Kamis, 9 Desember 2021 / 4 Jumadil Awwal 1443 H

Syiar Ramadhan

Kisah Anak Punk: Mengaku Islam Telah Membuat Hidupnya lebih Teratur

Felix Havox dan Craig O’Hara gak akan bisa menolong jika gue akan dijorokin ke neraka
Bagikan:

ADA pepatah mengatakan, “Ala bisa, karena biasa.”  Suatu hal akan menjadi kebiasaan jika sering kita melakukannya. Termasuk kebiasaan baik atau buruk.

Inipula yang sedang menimpa Nurhadiansyah. Hasil dari mendengarkan ragam lagu-lagu Punk. Remaja yang baru berumur 14 tahun itupun ikut berubah gaya hidupnya. Celana jeans ketat, sepatu boot, kemeja flanel hingga rambut mohawk dilakoninya. Dia ingat betul saat itu tahun 1995. Tren underground baru menyemarakkan bumi Indonesia. Seperti kebanyakan teman-teman, aktivitas bermain band-pun dilakoninya.

“Pada titik itulah gue tertarik untuk menjadi seorang Punk. Setelah lama bergelut di dunia Punk, akhirnya gue pun mulai tertarik dengan filosofi anarki,” kelasnya kepada hidayatullah.com belum lama ini.

Bagi Nurhadiansyah atau sering dipanggil Cirex ini, dunia Punk bukan hanya sebatas musikalitas semata. Punk juga penuh pemikiran dan kontradiktif pertarungan diri. Dunia Punk hampir sama dengan dunia pada umumnya.

Ada anak Punk yang peduli dengan masalah keadilan masyarakat. Ada juga anak Punk yang cuek-bebek dan doyan mabuk saja. Ada yang tertarik dalam masalah perubahan sosial tapi ada juga yang tukang tipu dan tidak amanah. Bahkan ada pula yang arif budiman.

“Ada juga yang brengsek bin bajingan. Sama ajalah. Tapi, ya, gue belajar kritis dalam memandang kehidupan itu ya dari Punk. Bukan dari bangku sekolah,” tambah lelaki yang suka membaca buku ini.

Seiring waktu. Lelaki yang dikenal mahir memainkan alat musik drum ini mulai bosan. Ragam band-band Punk ternama yang dilakoninya ternyata tak kunjung hadirkan kepuasan batinnya. Cirex mulai mencari-cari jawaban sesungguhnya atas alasan dia hidup? untuk apa dia hidup? Dan kemana arah hidupnya?

Sekitar tahun 2001 diapun mulai memikirkan untuk mencari ruangan hidup yang baru.

“Gue berhenti menjadi seorang punk ketika gue udah mulai belajar ngaji. Meskipun saat itu gue masih suka berbuat dosa, tapi gue sadar bahwa punk bukanlah jalan hidup gue,” jelas suami dari Mailinda Safitri ini.

Saat itu, ketika Cirex bertanya apakah ada hidup setelah kematian? Dan jawaban yang ia temukan adalah keraguan jika hidup setelah kematian itu tidak ada.

Rupanya nuraninya tak bisa membohongi dirinya. Tentang surga dan neraka. Tentang Yaumil Akhir. Tentang sakratul maut dan Hari Pembalasan di akherat kelak.  Cirexpun tersadarkan, Punk tidak bisa menyelamatkan dia dalam hal ini.

“Felix Havox dan Craig O’Hara enggak akan bisa menolong gue ketika gue akan dijorokin ke jurang neraka. Mikhail Bakunin dan Pieter Kropotkin juga enggak akan bisa berbuat apa-apa ketika gue disiksa di akhirat kelak,” jelas ayah dari Najma Zahira ini.

Walau tertatih-tatih, Cirex tetap berjuang untuk terus merubah diri. Proses demi proses dilakoninya untuk melepaskan diri dari dunia Anarko-Punk yang penuh filsafat freethinker. Anarko-Punk istilah untuk bagian dari gerakan punk yang dilakukan baik oleh kelompok, band, maupun individu-individu yang secara khusus menyebarkan ide-ide Anarkisme. Dengan kata lain, Anarko-punk adalah sebuah sub-budaya yang menggabungkan musik punk dan gerakan politik anarkisme.

Walau tidak sempat menjadi atheis, Cirex sadar kenakalan berpikirnya tentang Tuhan dan  agama hampir saja menyesatkan dia lebih jauh.

“Dari sinilah gue mulai mendalami Islam meskipun masih terbata-bata dan saat itu gue ingin segera meninggalkan candu Punk dalam hidup gue,” jelas penulis buku “Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta ini”.

Dalam proses pencarian dan pelarian hidupnya itu Cirex lantas bertemu dengan komunitas Lingkar Pena. Cirex juga ikut mengaji di kelompok pengajian. Selain dari komunitas-komunitas dakwah, Cirex juga mulai mengganti buku-buku bacaannya. Buku-buku bernuansa filsafat dan kontra Islam sekejab berubah jadi buku-buku akidah dan pemikiran-pemikiran Islam. Wawasannya yang bertumbuh dari ragam bacaannya membuat dia menjadi orang yang juga gemar menulis.

“Cita-cita gue pengen menjadi penulis tuh besar banget. Alhamdulillah Allah mempertemukan gue dengan Forum Lingkar Pena Depok. Maka tanpa pikir panjang lagi, mendaftarlah gue ke sana,” tambah laki-laki yang pernah menjadi ketua Lingkar Pena Depok ini.

Dalam proses perjalanan dan pembelajaran hidup dan keislamannya. Cirex semakin merasa dekat dengan Allah setelah pertemuannya dengan Fifi. Fifi adalah panggilan akrab sang Istri tercinta yang kini setia menjadi sayap dalam penerbangan kehidupan yang dilaluinya. Kesamaan visi-misi hidup untuk membangun keluarga berdasarkan Al Qur’an. Membuat Cirex dan Fifi mau menyatukan ijab qabul menggapai ridho Ilahi.

“Kasih sayang Allah yang paling berkesan adalah ketika Dia mengajari gue akan banyak hal. ‘Alamal insaana maa lam ya’lam. Saat ini gue cuma pengen melindungi diri gue dan keluarga gue dari api neraka,” jelasnya sambil mengela nafas.

Hidup Teratur

Lelaki yang memiliki nama Pena Noor H Dee ini memiliki kesan tersendiri di Ramadhan tahun ini. Setelah 10 tahun meninggalkan Punk. Cirex justru bisa tetap menjaga silahturahim dengan kawan-kawan lamanya di komunitas Punk. Bahkan ia merasakan efektifitas dakwah paling efektif dengan komunitas Punk adalah dengan keteladanan.

Lelaki yang kini menjadi penasehat Lingkar Pena Depok ini semakin tenggelam dalam kekhusyuan hidup sebagai seorang Muslim. Anak pertamanya telah memberikan warna inspirasi tersendiri. Semangatnya untuk meruskan kuliahpun bangkit. Islam telah membuat hidupnya lebih teratur. Islam telah memberikan jawaban arah yang jelas dari tujuan hidupnya.

Cirex mengakui, di zaman Punk dulu ia selalu melihat kehidupan dari kacamata kebencian dan pemberontakan. Namun begitu kenal, ia melihatnya sangat jauh berbeda.  Gagasan anti ketidakadilan langsung berbalut dengan bukti kongkrit solusinya. Sosok Nabi Muhammad adalah figur tak tertandingi yang menginspirasi hidupnya.

Kini, kurang lebih 10 tahun sejak ia terjebak dalam euforia Punk. Cirex bersyukur Allah telah menjadikan salah satu dari sekian banyak orang yang disentuh Hidayah.

Mendapatkan energi dan kemauan untuk berubah adalah petunjuk yang harganya tidak murah bagi dirinya. Saat ini, ia hanya berharap Allah tidak membolak-balikan hatinya. Hingga ia bisa bertemu kembali dengan sang istri dan anak tercinta bersama orang-orang beriman di Surga Allah yang abadi kelak.*

Rep: Ibnu Sumari
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Delapan Langkah Menyambut Ramadhan!

Delapan Langkah Menyambut Ramadhan!

Pemuda Madinatul Iman Tebar Guru Mengaji dan Parfum “GSM” di Balikpapan

Pemuda Madinatul Iman Tebar Guru Mengaji dan Parfum “GSM” di Balikpapan

SaDaQaH  online

SaDaQaH online

[Berita Foto] Antri untuk Bisa Shalat Jumat di Al-Quds

[Berita Foto] Antri untuk Bisa Shalat Jumat di Al-Quds

Uni Emirat Arab Bagi-Bagi Sembako Ramadhan

Uni Emirat Arab Bagi-Bagi Sembako Ramadhan

Baca Juga

Berita Lainnya