Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Syiar Ramadhan

Ramadhan, Momentum Persatuan Umat Islam [1]

Bagikan:

Oleh: Mahmud Budi Setiawan

SAMPAI saat ini, persatuan umat Islam masih sukar diwujudkan. Terkadang, hanya karena perbedaan-perbedaan furu`iyah (cabang) terkait masalah fikih (seperti: penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal, jumlah rakaat Tarawih, qunut tarawih dan subuh, dll), sesama muslim tidak saling sapa bahkan bermusuhan.

Padahal, selama tidak menyangkut masalah ushul (urusan pokok keagamaan), semestinya umat harus bertoleransi agar energinya tidak habis sia-sia. Karena itu, Ramadhan bisa dijadikan momentum bagi umat Islam untuk meneguhkan kembali persatuan.

Bila ditelaah melalui Al-Qur`an, Hadits, dan sejarah, secara implisit bisa ditemukan hal-hal yang mendukung pernyataan ini.

Dalam al-Qur`an ada beberapa ayat –yang secara tersirat- menjelaskan spirit persatuan, di antaranya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Pada ayat ini, yang diperintah untuk melaksanakan puasa adalah orang-orang beriman. Dalam bahasa Arab, kata yang menunjukkan banyak disebut, ‘jama’ (plural). Ini berarti puasa berlaku untuk semua orang-orang yang beriman, tanpa terkecuali. Bukan pada individu tertentu. Puasa di bulan Ramadhan dikerjakan secara kolektif dan serentak. Sedangkan ‘Kawan dekat’ kolektifitas ialah: spirit persatuan.

Bukankah jama`ah harus bersatu?

Sebagaimana ayat

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 103). Larangan bercerai-berai mengindikasikan pentingnya persatuan jama`ah.

Bila dikaitkan dengan jama`ah di bulan Ramadhan, maka logikanya bisa disusun seperti berikut:

Puasa di bulan Ramadhan diwajibkan secara kolektif. Kolektifitas mengharuskan persatuan. Maka, dalam ibadah puasa, spirit persatuan harus senantiasa dijaga. Karena itu, Ramadhan adalah momentum yang pas untuk persatuan umat yang harus tetap dijaga pada bulan-bulan berikutnya.
Lebih dari itu, di akhir ayat dijelaskan, tujuan akhir orang berpuasa, yaitu: supaya bisa mewujudkan komunitas yang takwa (la`allakum tattaqun: agar kalian bertakwa). Bagaimana mungkin bisa lahir komunitas takwa tanpa adanya upaya serius untuk menjaga persatuan umat?

Ada juga ayat lain

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Kata man (barangsiapa) dalam bahasa Arab menunjukkan pada sesuatu yang bersifat umum. Jadi, siapa saja yang merasa beriman dan sudah masuk kategori mukallaf (yang sudah mendapat tanggungan syariat), yang tidak ada halangan, maka wajib berpuasa. Semua perintah dari ayat-ayat tersebut secara tersirat mengandung pentingnya persatuan.* (bersambung)

Penulis adalah peserta PKU VIII UNIDA Gontor 2014

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Yayasan APL Santuni 1000 Anak Yatim

Yayasan APL Santuni 1000 Anak Yatim

Imam Masjid Gaza Terharu dengan Muslim Indonesia

Imam Masjid Gaza Terharu dengan Muslim Indonesia

Intan, Dari Seorang Punk, Kini Menjadi Muslimah Kaffah

Intan, Dari Seorang Punk, Kini Menjadi Muslimah Kaffah

Doa untuk Suriah dan Rohingya Dari Musholla Baabul Firdaus

Doa untuk Suriah dan Rohingya Dari Musholla Baabul Firdaus

Sari Anggrek Gelar ‘Buber ‘ dan Bagi-bagi THR

Sari Anggrek Gelar ‘Buber ‘ dan Bagi-bagi THR

Baca Juga

Berita Lainnya