Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Surat Pembaca

Semoga Buya Syafi’i Ma’arif bisa Muhasabah

Prof Dr Ahmad Syafi'i Ma'arif
Bagikan:

SETELAH saya membaca tulisan Buya Ahmad Syafi’i Maarif di Resonansi Republika berjudul “AIPAC  dan Krisis Suriah (II)” terbit tanggal 1 Oktober 2013 untuk kali ini saya terkesima sekaligus terkejut betapa berlebihan dan kejamnya beliau mengungkapkan pendapat atau pemikiran dengan kata dan kalimat yang kasar seperti “Buang saja iman itu dan mari kita beramai-ramai untuk saling membunuh sambil menanti azab Allah yang lebih dahsyat”. Na’udzubillahi min dzalik, maksudnya adalah melihat kondisi yang terjadi di Timur Tengah.

Ironisnya lagi beliau sebagai mantan Ketua Umum Muhammadiyah ini juga mencela Arab Saudi yang dinilai sibuk mengekspor ajaran Wahabisme keseluruh penjuru bumi yang menyulut perpecahan di mana-mana, apa iya karena mengikuti paham Wahabi?

Yang saya ketahui di Indonesia alumni dari Arab Saudi khususnya dari Universitas Islam Madinah banyak berkiprah di pemerintahan seperti Dr. Salim Segaf Aljufri, Menteri Sosial RI, Dr. Hidayat Nur Wahid mantan ketua MPR RI, Bachtiar Nasir Lc yang menjabat sebagai Sekretaris Majelis Ulama Muda Intelektual yang notabene adalah pengurus pusat Muhammadiyah dan masih banyak yang lain.

KH. Ahmad Dahlan sendiri mendirikan Ormas Islam Muhammadiyah pada tahun 1912 merupakan gerakan pembaharuan yang dibawa dari Arab Saudi yang dipelopori oleh Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afgani, Rasyid Rida yang sebelumnya dipengaruhi oleh munculnya aliran pembaharuan.

Bahkan tema sentral gerakan ini adalah ‘kembali pada al-Quran dan Hadits yang mempunyai pengaruh sangat luas.’ Gerakan ini menolak taqlid buta serta menjadikan al-Quran dan Hadits sebagai sumber utama ajaran Islam dan menentang segala hal yang berbau tahayul, bid’ah dan khurafat atau yang dikenal di Muhammadiyah gerakan TBC.

Terinspirasi dari paham inilah KH. Ahmad Dahlan mempelopori berdirinya Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharu ajaran Islam di antara misinya adalah memberantas TBC.

Tapi mengapa sekarang Buya Syafi’i berbicara seperti itu apalagi dengan ungkapan bahasa yang sungguh tidak mendidik?

Dengan segala hormat saya mohon Buya Syafi’i untuk melakukan Muhasabah.*

Muhammad Hafri

Kenanga III no. 52 Rt.04 Telanaipura Jambi

 

Rep: -
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Logika Terbalik Pemuja Sekularisme

Logika Terbalik Pemuja Sekularisme

Masih Merdeka Kok Miskin

Masih Merdeka Kok Miskin

Tragedi Rohingya Adalah Konflik Agama

Tragedi Rohingya Adalah Konflik Agama

“Sajak Tentang Koalisi yang (Hanya) Hampir Jadi”

“Sajak Tentang Koalisi yang (Hanya) Hampir Jadi”

Rezim Asad Suriah dan Pendukungnya adalah Ashabul Ukhdud Abad ke-21

Rezim Asad Suriah dan Pendukungnya adalah Ashabul Ukhdud Abad ke-21

Baca Juga

Berita Lainnya