Selasa, 19 Januari 2021 / 5 Jumadil Akhir 1442 H

Surat Pembaca

Indahnya Akhlak Ulama

Buya Yahya dan Habib Novel berebut saling mencium tangan
Bagikan:

MasyaAllah. Kata yang pertama kali terucap dalam hati ini ketika melihat suatu pemandangan yang indah, dalam video singkat di media sosial (instagram) di mana ketika seorang ulama memperlihatkan keindahan sebuah adab dan akhlak.

Pemandangan tersebut terjadi di kota Cirebon, tepatnya dalam majelis Buya Yahya, yang pada saat itu sedang mengisi kajian Kitab Al-Hikam pada tanggal 21 Januari 2019.

Awalnya pemandangan tersebut bermula setelah kajian tersebut berlangsung selama satu jam, selanjutnya dibukalah sesi bagi para jamaah untuk bertanya.

Kemudian salah satu dari jamaah berdiri dan bertanya. Ketika mengucapkan salam dan  memperkenalkan nama –belum sempat untuk mengucapkan pertanyaanya-, jamaah tersebut langsung dihampiri oleh Buya Yahya seraya mengatakan “La ilaha illallah masyaAllah, Habibana”.

Ternyata jamaah yang bertanya tersebut adalah Babib Novel bin Muhammad Alaydrus, seorang ulama muda dari Solo.

Kita tentu sama-sama tahu ketinggian dan keluasaan ilmu yang beliau berdua miliki. Tapi lihatlah apa yang terjadi, ternyata ketinggian ilmu yang dimiliki sama sekali tidak membuat beliau terlihat sombong, namun sebaliknya, lebih merendah.

Pemandangan ini yang diperlihatkan oleh Habib Novel, di mana beliau duduk di belakang di antara para jamaah lainnya ketika dalam majelis Buya Yahya tersebut.

Pemandangan lain juga diperlihatkan oleh Buya Yahya pada saat mencium tangan habib Novel, MasyaAllah. Pemandangan yang indah yang mengajarkan kepada kita untuk menghormati orang yang berilmu walau sebenarnya kita tahu kalau kita juga seorang yang berilmu, inilah sifat kerendahan yang terbentuk oleh ketinggian, keluasan serta keberkahan suatu ilmu yang kita miliki.

Maka benarlah apa yang pernah disampaikan oleh ‘Abdullah bin Al-Mubarak, bahwa belajar ilmu itu mempunyai tiga tingkatan:

Pertama, barangsiapa yang sampai ke tingkatan pertama, dia akan menjadi seorang yang sombong. Kedua, barangsiapa yang sampai pada tingkatan kedua, dia akan menjadi seorang yang tawadhu’. Dan terakhir, yang ketiga, barangsiapa yang sampai ke tingkatan ketiga, dia akan merasakan bahwa dia tidak tahu apa-apa.*

Wassalam

Rikho Afriyandi

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Muammar Qadhafi, Buku Hijau dan Al-Qaradhawi

Muammar Qadhafi, Buku Hijau dan Al-Qaradhawi

Video Dangdut Porno di Youtube Merusak Akhlak

Video Dangdut Porno di Youtube Merusak Akhlak

Perbedaan Pendirian Masjid dan Gereja

Perbedaan Pendirian Masjid dan Gereja

Ustad Abdul Somad dan Pewaris Nabi

Ustad Abdul Somad dan Pewaris Nabi

Soal Teror Bom, TV Tak Kunjung Pinter!

Soal Teror Bom, TV Tak Kunjung Pinter!

Baca Juga

Berita Lainnya