Di Mana Posisi Kita dalam Kasus Qadhafi?

Mengapa media Islam tak bisa membedakan mana teman, mana musuh?

Di Mana  Posisi Kita dalam Kasus Qadhafi?

Terkait

KASUS kematian pemimpin Libya, Kolonel Muammar Qadhafi mengingatkan saya pada ucapat mantan Presiden Amerika, dalah kasus runtuhnya menara kembar WTC tahun 2001, George W Bush. Saat itu, dia mengucapkan kata-kata yang tak akan pernah terlupakan oleh umat Islam di dunia. “Eeither you are with us or you are with the terrorists.” (Apakah mereka bersama kita atau bersama teroris).

Dalam konteks ucapan yang dimaksudkan Bush, semua ‘teroris’ adalah kaum Muslim. Dan KAMI, dalam ucapan Bush itu, adalah orang-orang yang mau ikut di belakang Amerika.

Kalimat inilah yang kemudian hari menjadi “ikon” baru ‘terorisme Negara’ di berbagai belahan dunia untuk mengintimadasi, menakut-nakuti dan memberi citra buruk pada kaum Muslim.

Rupanya, di antara kita tak mampu mendapatkan pelajaran dari itu. Dalam kasus intervensi negara-negara Barat hingga serangan NATO yang berujung kematian Qadhafi, semua bermuara dari sumber sama, yakni intervensi Negara-negara Barat yang didukung NATO dengan cara memberi fasiltas pada pemberontak. Padahal, banyak pakar Barat sendiri sudah jelas-jelas mengatakan, tujuan Barat dan dukungan NATO tak lain dan tak bukan karena kekayaan dan simpanan minyak Libya yang begitu besar dan tinggi.

Seperti halnya berbagai intervensi Amerika dan Barat di dunia Islam, selalu saja ada “kerjasama” kepentingan yang tersembunyi di dalamnya. Di antaranya adalah keterlibatan media-media Barat sendiri untuk mendukung segala bentuk intervensi seperti ini. Dari Afghanistan, Iraq, hingga ke semua negeri-negeri Muslim.

Masalahnya, kenapa di antara kita –terutama para pengelola media Islam—kok ikut-ikutan terpengaruh dengan media mainstream di Indonesia (yang nota bene) beritanya copy-paste dari media asing? Sungguh tragis!

Yang lebih tragis, beberapa media Islam ikut memberi stigma, sebutan atau kata-kata buruk –sebagian bahkan melakukan pentakfiran—pada Qadhafi. Sungguh aneh.

Permasalahan kita umat Islam bukan pada membela Qadhafi atau membela para pemberontak yang di dukung oleh NATO, jangan sampai kita dikelabui oleh pemikiran yang tidak pada tempatnya.

Kasus Qadhafi tak jauh berbeda dengan kasus di manapun sifat penguasa. Sama dengan kasus pak Harto di mana anak-anaknya juga memperkaya diri. Tapi apakah ada tokoh MUI pernah menyebut Pak Harto kafir?

Permasalahan utama yang harus kita sadari adalah kemunafikan negara-negara Barat yang selama 42 tahun membiarkan Qadhafi berkuasa, bekerjasama untuk kepentingan keamanan Libya dan ekonomi, dan bahkan berhasabat dengannya, selama 42 tahun Qadhafi dinilai berlaku kejam terhadap para pengemban dakwah Islam dan rakyatnya sendiri. Di sinilah kita harus mengambil pelajaran, agar tidak ber-wala’ kepada kesesatan sehingga tak berakhir dengan kesesatan yang sama.

Musuh-musuh Islam sudah mempelajari Islam berabad-abad dengan orientalisme mereka. Mereka paham apa yang akan melengahkan umat dari permasalahan sesungguhnya, dan salah satu cara yang mereka lakukan adalah dengan menciptakan musuh yang tidak kelihatan, seperti iluminati, permasalahan secret society (perkumpulan rahasia) seperti freemansonry dstnya.. sehingga mengakibatkan umat tidak waspada terhadap musuh yang sesungguhnya yaitu para kapitalis yang menguasai kekayaan alam mereka, dan juga mengakibatkan perasaan tidak berdaya untuk menghadapi musuh yang katanya rahasia..

Negara-negara kapitalis yang dipelopori oleh Amerika selalu menjarah kekayaan alam di negeri negeri Muslim. Merekalah yang menanam antek-antek mereka apakah melalui wakil rakyat bahkan kepala negara di negeri negeri Muslim itu sendiri. Dan merekalah yang mengatur skenario sandiwara paa pemimpin negeri-negeri Muslim tersebut. Dan hal itu terjadi tanpa disadari oleh umat.

Tapi mengapa kita tak pernah bisa membedakan mana teman dan mana lawan?

Ada sebuah artikal yang seharusnya dibaca kaum Muslim Indonesia, dari seorang mahasiswa Indonesia yang lama tinggal di Libya. Namanya, Kusworo Nursidik berjudul “Libya: Antara Motif Minyak, Nilai Islam dan Tirani Baru” yang pernah dimuat www. hidayatullah.com, Rabu, 30 Maret 2011.

Di antaranya dia menulis, selama ini Libya lantang menentang Barat dan tidak tergantung kepada bantuan asing seperti negara Arab. Libya bahkan sebagai negara yang tidak punya hutang malahan aktif memberikan sumbangan ke negara-negara lain terutama Afrika.

Pembelaan dan bantuan kemanusiaan dan dakwah dari Libya kepada dunia Islam selama ini sangatlah signifikan, termasuk dakwah di Indoensia. Di Indonesia sudah ratusan da`i alumni dari Kuliyah Da`wah Islamiyah Tripoli dengan fasilitas beasiswa, juga pembangunan masjid dan Islamic Center dan bantuan pendidikan di beberapa ormas Islam di Indonesia.

Yang menarik, menurut Kusworo, di jaman Qadhafi, menanggalkan jilbab bagi wanita Libya adalah hal tabu dimata masyarakat Libya. Prostitusi dan minuman keras secara resmi dilarang oleh pemerintah. Siaran TV dan radio didominasi oleh acara-acara dakwah dan bacaan al-Qur`an.

Masjid dipenuhi jamaah sholat lima waktu. Masjid-masjid tersebar sangat banyak di Libya, bahkan saking banyaknya Libya disebut pula negara sejuta masjid.

Bahkan menurut si penulis, seperlima penduduk Libya (lebih satu juta orang)adalah penghafal al-Qur`an. Pergaulan bebas, kehidupan hedonis-sekuler saat ini tidak tampak sebagaimana di Tunisia dan Mesir. Bahkan kalau kita naik taksi kita akan mendapatkan sopir taksi asyik mendengarkan lantunan al-Qur`an lewat radio.

Rakyat Libya sangat menjaga kultur Arab dan Islam, bangga dengan bahasa Arab dan akan menghormati orang asing yang berbicara dengan bahasa Arab. Inilah yang jarang diketahui banyak orang –bahkan sebagian rakyat Indonesia– yang ikut-ikutan mendukung menurunkan Qadhafi.

Akhirul kalam, jatuhnya Qadhafi, bukan berarti akan menyelesaikan permasalahan di Libya, karena permasalahan di Libya bukan selesai dengan jatuhnya Qadhafi. Yang bisa diprediksi, pemberontak Libya dukungan Barat ini pastia akan menjadikan orang di luar orang beriman sebagai kawan, sebagai konpensasi bantuan selama ini.

Kepada kita semua –khususnya media Islam—mengapa kita tidak mau mengambil pelajaran dari itu semua? Bukankah sudah jelas;

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS: Ali Imran: 118)

Meminjam ucapan Bush, “Eeither you are with us or you are with the terrorists”?

Wallahua’lam bishshowab ..

M Thamrin, Pasuruan, Jawa Timur

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !