Jangan Salahkan Alam, Jangan Ratapi Nasib!

Marilah kita semua mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap musibah yang kita alami. Tidak ada gunanya menyalahkan alam dan tidak ada gunanya meratapi nasib

Jangan Salahkan Alam, Jangan Ratapi Nasib!

Terkait

KITA tentu masih ingat pelajaran di sekolah dasar tentang ilmu bumi. Di sekolah, para murid sering menerima penjelasan guru tentang angin Bohorok. Di sana ada bab mengenal jenis angin lokal di daerah pegunungan. Nama “angin Bohorok” pasti dikenal oleh semua siswa yang rajin belajar.

Angin Bohorok, sejenis angin “jatuh”, yang bergerak dari bawah satu sisi gunung, lalu naik ke puncak, lalu turun kembali ke bawah di sisi lain gunung dengan kecepatan tinggi. Ia menerjang apapun yang dilaluinya. Angin yang “jatuh” di daerah pengunungan Bohorok itulah yang sering berhembus di sekitar lokasi jatuhnya pesawat Nusantara Buana Air (NBA).

Pesawat maskapai Nusantara Buana Air (NBA) pada 29 September 2011 bertolak dari Bandara Polonia Medan pukul 07.28 WIB. Menurut jadwal, pesawat jenis Casa 212 itu akan tiba di Kutacane, Banda Aceh, 35 menit kemudian. Namun pada pukul 12.00 siang, ternyata pesawat berisi 14 penumpang dan 4 kru itu diketahui jatuh tersangkut di pepohonan hutan pegunungan Bohorok.

Hutan tropis asli, “ditakuti” bahkan oleh para petualang sejati. Bukan hanya karena pepohonannya yang lebat dan binatang liarnya, tapi juga karena cuacanya yang sering berubah. Di hutan tropis, hujan bisa turun kapan pun alam mau. Tidak ada yang tahu kapan hujan atau angin kencang akan turun dan berhembus, meski banyak orang bisa mengenali tanda-tandanya.

Memahami kondisi

Kebanyakan dari kita, memang tidak mengetahui kondisi riil tempat kejadian jatuhnya pesawat kecil bermesin turbo propeler, di mana diberitakan dalam posisinya tersangkut di atas pohon itu. Namun, dengan menggunakan sedikit pengetahun yang didapat dari bangku sekolah dulu, kita akan memahami bahwa tempat itu memang bukanlah tempat “yang biasa”.

Hutan, lokasi di mana pesawat jatuh adalah hutan asli, yang terbentuk oleh alam. Seperti kebanyakan hutan tropis asli, sebagian besar pepohonan yang ada bisa tumbuh menjulang tinggi melebihi 15 meter. Katakanlah ada korban yang hidup ketika itu, pastinya, ia tidak akan bisa turun ke tanah dengan leluasa. Melompat dari ketinggian seperti itu setelah mengalami shock berat adalah sesuatu yang hampir tidak mungkin akan dilakukan.

Bagaimanapun, kita semua memahami kerja keras Tim SAR (Search and Rescue), aparat, yang telah sangat berusaha luar biasa meengvakuasi korban apalagi melihat lokasi dan kendala cuaca yang sulitnya. Toh mereka sudah berusaha, tapi baru bisa mencapai lokasi pada hari ke-3 setelah kejadian.

Hanya saja kita boleh membandingkan, kita pasti iri, melihat kesigapan dan tekad Presiden Chile Sebastian Pinera untuk menyelamatkan 33 penambang emas yang terjebak di bawah tanah selama 69 hari, akibat dinding lokasi pertambangan runtuh pada tahun 2010 lalu.

Ketika itu, operasi penyelamatan sejak 5 Agustus hingga 13 Oktober 2010 yang heroik tersebut disiarkan televisi ke seluruh penjuru dunia.

Pinera menyatakan tidak akan meninggalkan lokasi hingga semua korban bisa dievakuasi. Ia juga tidak peduli berapa pun ongkos yang akan dikeluarkan untuk menyelamatkan korban.

Akhirnya, setelah seluruh daya dan upaya dikerahkan, satu per satu korban bisa diangkut keluar dengan menggunakan “kapsul” buatan lembaga antariksa Amerika Serikat NASA.

Lokasi kecelakaan pesawat NBA di Bohorok memang berbeda dengan lokasi kecelakaan tambang di Chile itu. Satu di atas pohon wilayah hutan di pegungan, satu di bawah tanah sedalam 700 meter.

Tapi untuk kebaikan ke depan, rasanya kita boleh iri dengan Chile atau Tim “K-9 ONE Search dan Rescue”, kelompok relawan yang terdiri dari anjing dan manusia berbasis di Michigan. Mereka dikenal sangat berdedikasi bekerja bersama dengan polisi, pemadam kebakaran dan penanggap darurat lainnya untuk melindungi dengan menghargai nyawa manusia. “K-9 ONE Search dan Rescue”, bahkan menyediakan layanan gratis 24 jam sehari, tujuh hari seminggu dan 365 hari setahun. Bahkan Tim ini dilatih khusus secara khusus untuk misi di area hutan belantara dan bekerja di semua jenis kondisi cuaca.

Satu hal yang pasti, bahwa kita manusia yang hidup, berkewajiban memberi pertolongan kepada korban semaksimal mungkin. Apapun caranya dan bagaimanapun tekniknya.

Indonesia, sebagai negara yang sangat rawan bencana terkait kondisi geografis wilayahnya, karenanya dituntut memiliki kesigapan, keterampilan khusus dan dana yang luar-biasa untuk menanggulangi berbagai musibah. Toh APBN telah menganggar masalah bencana!

Kita juga memahami kegeraman pihak keluarga yang terkena musibah. Terlebih keluarga yang mengaku sempat melakukan kontak dengan salah satu korban hidup pada hari kejadian.

“Kalau saja, kalau saja mereka bergerak cepat, tentu korban akan bisa diselamatkan,” begitu ujar mereka.

Alhasil, penanganan evakuasi korban kecelakaan pesawat NBA di Bohorok ini, seharusnya menjadi pelajaran bagi semua pihak.

Pejabat dan pemerintah –sebagai lembaga pengelola negara– seharusnya memberikan sarana dan prasarana yang memadai dalam urusan ini. Tirulah Presiden Chile dan mulailah berlatih mengucapkan sekedar kata bela sungkawa. Tunjukkan bahwa setiap nyawa warga negara Indonesia adalah berharga, sehingga patut untuk diupayakan semaksimal mungkin keselamatannya.

Di sisi lain, walau bagaimanapun, peristiwa ini adalah musibah, – sekuat apapun kita usahakan dan seluas apapun kita berandai-andai – yang pasti, peristiwa ini adalah sesuatu yang telah dikehendaki Sang Maha Kuasa.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ) (الحديد:22)

Artinya: “Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Luhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs. 57:22)

Marilah kita semua mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap musibah yang kita alami. Tidak ada gunanya menyalahkan alam dan tidak ada gunanya meratapi nasib. [*]

Foto: ANTARA/Irsan Mulyadi

Rep: Admin Hidcom

Editor: Huda Ridwan

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !