Senin, 6 Desember 2021 / 30 Rabiul Akhir 1443 H

Syiar Ramadhan

Merasakan Ramadhan di Hadramaut [Bagian I]

Bagikan:

Oleh: A. Syukron Amin

Hidayatullah.com–Suasana bulan Ramadhan di setiap daerah mungkin berbeda-beda, karena sebagian masyarakat akan menikmatinya sesuai dengan tradisi maupun budaya sehingga tampak sebagai suatu keunikan yang perlu disoroti. Namun, menurut penuturan beberapa sumber, suasana Ramadhan di Arab hampir sama. Begitu juga yang terjadi di ibukota Yaman, Sana’a. Hal ini bisa terjadi, karena adanya komunitas yang homogen.

Keunikan-keunikan dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan di negeri perantauan tentu sangat menarik untuk dikaji dan disampaikan. Tidak berlebihan jika setiap orang yang pernah menjalani serta merasakannya akan berkata, “Lebih enak puasa Ramadhan di Arab, dibanding berpuasa di Indonesia.”

Suasana yang aman, damai, dan didukung oleh iklim yang dingin, mungkin salah satu faktor  terbentuknya kenyamanan dalam menjalankan ibadah di bulan suci ini. Di bawah ini, sedikit akan saya ceritakan suasana bulan Ramadhan di Sana’a. Namun sebelumnya, mungkin kiranya perlu diketahui secara singkat mengenai situasi dan kondisi salah satu kota tua di Arab ini pada bulan-bulan lain selain Ramadhan.

Yaman sebagai negara demokrasi yang aman, damai, dan tenteram, tampaknya masih sebuah keniscayaan. Meskipun mayoritas penduduknya muslim, serta menjunjung nilai-nilai Islam sebagai agama yang cinta damai, yang seharusnya bisa menjadikan mereka selamat dan terhindar dari pertikaian –baik dari resiko politik maupun permusuhan suku–, namun sayangnya mereka belum bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Jadi jangan heran jika baru-baru ini –meskipun telah memasuki bulan mulia ini–, di samping masih adanya demonstrasi yang mengancam keutuhan Republik Yaman (baca; pro disintegrasi), juga masih saja terjadi pertumpahan darah, antara pihak Pemerintah dengan gerakan separatisme di wilayah Sa’dah hingga Amran. Jarak lokasi pertikaian lebih dari seribu kilometer  dari pusat pemerintahan. Kendati demikian, kondisi tersebut tidak mempengaruhi aktivitas penduduknya dalam menghadapi bulan Ramadhan. Maka, rasa aman, sentosa, penuh dengan ketenteraman masyarakat Yaman –di luar Sa’dah dan Amran– sejauh ini masih kondusif.

Menyambut Ramadhan

Sebagai ibukota yang padat penduduknya, suasana Yaman ini semakin indah dipandang di malam hari. Anggapan malam bagaikan siang hari,  sebuah hal yang tidak bisa dihindari. Sejenak nafas aktivitas kota terhenti, jantung para penduduk berdebar tak sabar, dan tak tahan ingin memeluk datangnya bulan Ramadhan. Saat fatwa awal Ramadhan dari Mufti yang ditunggu-tunggu datang, gemuruh masjid seakan menggemparkan suasana yang tadinya hening.

Suasana menjadi merinding, menyambut langkah-langkah pasti menuju kemenangan. Mungkin itulah suasana dalam menyambut bulan Ramadhan di kota Sana’a, yang penuh akan kesibukan. Berbeda dengan suasana yang ada di provinsi-provinsi lain maupun di kampung yang sangat teduh nan hikmah –bahkan jauh hari sebelumnya telah diadakan berbagai persiapan, seperti membersihkan dan menyiapkan tempat lebih nyaman untuk para jamaah, mengadakan lomba menghafal Al-Quran untuk anak-anak, dan sebagainya.

Suatu hal unik yang mungkin dapat dijadikan sebagai tauladan atau mengambil pelajaran darinya dalam menyambut Ramadhan di ibukota Yaman sebagai refleksi dari pemaknaan hakekat puasa, yaitu pembagian beberapa sembako bagi penduduk yang kurang mampu. Rasa persaudaraan sesama muslim begitu kuat, yang dapat dilihat dengan adanya saling tolong menolong antarsesama. Yang kaya menolong yang miskin, yang kuat membantu yang lemah.

Mungkin telah menjadi rahasia umum jika sebagian orang kaya atau pengusaha di negeri Saba’ ini, selain membangun kantor untuk perusahaannya, juga membangun kantor untuk keperluan bantuan sosial, guna menyalurkan dan membagi-bagikan sembako maupun sumbangan lainnya kepada orang yang tidak mampu, terutama pada bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan di Yaman serasa bernyawa dalam kehidupan bermasyarakat  dengan penuh kerahmatan. Yang kaya bisa menjalankannya dengan damai, dan yang miskin pun ikut merasakan kedamaiannya.

Puasa, begadang, dan syisya

Ada beberapa pemandangan berbeda dari hari-hari biasanya di luar Ramadhan. Di dabbab (angkutan kota), taksi, mikrobus, toko-toko, dan ruang security –terlebih di seluruh masjid– akan dijumpai orang-orang duduk yang membaca atau menghafalkan Al-Quran.  Tak sekedar itu, sikap penduduk yang ramah terlontar dari bibir-bibir kering penuh bersahabat dengan ucapan salam. Yang kuat menjadi lemah terhadap yang lemah.

Beberapa bufiyyah (warung snack dan minuman) mulai buka jam setengah lima sore. Sedangkan semua restoran, KFC, Baskin Robbin, dan Snow Cream, dibuka mulai pukul 20.00 hingga 02.00. Jadi bisa kita tebak, tentu waktu menjelang dan setelah buka puasa kondisi jalan raya sangat jarang dilalui kendaraan.

Para pedagang di sore hari semakin ramai, sesekali teriakan terlontar menarik hati pembeli untuk membeli makanan khas untuk berbuka puasa, seperti syambusa (semacam pastel), bakhomri (sejenis roti), tho’miyyah, bakiyyah (seperti bakwan), dan syurbah (mirip bubur). Semua dihamparkan di pinggir jalan, dan beberapa toko penjual minuman juice murni dan makanan, seperti ‘asyid (hampir sama dengan dodol atau jenang), telah ramai dikunjungi, bahkan ada yang telah mem-booking tempat sebelumnya.

Di beberapa jalan raya depan masjid, orang-orang berdiri membagikan secuil kurma dan sebungkus qahwah (minuman hangat campuran jahe dan kopi). Memang ketika buka puasa, orang Arab lebih gemar minum air hangat, dibanding air dingin seperti kita. Di samping itu, hampir di setiap masjid menyiapkan buka puasa bersama berupa roti mulawwah, bruto, dan rusyus (WNI di Saudi Arabia menyebutnya roti tamis) bagi jamaah yang shalat di masjid tersebut.

Cuaca yang lumayan dingin di dataran tinggi ini, sangatlah bersahabat. Tak terasa hening sesaat, jam 06:15 sore telah terdengar kumandang azan, seakan puasa sangatlah singkat. Saatnya orang-orang muslim meraih kebahagiaan pertamanya di dunia.

Maghrib dan Isya berlalu, masjid-masjid dipenuhi oleh wajah-wajah berseri. Shalat tarawih seakan menjadi shalat fardhu. Bagi pelajar Indonesia di sini, biasanya melaksanakan shalat berjamaah di masjid lembaga pendidikannya. Sesekali, masyarakat Indonesia mengadakan buka bersama dan shalat berjamaah di Ruang Serba Guna KBRI Sana’a, ataupun undangan buka puasa bersama di rumah-rumah para diplomat, pengusaha maupun karyawan Indonesia yang berdomisili di sini.

Masjid Agung Presiden Ali dianggap sebagai ibu bagi masyarakat Yaman dan pelajar asing seperti Indonesia. Masjid ini begitu ramah dan sangat dermawan, dengan selalu menyantuni jamaahnya. Selalu saja ada pembagian zakat, berikut kepadatan antrian untuk berbuka puasa dan menerima zakat.

Masjid Hail Sail di kawasan Hail kadang membagikan santunan. Sebuah Jam’iyah Ta’awuniyah (baca; LSM) di distrik tertua di Sana’a  pun sering membagikan zakat dan sembako bagi yang tidak mampu. Dan sebagian besar mesjid-mesjid yang ada di ibukota kebudayaan Arab ini senantiasa memberikan bantuan bagi yang tidak mampu.

Jika hal ini dibandingkan dengan kondisi di Indonesia, tentulah sangat berbeda jauh. Di Indonesia orang-orang memakmurkan masjid, sedangkan di Sana’a sebaliknya. Masjid sangat berperan memakmurkan masyarakatnya.

Tempat-tempat hiburan malam berjalan sebagaimana adanya. Café-café dipenuhi asap syisya (rokok Arab) dan wajah-wajah serius dengan kunyahan qat yang cukup besar di salah satu pipi (seperti masyarakat Lombok yang mengunyah sirih, red). Tampak juga wajah-wajah suntuk dan letih setelah seharian bekerja. Klub malam yang mempunyai izin resmi, terlihat kelebihan pengunjung dibanding biasanya. Bisa dikatakan bahwa aktivitas di malam hari jauh lebih padat di banding siang hari.

Mungkin akan timbul pertanyaan, mengapa tidak ada larangan untuk menutup tempat-tempat tersebut? Jawaban terhadap pertanyaan tadi sangatlah sederhana, yaitu karena niat dan tujuan. Orang Yaman ke café atau bar dengan tujuan untuk santai dan bersenang-senang menghibur diri. Sedangkan orang Indonesia, mungkin ke bar atau café dengan tujuan untuk mabuk dan menyiksa diri, bahkan tidak jarang untuk membuat keonaran sebagai tempat pelarian dari masalah.

Sebagai bahan introspeksi dan refleksi, mungkin ada benarnya dalam menguji keimanan seorang muslim dengan menghadapinya, bukannya lari darinya. Jika seorang muslim mampu dalam menghadapi godaannya, maka luluslah keimanannya . Jika ia tergoda, maka keislamannya dapat dipertanyakan. Maka menurut penulis, jika di Indonesia tidak ada larangan penutupan tempat-tempat hiburan tersebut, maka jadikanlah sebagai ajang pelatihan iman di bulan Ramadhan. Kalaupun ada larangan, maka berfikir dan berusahalah mencari solusi alternatif lain lapangan kerja dalam menanggulanginya.

Selama lima tahun tinggal di Yaman, penulis tidak pernah mendengarkan bunyi gendang ataupun suara gerombolan orang berkeliling membangunkan yang sedang tidur lelap atau ketiduran untuk bersiap-siap sahur, seperti layaknya di Indonesia.

Ini karena kebiasaan orang Yaman di bulan puasa adalah begadang hingga waktu subuh, dan mereka akan tidur setelah menjalankan shalat subuh hingga pukul 09.30, kemudian bersiap-siap menjalankan aktvitas mereka sehari-hari –khususnya di perkantoran dan pertokoan– sampai pukul 15.00.

Dawwam (jam kerja) resmi ini berbeda dari biasanya, yang dimulai pukul 08.00 dan diakhiri pukul 13.00. Praktis, ketika pagi hari lalu-lalang lalu lintas sangatlah sepi.

Hal menarik lainnya juga akan dijumpai, saat-saat sepuluh hari terakhir Ramadhan –yang di dalamnya terdapat “lailatul qadr”– masjid-masjid di Sana’a hingga halamannya dipenuhi oleh orang-orang yang sedang i’tikaf (berdiam diri dengan niat ibadah). Di jalanan terlihat orang-orang membagi-bagikan zakat dan sedakah kepada fakir dan miskin.

Malam-malam bilangan ganjil Ramadhan adalah malam yang sangat indah dan ramai di setiap masjid, terutama di masjid Jami’ Kabir yang terletak di kawasan Babul Yaman, sebuah masjid bersejarah yang dibangun oleh Sayyidina Ali r.a. Hampir tidak ditemukan celah yang kosong untuk berbaring, karena dipadatkan oleh banyak orang. Tangisan sedih di akhir Ramadhan terdengar lirih di setiap masjid, bagaikan orang yang kehilangan kekasih tercinta. [bersambung di Bagian II/www.hidayatullah.com]

Penulis adalah mahasiswa  Jurusan Islamic Studies di Yemenia University dan Mantan Ketum PPI Yaman

 

foto: reuters pictures/dlf

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Halal Corner Bagikan 1000 Paket Ifthar Halal

Halal Corner Bagikan 1000 Paket Ifthar Halal

Ibu Hamil Tetap Bisa Berpuasa

Ibu Hamil Tetap Bisa Berpuasa

Obama Gelar Iftar dengan Tokoh Muslim

Obama Gelar Iftar dengan Tokoh Muslim

Jama’ah Sholat Zuhur Masjid Istiqlal Meningkat 30 Persen Tiap Ramadhan

Jama’ah Sholat Zuhur Masjid Istiqlal Meningkat 30 Persen Tiap Ramadhan

[Berita Foto] Persiapan Kue Lebaran

[Berita Foto] Persiapan Kue Lebaran

Baca Juga

Berita Lainnya