Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Surat Pembaca

Tayangan Jodha Akbar Pojokkan Islam dengan Cerita Palsu

Film seri Jodha Akbar yang banyak memalsukan kisah kerajaan Islam di Mughal
Bagikan:

Bismillahirrahmanirrahim

KAMI sebagai seorang Muslim, sangat prihatin dengan berbagai tayangan televisi kita yang kurang mendidik, penuh  takhayul, percintaan, perselingkuhan dan tayangan yang menyudutkan umat Islam.

Salah satu perhatian kami adalah sinetron impor, tepatnya dari India yang ditayangkan di salah satu stasiun swasta nasional, terutama tayangan “Jodha Akbar.”

Sebagian besar cerita dalam sinertron tersebut digambarkan  kerajaan Islam Mughal dengat sangat negatif, penuh dengan kebusukan, persaingan tidak sehat, kedengkian, menghalalkan segala, cara bahkan zalim, seperti menyerang tempat ibadah agama lain (sungguh jauh dari ajaran Islam dan sejarah aslinya).

Sebaliknya, tokoh Jodha yang merupakan representasi umat Hindu/kerajaan yang berhasil ditaklukkan kerajaan Muslim Mughal digambarkan sangat positif, seperti taat terhadap ajaran agamanya, digambarkan sebagai “korban yang tertindas”, selalu berpikir jernih dan sebagainya.

Sang sutradara bahkan sangat jeli dalam mempertajam karakter tokoh-tokohnya, sehingga gestur dan penampilan tokoh Muslim terlihat begitu bengis dan kejam, sementara tokoh Hindu terlihat lebih santun.

Padahal kita tahu bahwa kerajaan Islam Mughal berdiri di India selama tiga ratus tahun (1504-1800-an).

Pada tahun 1707, kerajaan ini mengalami puncak jayanya dengan mengusai hampir seluruh anak benua (India-Pakistan-Bangladesh saat ini), kecuali beberapa bagian tertentu di ujung pesisir selatan semenanjung ini.

Banyak sejarawan Barat bahkan memuji kerajaan ini sebagai kerajaan Islam yang paling moderat dan demokratis.

Meskipun tidak dipungkiri bahwa beberapa raja Mughal mungkin belum sesuai perilakunya dengan ajaran Islam (hal ini tentu wajar saja), namun penggambaran secara umum yang telah diungkapkan dalam sinetron tersebut pasti atas keinginan untuk memojokkan citra Islam.

Lebih aneh lagi, bagaimana bisa, sebua televisi di negeri berpenduduk Muslim menjadi jurubicara agama Hindu untuk memojokkan Islam lewat cerita palsu?

Bagaimana tanggapan MUI dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tentang hal ini?

Haruskan kita sebagai umat Islam akan terus dibodohi dengan propaganda seperti ini?

Dan mengapa sering kita dapati pengelola media TV di negeri ini tidak paham –bahkan tidak berusaha menghormati– agama mayoritas penduduk Ini?

Mohon sebaiknya pihak TV menghentikan acara ini dan sebaiknya ke depan makin memperkuat Tim Litbangnya untuk melihat utuh semua tayangan apapun berbau impor. Kasus ini menunjukan betapa lemah orang-orang inti di TV Indonesia tentang sejarah Islam.*

Salam

A Mikail Kamil

Rep: Panji Islam
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Bukti Miras Sebagai Sumber Masalah “Kejahatan”

Bukti Miras Sebagai Sumber Masalah “Kejahatan”

Pemimpin Adil Tak Perlu Takut Dikritik

Pemimpin Adil Tak Perlu Takut Dikritik

Solusi untuk Ahmadiyah

Solusi untuk Ahmadiyah

“Kami Ajak Wartawan di Aceh  untuk Dukung Penegakan Hukum Allah”

“Kami Ajak Wartawan di Aceh untuk Dukung Penegakan Hukum Allah”

Mahasiswa Minang Gugat film “Cinta Tapi Beda”

Mahasiswa Minang Gugat film “Cinta Tapi Beda”

Baca Juga

Berita Lainnya