Kamis, 25 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Surat Pembaca

Gerhana Matahari Total yang Berbeda Total

Bagikan:

TERINGAT 32 tahun lalu, tepatnya 11 Juni 1983 saat terjadi gerhana matahari total. Semua anak anak kecil di kampung, diperintahkan untuk sembunyi di bawah kolong meja yang ditutup sekelilingnya dengan kain.

Sebagai anak kecil, mendengar gerhana matahari total saat itu ada rasa takut karena informasi yang beredar saat itu memang menakut nakuti, seperti kalau melihat bisa buta, jika keluar rumah bisa mendapatkan celaka karena siang hari akan gelap.

Sisi lain juga ada unsur kegembiraannya, karena orang tua menyiapkan berbagai macam kue atau makanan agar betah sembunyi di bawah kolong meja. Sehingga tidak ada keinginan untuk keluar dari kolong meja, antara rasa takut dan senang.

Para orang tua dan orang dewasa tidak ikut sembunyi tapi bersiap siap menabuh lesung (alat melembutkan padi) atau apa saja. Tujuannya agar gerhana cepat berlalu, ini tentu murni adat yg sekedar berdasarkan mitos, bukan ilmu.

Ternyata pengalaman tersebut ternyata juga dialami oleh teman teman seusia, meskipun beda kampung, lain provinsi dan beda suku. Artinya memang pemahaman masyarakat Indonesia saat itu relatif sama.

Media informasi saat itu baru ada TVRI dan radio RRI. Untuk TVRI masih hitam putih dan yang memiliki satu kampung hanya satu orang, itupun sangat tergantung accu sebagai energinya. Sehingga tidak ada yang menontong live, on line atau siaran langsung.

Gerhana Total yang Berbeda Total

Sikap masyarakat saat menghadapi gerhana matahari total 9 Maret 2016, berbeda total dengan masyarakat dulu. Sejak beberapa tahun lalu para ahli astronomi sudah memprediksikan hari, tanggal, jam, menit, detik dan di kota mana saja bisa melihat gerhana matahari.

Gerhana matahari bukan lagi sesuatu yang menakutkan bahkan ditunggu untuk ditonton, menjadi hiburan, ajang bisnis, media penelitian para ilmuwan astronomi manca negara.

Anak anak tidak lagi disiapkan kue atau makanan untuk sembunyi di bawah kolong meja. Tapi kaca mata hitam atau teleskop sederhana untuk nobar (nonton bareng) di berbagai tempat dengan melihat langsung proses terjadinya gerhana matahari, ada yang bersiap lihat siaran live dari berbagai stasiun televisi.

Menyikapi Gerhana dengan Keimanan

Gerhana matahari total seharusnya umat Islam bersikap total sebagaimana Allah dan Rasulullah tuntunkan dengan total mendekatkan diri kepada Allah. Gerhana bukan peristiwa alam yang biasa juga bukan pertanda suatu peristiwa tertentu.

Maka Rasulullah menganjurkan untuk shalat gerhana matahari. Semua ulama sepakat menghukumi sunnah muakkad artinya sunnah yang dikuatkan atau hampir wajib. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ

”Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau bulan) , maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat.”

Kemudian juga disunnâhkan berdoa, banyak berdzikir dan bersedekah. sebagaimana Hadist dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.”

Dengan melaksanakan amalan amalan di atas maka bisa terlepas dari dua kemungkinan ekstrem. Pertama tidak terjebak dalam kesyirikan yang dialami oleh orang orang yang tidak mengerti agama. Kedua terhindar dari sikap melepaskan diri dari kekuasaan Allah yang menganggap gerhana matahari sebagai peristiwa alam biasa. Sehingga gerhana sekedar menjadi tontonan, hiburan dan candaan. Na’udzubillah

Mari menyikapi gerhana matahari ini dengan keimanan dengan mendekat kepada Allah sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah melalui sunnahnya.*

Abdul Ghofar Hadi |Gunung Tembak

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Mahasiswa Minang Gugat film “Cinta Tapi Beda”

Mahasiswa Minang Gugat film “Cinta Tapi Beda”

BBM Naik, Rakyat Tercekik

BBM Naik, Rakyat Tercekik

Hubungan Musibah Banjir dan Kepemimpinan

Hubungan Musibah Banjir dan Kepemimpinan

Seni Menipu dan Memaksa di Dunia “Pelangi”

Seni Menipu dan Memaksa di Dunia “Pelangi”

Barat Menjadi Tuan di Tubuh dan Otak Kita!

Barat Menjadi Tuan di Tubuh dan Otak Kita!

Baca Juga

Berita Lainnya