Kamis, 27 Januari 2022 / 24 Jumadil Akhir 1443 H

Surat Pembaca

Surat Terbuka untuk Menteri Agama terkait Halal Bihalal Lintas Iman

Kemenag Haji 2021
Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas
Bagikan:

Halal Bihalal Lintas Iman ala Menag, Pengdangkalan Aqidah Berbusngkus Toleran

Oleh: Tim AMAL

Hidayatullah.com | TAK  henti-hentinya Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas, memasarkan toleransi yang berujung pencampuradukkan agama, dan lagi-lagi dasarnya adalah toleransi, yang sebenarnya jauh dari batas wajar.  Sebagaimana diketahui Idul Fitri 1442 Syawal jatuh bersamaan dengan hari perayaan Kenaikan Isa Al-masih, momen ini dimanfaatkan oleh Yaqut melalui Institute of Social Economic Digital (ISED) dan Nasaruddin Umar Office (NUO) untuk menggelar kegiatan Halal bihalal Lintas Iman dengan tema “Sambung Rasa Persaudaraan Antar Umat Beragama & Penghayat Kepercayaan”, Selasa (18/5/2021).

Sebagaimana termuat dalam berita BeritaSatu.com, Yaqut bahkan mewacanakan untuk meningkatkan toleransi dalam konteks beragama. “Mari terus meningkatkan toleransi dan kerukunan umat beragama. Tidak terbatas simbolik perayaan ataupun peringatan keagamaan, namun terus ditingkatkan dalam kehidupan keagamaan dan kehidupan sosial kita,” ungkap Yaqut.

Statemen Yaqut tersebut terlihat begitu bijak, namun jika kita amati lebih dalam lagi, dan juga melihat praktik toleransi versi pemikiran Yaqut, kita akan melihat betapa mengerikannya dalam kacamata pengetahuan aqidah.

Perlu dipahami bahwa bagi umat muslim, tidak ada masalah jika Non-Muslim ingin ikut mensemarakkan hari besar umat muslim, dalam hal ini Hari Raya Idul Fitri. Akan tetapi mengajak umat Non-Muslim ikut merayakan hari raya Idul Fitri, tentu bukan permintaan tanpa balas jasa, apalagi kegiatan tersebut dibungkus dalam rangka perayaan Idul Fitri dan Kenaikan Yesus.

Balas jasa tersebut bukan harta, melainkan pengorbanan aqidah, yakni umat muslim dituntut juga ikut mensemarakkan hari besar Non-Muslim dengan mengucapkan “Selamat Atas Kenaikan Yesus”.  Dalam jangka panjang, imbal balik balas jasa ini, akan terjadi lebih ekstrem lagi, sebagai mana telah kita ketahui, 3-4 tahun kebelakang sebagian umat muslim awam, dengan senang hati diajak untuk mengikuti dan mensemarakkan kegiatan natal bersama, bukan hanya dalam bentuk “silaturahim” akan tetapi sudah tahap ikut beribadah bernyanyi (ibadah ala Nasrani), hingga membaca shalawat dalam acara tersebut, yang semuanya dilakukan di dalam gereja dengan bungkus toleransi.

Sebelum pembahasan lebih jauh, mari kita perhatikan terlebih dahulu bagaimana Nabi Muhammad ﷺ bersikap terhadap Yahudi, yang berharap mendapat do’a (يرحمك الله) dengan berusaha bersin pada saat bersama Nabi ﷺ.

عَنْ أَبِي مُوسَى ، قَالَ: ( كَانَ اليَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُونَ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ: يَرْحَمُكُمُ اللَّه ُ، فَيَقُولُ: يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ )

Artinya : “Dari Abi Musa, beliau berkata: Ketika ada orang Yahudi berada di samping Nabi ﷺ, dia berusaha bersin karena berharap Nabi ﷺ memberikan do’a “Semoga Allah ﷻ mengasihani kalian”, akan tetapi Nabi ﷺ berdo’a : “Semoga Allah memberikan petunjuk kalian semua dan memperbaiki kelakuan kalian semua.”

Dari hadits tersebut, dapat kita pahami bahwa, walaupun mereka berbaik hati kepada kita. Namun kita harus tetap membatasi diri dalam bersikap, sesuai tuntunan syari’at, tentunya sebelum mereka masuk Islam.

Hadits ini juga menjelaskan, bahwa Yahudi tersebut ingin didoakan agar mendapat rahmat Allah oleh Nabi ﷺ, artinya si Yahudi yakin (dalam hatinya) bahwa Nabi ﷺ benar dan doanya mustajab. Hal ini sebagai mana dijelaskan oleh Ibnu ‘Allan :

قوله : (أن يقول لهم يرحمكم الله) لتعود عليهم بركة دعائه بها ، فإنهم كانوا يعلمون باطناً نبوته ورسالته ، وإن أنكرو ظاهراً حسداً وعناداً .

“Artinya:  Mereka menginginkan (Nabi ﷺ berdo’a untuk mereka, dengan do’a, “Semoga Allah mengasihi kalian semua, dengan maksud supaya berkah do’a Nabi ﷺ tertuju atas mereka, karena sesungguhnya mereka (Yahudi) diam-diam mengetahui keabsahan kenabian dan kerasulan beliau ﷺ, meskipun mereka menunjukkan ingkar secara dzahir, karena hasud dan sombong.”

(Nabi berdo’a untuk mereka dengan do’a, “Semoga Allah memberi kalian petunjuk”).

Kembali kepada topik utama, tatkala orang Non-Muslim mengucapkan selamat Idul Fitri, namun yang mereka inginkan adalah kita juga mengucapkan tahniah kepada mereka seperti “Selamat hari Natal, Selamat hari kenaikan Yesus, dan lain-lain”.

Dalam konteks kegiatan “Halal bihalal Lintas Iman” yang kebetulan Idul Fitri bersamaan dengan tanggal kenaikan Yesus, mestinya para peserta juga akan mengucapkan tahniah “Selamat atas kenaikan Yesus”.

Sebagai umat muslim, seharusnya kita memberikan ucapan atau do’a kepada kaum Nasrani itu: “Semoga Allah memberimu hidayah” bukan dengan ucapan tahniah apalagi do’a “Semoga Allah mengasihimu/mengasihi kita semua”

Hal ini sebagai mana ditegaskan oleh Imam Nawawi Rahimahullah sebagai berikut:

” اعلم أنه لا يجوز أن يُدعى له بالمغفرة وما أشبهها مما لا يُقال للكفار ، لكن يجوزُ أن يُدعى بالهداية وصحةِ البدن والعافية وشبهِ ذلك ..

“الأذكار النووية”

Artinya : “Ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak diperbolehkan berdoa untuk orang kafir, agar mereka mendapatkan ampunan, dan do’a-do’a lain yang menyerupainya yaitu do’a-do’a yang tidak bisa di peruntukkan bagi orang kafir. Akan tetapi diperbolehkan berdo’a supaya mereka mendapatkan hidayah, kesehatan badan, kesejahteraan dan lain sebagainya..” (Al-Adzkar An-Nawawiyah).

Adapun keharaman tahniah terhadap orang kafir, telah disepakati oleh empat madzhab sebagaimana yang sering dibahas pada saat perayaan natal, berikut ini kami kutipkan sedikit saja dalil keharaman tahniah.

Al Imam Ad Damiri dalam Al-Najm Al-Wahhaj fi Syarh Al-Minhaj, “Fashl Al-Takzir”, hlm. 9/244, dan Khatib Syarbini dalam Mughnil Muhtaj ila Makrifati Ma’ani Alfadzil Minhaj, hlm. 4/191, menyatakan:

تتمة : يُعزّر من وافق الكفار في أعيادهم ، ومن يمسك الحية ، ومن يدخل النار ، ومن قال لذمي : يا حاج، ومَـنْ هَـنّـأه بِـعِـيـدٍ ، ومن سمى زائر قبور الصالحين حاجاً ، والساعي بالنميمة لكثرة إفسادها بين الناس ، قال يحيى بن أبي كثير : يفسد النمامفي ساعة ما لا يفسده الساحر في سنة

Artinya: Ditakzir (dihukum) orang yang sepakat dengan orang kafir pada hari raya mereka, orang yang memegang ular, yang masuk api, orang yang berkata pada kafir dzimmi “Hai Haji”, orang yang mengucapkan selamat pada hari raya (agama lain), orang yang menyebut peziarah kubur orang saleh dengan sebutan haji, dan pelaku adu domba, karena banyaknya menimbulkan kerusakan antara manusia.

Yahya bin Abu Katsir menyatakan: “Pengadu domba dalam satu jam dapat membuat kerusakan yang baru bisa dilakukan tukang sihir dalam setahun.”

Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Al-Fatawa Al-Fiqhiyah, hlm. 4/238-239, menyatakan:

ثم رأيت بعض أئمتنا المتأخرين ذكرما يوافق ما ذكرته فقال : ومن أقبح البدع موافقة المسلمين النصارى في أعيادهم بالتشبه بأكلهم والهدية لهم وقبول هديتهم فيه وأكثر الناس اعتناء بذلك المصريون وقد قال صلى الله عليه وسلم } من تشبه بقوم فهو منهم { بل قال ابن الحاج لا يحل لمسلم أن يبيع نصرانيا شيئا من مصلحة عيده لا لحما ولا أدما ولا ثوبا ولا يعارون شيئا ولو دابة إذ هو معاونة لهم على كفرهم وعلى ولاة الأمر منع المسلمين من ذلك ومنها اهتمامهم في النيروز… ويجب منعهم من التظاهر بأعيادهم.

Artinya: “Aku melihat sebagian ulama muta’akhirin menuturkan pendapat yang sama denganku, lalu ia berkata: “Termasuk dari bid’ah terburuk, adalah persetujuan muslim pada Nasrani pada hari raya mereka, dengan menyerupai (perilaku mereka), dengan memberi makanan dan hadiah, serta  menerima hadiah pada hari itu.

Kebanyakan orang yang melakukan itu adalah kalangan orang Mesir.  Nabi ﷺ bersabda ; “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari mereka”.

Ibnu Al-Haj berkata: “Tidak halal bagi muslim menjual sesuatu pada orang Nasrani, untuk kemaslahatan hari rayanya, baik berupa daging, kulit atau baju. Hendaknya tidak meminjamkan sesuatu walupun berupa kendaraan, karena itu menolong kekufuran mereka. Dan bagi pemerintah hendaknya mencegah umat Islam atas hal itu. Salah satunya adalah perayaan Nairuz (Hari Baru), dan wajib melarang umat Islam menampakkan diri pada hari raya non-Muslim.”

Pada hakikatnya, kita sebagai umat muslim harus memperhatikan dan menjaga aqidah kita, mari pertimbangkan:

Jika non-Muslim terbiasa mengikuti kegiatan umat muslim, hal tersebut tidak akan menjadi masalah, dan tidak akan menjadi beban bagi mereka, toh tuhan mereka sendiri pun sudah salah.

Sedangkan kita sebagai umat muslim, memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga aqidah yang haq ini, ketika kita ikut meramaikan kekufuran, artinya kita telah membantu kemaksiatan, sedangkan kemaksiatan kekufuran tersebut adalah kemaksiatan yang paling dimurkai Allah, dan diancam siksa neraka selamanya.

Sebesar-besarnya dosa zina dan minum arak, dosa tersebut masih jauh berada di bawah level syirik, karena dosa zina bisa diampuni oleh Allah kelak di Akhirat, sedangkan dosa syirik tidak akan pernah diampuni oleh Allah.

Terfikirkah betapa murkanya Allah saat menyaksikan umat muslim ikut membantu mensemarakkan kegiatan yang paling dimurkai itu?

Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.”

Sebagai penutup, mari kita renungkan firman Allah ﷻ dan hadits Nabi ﷺ yang menegaskan, bahwa orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela menyaksikan umat muslim sampai umat muslim mengikuti mereka sejengkal demi sejengkal.

Firman Allah :

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ ٱلْيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُم بَعْدَ ٱلَّذِى جَآءَكَ مِنَ ٱلْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِىٍّ وَلَا نَصِيرٍ ﴿١٢٠﴾

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS: Al-Baqarah [2]: 120).

Rasulullah  ﷺ bersabda:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun, kalian pasti akan mengikuti mereka.”

Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Muslim – Shahih).*

AMAL (Aswaja Menangkal Aliran Liberal)

Rep: Ahmad
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Munas VI,  Syabab Hidayatullah Adakan Lomba Menulis Esai

Munas VI, Syabab Hidayatullah Adakan Lomba Menulis Esai

Indahnya Akhlak Ulama

Indahnya Akhlak Ulama

BBM Naik, Rakyat Tercekik

BBM Naik, Rakyat Tercekik

“Islam Bukan Agama Anti Kebudayaan”

“Islam Bukan Agama Anti Kebudayaan”

Ketika Bawang Menentukan Nasib Generasi

Ketika Bawang Menentukan Nasib Generasi

Baca Juga

Berita Lainnya