Kamis, 25 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Syiar Ramadhan

Maksimalkan Ramadhan, Keluarga Muslim Tinggalkan Televisi

Upaya MUI untuk melabelisasi halal-haram bagi tayangan telavisi patut didukung
Bagikan:

Hidayatullah.com—Tayangan televisi pada bulan Ramadhan jauh dari nilai edukatif.  Sehingga banyak keluarga Muslim mulai meninggalkan televisi demi memaksimalkan ibadah pada bulan penuh ampunan ini.

Pernyataan ini disampaikan KH Wahfiudin Sakam, Kepala Bidang Pendidikan dan Pelatihan Jakarta Islamic Centre (JIC), saat berbincang dengan hidayatullah.com, Sabtu (04/08/2012) siang di Jakarta.

“Saya perhatiakan semakin banyak keluarga Muslim (khususnya pada waktu sahur) tidak mau setel televisi,” kata Kiai Wahfiudin.

Kata Kiai Wahfiudin, kaum Muslimin mulai sadar jika waktu sahur adalah waktu yang berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka semakin banyak keluarga Muslim yang memanfaatkan waktu sahurnya itu bukan untuk nonton televisi, melainkan untuk shalat dan berdoa.

“Kesadaran itu semakin tumbuh, mereka menghindari acara-acara yang sifatnya cengengesan,” tandasnya.

Kiai Wahfiudin tidak yakin jika stasiun televisi mau menayangkan acara-acara edukatif  yang dapat menjaga dan meningkatkan martabat umat Islam. Menurutnya industri televisi adalah etalase, display bagi kegiatan perdagangan bisnis. Dan yang paling dibidik itu konsumen individual, sehingga acara televisi itu sangat bergantung dengan rating.

“Oleh karena itu sulit ada tayangan keislaman di televisi yang edukatif, kontemplatif. Saya  sendiri dan keluarga jarang sekali nonton televisi,” katanya.

Beliau tak habis pikir, mengapa di Indonesia banyak sekali tayangan-tayangan televisi yang dapat merusak martabat masyarakat Indonesia yang menjunjung nilai-nilai ketimuran. Padahal di negara mana pun proteksi nilai-nilai martabat masyarakat benar-benar dijaga.

“Orang Amerika pun tidak mau nilai-nilai keamerikaannya dirusak  oleh tayangan televisi,” jelasnya.

Untuk itu, Kiai Wahfiudin sangat mendukung rencana Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk memberi label halal atau haram bagi tayangan televisi.

“Harus diupayakan, supaya setiap Muslim yang merupakan mayoritas di negeri ini punya respek. Kita jangan tunduk oleh pemilik kekuatan modal,” tutupnya. *

Rep: Ibnu Syafaat
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Para TKW di Malaysia Gelar Lomba Baca Al-Quran dan Cerdas Cermat

Para TKW di Malaysia Gelar Lomba Baca Al-Quran dan Cerdas Cermat

Puasa Bukan Sebuah Penderitaan

Puasa Bukan Sebuah Penderitaan

Ramadhan di Mesir: Satu Tarawih 10 Juz

Ramadhan di Mesir: Satu Tarawih 10 Juz

TDA Bandung Bagi 200 Paket Ramadhan

TDA Bandung Bagi 200 Paket Ramadhan

Ramadhan di Kota Patriot Dan Nasehat Tentang Berjamaah

Ramadhan di Kota Patriot Dan Nasehat Tentang Berjamaah

Baca Juga

Berita Lainnya