Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Surat Pembaca

Menjadi Ibu, Kontribusi Perempuan Dalam Pembangunan

Ilustrasi
Dalam sehari, 24 jam, ada berapa jam yang kita lowongkan dari kemarahan atas tingkah laku putra putri kita?
Bagikan:

KETERLIBATAN perempuan dalam roda ekonomi baik dalam level bawah, menengah dan atas adalah suatu hal yang sangat penting. Sebagai gambaran, dari aspek ekonomi level bawah kontribusi perempuan sangat bannyak dijumpai yaitu pedagang kaki lima, pedagang asongan, pengrajin dan lain sebagainya.

Aspek ekonomi level menengah perempuan, dapat dijumpai seperti pemilik toko kelontong, dan usaha menengah lainnya. Dan level atas bisa dijumpai di perusahaan besar, baik perempuan sebagai direktur atau pemilik saham.

Semua level tersebut sangat berperan dan menguntungkan. Salah satunya adalah dari sektor pajak. Pajak yang ditarik dari mereka tentu saja tidak sedikit. Ini akan menaikkan penghasilan pajak negara dan dan semakin memperbesar jumlah pendapatan negara.
Jika pendapatan meningkat, tentu saja pembnagunan akan berjalan dan kesejahteraan makin meningkat. Perempuan bekerja dan dan  mandiri adalah perempuan yang cerdas dan maju.

Sebaliknya, perempuan yang hanya di rumah atau ibu rumah tangga adalah perempuan yang kurang berdaya guna bahkan cenderung dilecehkan. Inilah opini yang terus digencarkan kepada kaum perempuan.

Jadi wajar, apabila saat ini banyak perempuan yang telah melalaikan fitrahnya. Mereka mati-matian bekerja, berkarir, tapi meninggalkan peran utamanya sebagai ibu, pengatur rumah tangga, dan pendidik generasi yang pertama dan utama. Baik karena terpaksa karena kondisi, atau mereka yang berpikiran hal tersebut adalah wujud kecintaan terhadap bangsa. Alasannya karena perempuan adalah tiang negara, jadi harus ikut menopang negara, salah satunya adalah berkontribusi dalam pembangunan.

Hal ini terjadi akibat kapitalisme yang diterapkan di negeri ini. Seharusnya, perempuan dilindungi, bukan dieksploitasi.

Banyak perempuan yang memilih berkarir atau bekerja ketimbang menjalani kewajiban dan peran utamanya sebagai ibu rumah tangga. Negara malah membiarkannya, bahkan malah membuka pintu lebar lebar bagi perempuan yang ingin bekerja.

Jauh berbeda dengan sistem Islam yang mempunyai gambaran lengkap tentang kontribusi perempuan dalam pembangunan.

Syariat Islam menjaga dan melindungi perempuan agar selalu dalam koridor syariat, serta mengupayakan agar kewajiban dan peran perempuan tidak terganggu.

Kontribusi perempuan dalam pembangunan bukan berarti mengeluarkan perempuan dari peran utamanya. Perempuan bisa cerdas dan maju tanpa harus meninggalkan fitrahnya. Terbukti ketika Islam berjaya sekitar 13 abad lamanya, kaum perempuan banyak mencetak generasi unggul, melahirkan generasi terbaik, baik sebagai pemimpin, politisi, ilmuwan, negarawan yang terbukti berhasil menjalankan pembangunan negara.*

Emma Lucya Fitrianty, S.Si
Jl. Imam Bonjol 263 RT.04 RW.02 Desa Sukorejo Kec. Gurah Kab.
Kediri Prov. Jawa Timur

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Jangan Biarkan Poso seperti Gaza

Jangan Biarkan Poso seperti Gaza

Puisi untuk Ibu Sukmawati

Puisi untuk Ibu Sukmawati

Surat Terbuka untuk Presiden SBY dan Jilbab Polwan

Surat Terbuka untuk Presiden SBY dan Jilbab Polwan

Mahasiswa Minang Gugat film “Cinta Tapi Beda”

Mahasiswa Minang Gugat film “Cinta Tapi Beda”

Gus Solah, Jembatan Ukhuwah

Gus Solah, Jembatan Ukhuwah

Baca Juga

Berita Lainnya