Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Surat Pembaca

Awas! Rupiah Anda Kadaluarsa

Bagikan:

PERNAHKAH terpikir dalam benak Anda, bila suatu hari rupiah yang Anda miliki saat ini dinyatakan kadaluarsa oleh Bank Indonesia (BI)? Karena itu sebagai seorang numismatik, saya sarankan kepada Anda untuk jangan menyimpan lembaran rupiah di rumah Anda!

Peraturan BI No. 2/18/PBI/2000 tanggal 20 Juli 2000 tentang Pencabutan dan Penarikan Uang Kertas Pecahan: Rp 10.000 emisi 1992, Rp 20.000 emisi 1992, 1995, Rp 50.000 emsi 1993-1995, Pasal 4, menyebutkan bahwa: hak untuk menuntut penukaran uang kertas tersebut tidak berlaku lagi setelah 10 tahun sejak tanggal pencabutan atau sejak tgl. 20 Agustus 2010.

Peraturan sepihak ini kurang disosialisasikan kepada masyarakat sehingga memakan korban kerugian di pihak masyarakat yang masih menyimpan dan memiliki uang kertas tersebut.

Sebut saja Pak Ode, lelaki paruh baya dari Kalimantan Tengah ini. Baru-baru ini ia datang ke kantor pusat BI di Jalan Thamrin, di Jakarta, untuk menukar uang kertas rupiah lama emisi 1993-1995 tersebut. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, sekitar Rp 850 juta, yang didominasi oleh lembaran Rp 50.000,- bergambar HM Soeharto tersenyum.

Sesampainya di kasir penukaran uang lama BI, uang rupiah lama tersebut ditolak dan dinyatakan “worthless”, tidak dapat ditukar lagi. Maka spontan raut wajah Pak Ode berubah sedih. Bagaimana tidak sedih, uang lama sebesar Rp 850 juta tersebut beliau dapat sebagai warisan dari orang tuanya (ibunya) hasil menjual tanah berhektar-hektar.

Alkisah pada tahun 1998, orang tua Pak Ode menjual tanah dengan uang kertas tersebut, namun karena sudah pikun ia menyimpannya di sebuah lemari rahasia, tapi lupa diberitahukan kepada anak-anaknya. Suatu hari orang tua Pak Ode ini wafat di awal Desember 2010, dan keluarga Pak Ode menemukan uang lama itu. Maka ia kemudian berusaha menukarkannya di BI Kalimantan Tengah. Oleh petugas BI di sana, uang tersebut ditolak, dan akhirnya beliau disarankan untuk menukarnya di kantor pusat BI di Jakarta.

Apa daya, BI pusat pun menolaknya. Karena uang rupiah tersebut ditolak BI, maka harapan keluarga Pak Ode untuk bisa menggunakan warisan tersebut pupus. Akhirnya Pak Ode bertemu dengan kolektor numismatik Indonesia yang menganjurkan untuk menjual uang-uang lama itu hanya sebagai barang koleksi. Tapi tentu saja harganya jauh di bawah nominal. Uang Rp 850 juta tersebut hanya ditawar oleh seseorang dengan harga Rp 10 juta saja!

Bandingkan dengan koin dirham, para pedagang perak di Pasar Baru Jakarta pun akan berani membeli koin seberat 3 gram tersebut, paling tidak, seharga Rp 27.000,- , sebagai hitungan barang rongsokan.

Artinya koin dalam keadaan rusak. Nah, sekali lagi saya sarankan untuk jangan pernah menabung uang kertas, karena kalau sudah terkena peraturan worthless, maka musnahlah tabungan Anda tersebut.

Suyan al Jawi
Numismatik Indonesia dan Pemilik Wakala al Faqih Cilincing, Jakarta Utara

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Koperasi Syariah 212

Koperasi Syariah 212

KISPA Dukung Rekonsiliasi Hamas – Fatah

KISPA Dukung Rekonsiliasi Hamas – Fatah

Burkini dan Islamophobia Akut

Burkini dan Islamophobia Akut

Sikap FPI tentang Bocoran WIKILEAKS

Sikap FPI tentang Bocoran WIKILEAKS

Wahabi Antara Syiah dan Stigma Kolonial

Wahabi Antara Syiah dan Stigma Kolonial

Baca Juga

Berita Lainnya