh Nazi secara sistematis. Banyak pihak mengira Holocaust adalah satu kejadian yang terjadi pada satu hari dan memakan korban jutaan orang sekaligus. Holocaust sesungguhnya adalah kejadian beruntun sepanjang Perang Dunia II.

Mereka yang membela pernyataan Netanyahu mengenai Holocaust tersebut, salah satunya adalah Melanie Phillips, seorang kolumnis Inggris. Menulis untuk The Jerusalem Post, Phillips menyatakan bahwa pria kelahiran Tel Aviv tersebut “benar secara fundamental”.

Untuk menegaskan pendiriannya, Phillips merujuk pada pernyataan Dieter Wisliceny, seorang kenalan Adolf Eichmann, salah satu arsitek Holocaust. Pada persidangan di Nuremberg, Jerman, tahun 1946, Wisliceny mengklaim bahwa Haji Amin al-Husseini, mufti agung Yerusalem, adalah salah satu provokator pemusnahan sistematis kaum Yahudi Eropa tersebut.

Phillips tidak menyebutkan kepada pembacanya bahwa Netanyahu sendiri juga mengutip pernyataan yang sama dari orang yang sama saat menuduh mufti agung tersebut. Para ahli sejarah dan media mencibir Netanyahu mengenai damage control-nya tersebut.

Tidak Berdasar

The Times of Israel menyebut bahwa tidak hanya segelintir orang, namun sebagian besar ahli sejarah yang meragukan keabsahan afirmasi Wisliceny. Website tersebut mengutip pernyataan seorang ahli sejarah Holocaust asal Israel, Yehuda Bauer, yang menunjuk pada kenyataan bahwa usaha pembantaian terhadap Yahudi Eropa telah berjalan selama 6 bulan sebelum pertemuan antara Hitler dan mufti agung. Website tersebut juga menyebut versi Netanyahu tidak berdasar.

Electronicintifada.com menemukan sebuah jurnal menaring tentang mufti agung pada arsip nasional Inggris beberapa waktu sebelum artikel ini diposting. Sebuah surat bertanggal Oktober 1936, komisaris tinggi Inggris untuk Palestina saat itu, Arthur Wauchope, menyiratkan adanya perbedaan pendapat antara dirinya dan John Dill, seorang komander Pasukan Inggris di Palestina yang saat itu baru dilantik. Mereka berdebat mengenai perlu tidaknya mufti dideportasi.

Pada surat yang ditujukan kepada Kementrian Kolonial di London, Wauchope menulis, “Anak-anak, mereka yang bengis, serta intel Royal Air Force (Angkatan Udara Inggris) suka menciptakan cerita yang bikin panik. Mereka kini mempengaruhi Dill dan yang lainnya bahwa mufti membentuk, mengorganisir, dan sepenuhnya bertanggungjawab untuk meneruskan serangan dan kekacauan,”
Wauchope menyinggung mengenai revolusi Arab Palestina yang terjadi tahun itu. Sebuah serangan besar pada April 1936 dilaksanakan tanpa adanya keterlibatan mufti. Hanya sesudahnya dia menganggap terbentuknya sebuah komite yang dapat menyatukan berbagai kelompok politik Arab Palestina.

Otoritas dibawah kepemimpinan Wauchope bertindak dengan brutal. Dengan memerintahkan penhancuran skala besar rumah-rumah di Palestina, yang paling terkenal di Jaffa, dahulu kota terbesar di Palestina yang kini tinggal sejarah. Lokasi Jaffa sekarang termasuk dalam kota Tel Aviv.

Tak hanya itu, mereka juga memberlakukan hukuman kolektif yang masih dipraktekkan Israel di tahun 2015 ini.

Terlepas dari usaha Wauchope mengecilkan peran mufti pada revolusi tersebut, Wauchope menghormati al-Husseini sebagai lawan yang kecewa. Pada surat yang sama, Wauchope mengeluh tentang kebencian mufti terhadap Zionisme dan mengekspresikan keinginannya untuk “melipat sayapnya” (idiom yang berarti mengambil keuntungan yang diterima seseorang sebagai bentuk hukuman). Kurang dari setahun kemudian, Wauchope meminta kepada London agar Inggris mengambil tindakan terhadap monster Frankenstein yang diciptakan Samuel. Wauchope merujuk kepada penunjukkan al-Husseini sebagai mufti oleh komisaris tinggi Palestina pertama, Herbert Samuel.

Trend

Apa yang membuat David Cronin, penulis artikel ini di electronicintifada.net, tercengang mengenai surat-surat Wauchope adalah betapa cepatnya dia mengkambinghitamkan mufti. Dengan menyalahkan al-Hussaini sebagai biang keladi Holocaust, Netanyahu mengikuti apa yang imperialis Inggris lakukan. Kebohongan Netanyahu memang terlalu, sehingga para ilmuwan Israel pun tak bisa membelanya. Tapi hal tersebut tidak mengurangi fakta bahwa mufti tersebut telah lama menjadi kambing hitam Israel.

Cronin menyadari adanya ketimpangan sjearah adalah pada kunjungan pertamanya ke Palestina pada 2001. Pada kesempatan tersebut, Cronin mendampingi utusan perdamaian Uni Eropa ke Yad Vashem, museum Holocaust di Yerusalem. Di sana, Cronin tercengang saat melihat seksi khusus yang menjelaskan pertemuan singkat mufti dengan Adolf Hitler.

Meski pengetahuan Cronin mengenai politik Timur Tengah saat itu cukup dangkal, dia cukup tahu mengenai Holocaust untuk menilai bahwa sesuatu yang tidak penting dibesar-besarkan sebagai topic utama. Orang-orang Palestina disalahkan untuk kejahatan yang dilakukan Nazi Jerman.

Hukum peledakan yang diperkenalkan Inggris diberlakukan oleh Israel sebagai bagian dari pembuatan mitologi Holocaust. Pada tahun 2009, Avigdor Lieberman, mantan Mentri Luar Negeri Israel, mencoba membenarkan pembangunan perumahan khusus Yahudi di lokasi Shepherd’s Hotel, Yerusalem Timur, yang saat itu sudah ada penghuninya. Lieberman berujar bahwa lokasi tersebut dulunya adalah markas besar al-Husseini, dan bertindak lebih jauh dengan memerintahkan para diplomat untuk membagikan foto pertemuan Hitler dengan al-Husseini.

Sebuah usaha yang kasar untuk memanipulasi masa lalu agar Israel dapat menjustifikasi pembersihan sebuah kelompok etnis. Melanie Phillips tahun lalu mendesak Israel untuk berpikir serius tentang propaganda mereka. Saat mengunjungi Yerusalem, dia menyebut Israel terhalang oleh kegagalan strategi pada medan perang mental. Kesediannya menyokong Netanyahu membuktikan bahwa kebenaran tidak terlihat sama sekali pada medan perang apapun yang dia bicarakan .*

Penulis adalah editor The Electronic Intifada, penulis buku ”Corporate Europe” dan “Europe’s Alliance With Israel”.Tulisan dimuat di electronicintifada.net

 

Rep: Tika Af'idah
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Pelanggaran Serius Hukum Internasional di Ghouta Timur

Pelanggaran Serius Hukum Internasional di Ghouta Timur

‘Perang Palsu’ Obama Menghadapi ISIS (1)

‘Perang Palsu’ Obama Menghadapi ISIS (1)

Iran-Damaskus: Sarapan yang Dituanrumahi Moskow dan Tel Aviv

Iran-Damaskus: Sarapan yang Dituanrumahi Moskow dan Tel Aviv

Turki Pernah Pindahkan Cadangan Emas 220 Ton dari Bank Federal AS

Turki Pernah Pindahkan Cadangan Emas 220 Ton dari Bank Federal AS

Palestina di Bawah Penjajahan Menyeluruh

Palestina di Bawah Penjajahan Menyeluruh

Baca Juga

Berita Lainnya