Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Surat Pembaca

Dari MIUMI Untuk Indonesia

Silatnas MIUMI di Hotel Sumber Alam, Cipanas, Garut, Jawa Barat
Bagikan:

MAJELIS Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) kembali melaksanakan hajatan nasional. Acara bertajuk Silaturahim Nasional dan Pelantikan MIUMI Wilayah Jawa Barat dan Koordinator Daerah ini digelar di Hotel Sumber Alam, Cipanas, Garut, Jawa Barat, pada Selasa dan Rabu, 13-14 Januari 2015.

Silatnas dibuka pada Senin malam, dipandu oleh Akmal Sjafril, penulis buku Islam Liberal 101. Seremonial ini diawali dengan kalimat sambutan perwakilan panitia dari MIUMI Jawa Barat, Ustadz Ahmad Husen.

Tiga ulama memberikan sambutan dalam acara berdurasi sekitar dua jam itu. Sambutan pertama disampaikan oleh sesepuh ulama Kabupaten Garut, KH Aceng Zakaria.

Pada awal sambutannya, pimpinan Pondok Pesantren Persatuan Islam 99 Rancabango, serta Pengurus dan Anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut ini mengapresiasi keberadaan MIUMI.

Menurutnya, ia merasa senang dan berbesar hati, karena masih banyak orang yang akan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Pria yang lahir di Sukarasa, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, 66 tahun silam itu lalu menjelaskan hakikat dan prinsip ulama. “Penulisan kata ‘al Ulama’ dalam al Qur’an, di atas wawu ada hamzah, berbeda dengan tulisan yang baku. Hal ini karena tidak semua yang dianggap ulama itu adalah ulama,” jelasnya berfilosofi.

Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKSPPI) Kabupaten Garut ini lantas mengutip penjelasan Ibnu Abbas tentang hakikat ulama. Menurut Ibnu Abbas, ulama adalah orang yang tidak menyekutukan Allah, istiqamah menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, serta yakin bahwa dia akan berjumpa dengan Allah Subhanahu Wata’ala.

Selanjutnya, Kiai Aceng yang juga tokoh Persis Jawa Barat ini mengutip pendapat Imam Ghazali dalam Ihya Ulumiddin, tentang tiga klasifikasi ulama.

Pertama, ulama yang menghancurkan dirinya sendiri dan menghancurkan orang lain (muhlikun nafsahu wa ghairahu). Ulama dengan kriteria ini telah mencintai dunia atas nama agama.

Kedua, ulama yang membuat bahagia dirinya dan orang lain (mus’idun nafsahu wa ghairahu). Ulama dengan kriteria ini mengajak manusia kepada Allah secara lahir batin.

Ketiga, ulama yang menghancurkan dirinya dan membuat bahagia orang lain (muhlikun nafsahu mus’idun ghairahu). Ulama dengan kriteria ini, mengajak kepada Allah dan secara lahiriah menolak dunia, namun dalam diri sebenarnya dia cinta dunia dan bertujuan mencari popularitas.

Imam Ghazali menutup penjelasan tersebut dengan pertanyaan menohok, “Min ayyi aqsaamin anta (dari golongan ulama manakah dirimu)?”

Lebih lanjut KH Aceng Zakariyya mengibaratkan, ulama pertama itu seperti rokok. Dia sendiri meleleh dan setelah menjadi puntung diinjak-injak manusia.

Ulama jenis kedua, dia ibarat matahari yang menyinari dunia. Ia terus bersinar, meski di permukaan bumi terkadang orang yang disinari tidak melaksanakan shalat. “Al-syamsu syamsun wa lau lam taraha al-a’ma (matahari itu matahari meski tidak terlihat oleh orang buta),” jelas dia bertamsil.

Sementara kriteria ulama ketiga, dia seperti lilin. Ia menyinari yang lain, namun dirinya sendiri meleleh.

“Ulama tidak punya atasan kecuali Allah. Terkadang ulama masih memiliki atasan selain Allah. Situasi sekarang membutuhkan seorang ulama yang membuat bahagia dirinya dan orang lain,” pungkas ulama kharismatik ini.

Sambutan kedua disampaikan oleh Ketua Umum MIUMI, Dr Hamid Fahmi Zarkasyi. Putra ke-9 pendiri Pondok Modern Gontor ini menyatakan, tidak ada panggilan yang mulia kecuali panggilan majlis ini.

“Kita tanamkan dalam hati, bahwa pertemuan ini murni sebagai pertemuan ukhuwah, tidak mengandung unsur politik,” sebutnya.

Ia juga menegaskan, Silatnas ini tidak hanya berbentuk silaturahim, namun juga hubungan ilmiah (shilah ‘ilmiyyah).

Dalam ungkapan bertanya, ia menyatakan, “Untuk apa kita bertemu? Karena ada tiga persoalan besar, atau three common enemis, yaitu liberalisme, aliran sesat, dan misionarisme.”

Kunci menghadapi semua ini, menurutnya, adalah kekuatan umat. “Amerika sudah melakukan ini, namun dengan bahasa mereka, yaitu hegemoni. Sementara bahasa kita adalah al fath atau pembebasan,” jelas dia.

Hamid memberi contoh, di India dan negeri lain misalnya, yang terjadi bukanlah hegemoni Islam, namun pembebasan manusia dari animisme dan dinamisme. “Oleh karena itu, Islam, sesuai namanya, adalah agama yang membebaskan,” simpul dia.

Cita-cita MIUMI ingin membebaskan umat Islam yang terhegemoni itu. Hamid memerinci, saat ini telah ada orang yang masuk dalam hal perumusan undang-undang. Di Mahkamah Konstitusi (MK) sudah ada pihak yang ingin mengajukan undang-undang dengan misi tertentu. Orang-orang Syiah juga sudah masuk jantung kekuasaan.

Mengulang hubungan sinergis antara MIUMI dengan MUI yang dia jelaskan pada Silatnas kedua di Bangil Jatim beberapa bulan lalu, Hamid menjelaskan, di antara tugas MIUMI adalah memberi penjelasan terhadap fatwa MUI. “Tugas anak-anak muda itu melayani yang tua. Fatwa MUI terkadang masih membutuhkan penjelasan agar dipahami umat,” jelas dia.

Pemimpin Redaksi Majalah ISLAMIA dan Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) ini juga mengkritisi sepak terjang dan pemikiran kaum liberal. Menurutnya, mereka saat ini sering mengeluarkan pernyaaan, lebih baik humanis, daripada religius, tapi teroris. Menurut Hamid, ini adalah wacana yang membingungkan. “Kita katakan, orang religius itu pasti humanis dan moralis,” tegas doktor jebolan ISTAC-IIUM Malaysia ini.

Selanjutnya, sambutan ketiga disampaikan oleh Sekjen MIUMI Pusat, Ustadz Bachtiar Nasir. Ia mengaku hanya menjelaskan sesuatu yang lebih kepada perkara tekhnis, di antaranya tentang pentingnya perkenalan atau ta’arruf antar pengurus MIUMI dari berbagai daerah.

Ia beralasan, problematika dakwah sekarang ini, bila dicermati, sebenarnya berangkat dari permasalahan pribadi antara juru dakwah. “Persoalan egoisme dibawa seakan-akan ini persoalan antara organisasi,” jelas pria yang mengisi program kajian Tadabbur al Qur’an di Trans7 ini.

Bachtiar mengeluarkan otokritik, bahwa sementara ini juru dakwah masih memiliki mental feodal, yaitu hanya ingin dilayani, namun tidak mau melayani umat. “Kita merasakan lemahnya mental khidmah atau service for ummah ini,” tandas dia.

Selanjutnya, Bachtiar Nasir kembali memberikan motivasi dakwah. Menurutnya, di dunia ini pihak yang menang adalah dia yang kuat. Sedangkan di akhirat, pihak yang menang adalah yang benar.

“Untuk menjadi yang kuat, kita perlu bertemu di sini. Semoga kita bisa kuat dengan bersama,” harap dia yang langsung diamini sekitar seratusan peserta Silatnas dari berbagai daerah di Indonesia itu.

Usai sambutan tiga tokoh muslim tersebut, acara dilanjutkan dengan pelantikan pengurus MIUMI Wilayah Jawa Barat dan Koordinator Daerah, termasuk pelantikan pengurus MIUMI Cabang Nganjuk, Jawa Timur.

Sebelum ditutup, acara disempurnakan dengan perkenalan peserta Silatnas dari berbagai daerah. Pembahasan-pembahasan penting keumatan akan dilanjutkan kembali esok hari, Rabu (13/01/2015).*

Wallahu al Musta’an

Garut, Senin 12 Januari 2015, pukul 23.00 WIB.

Faris Khoirul Anam, MIUMI Cabang Malang

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Pemuda Dewan Dakwah Aceh Kecam Aktivis Perempuan

Pemuda Dewan Dakwah Aceh Kecam Aktivis Perempuan

Waspadai Obat dan Jamu Berbahaya

Waspadai Obat dan Jamu Berbahaya

Perempuan Produktif Hanya Dipandang Dari Sisi Materi

Perempuan Produktif Hanya Dipandang Dari Sisi Materi

LGBT ‘Bahan Peledak’   Memusnahkan Syariat Islam di Aceh

LGBT ‘Bahan Peledak’ Memusnahkan Syariat Islam di Aceh

Bagaimana Jika Yuyun itu Anak Kita?

Bagaimana Jika Yuyun itu Anak Kita?

Baca Juga

Berita Lainnya