Umat Islam Pakistan Berpuasa di Bawah Suhu 46 Derajat Celsius

Bagi warga kampus International Islamic University (IIU) of Islamabad, ketika listrik mati, mereka menuju ke kamar mandi untuk mandi ataupun membasahi sarung/kain, yang nantinya akan diikat di kepala sebagai pereda panas. Tentu karena alat pendingin sedang tak bisa berfungsi.

Umat Islam Pakistan Berpuasa di Bawah Suhu 46 Derajat Celsius
Adnin Zahir
Suasana sahur di mess hostel kampus IIU Islamabad, Pakistan, Ramadhan 1438 H.

Terkait

Hidayatullah.com– Menjalani ibadah puasa di negeri orang tentu berbeda dengan apa yang kita rasakan di negeri Indonesia tercinta.

Saat ini di Pakistan sedang mengalami musim panas, dan waktu berpuasa disini sekitar 16 jam. Beda jika saat musim dingin berpuasa hanya 10 jam.

Saya merasakan puasa Ramadhan di negeri Ali Jinnah ini, tepatnya di Islamabad, sudah tiga tahun.

Di negara yang mayoritas Muslim ini, penduduknya cukup taat menjalani puasa. Khususnya di Islamabad, jarang sekali -kalau boleh dikatakan tidak pernah- saya temui orang yang tidak berpuasa, apalagi dengan terang-terangan.

Pun demikian dengan non-Muslim. Mengetahui datangnya bulan Ramadhan, mereka menjaga diri untuk tidak makan minum di depan khalayak ramai.

Tak seperti di Indonesia, saya jarang sekali temui penjual penganan menu takjil di Islamabad. Di sini, toko-toko sudah mulai tutup setengah jam sebelum azan maghrib sebagai persiapan untuk berbuka. Jangan harap untuk melobi, karena kalau sudah urusan ini mereka tidak mau tawar-menawar lagi.

Menjalani ibadah puasa di musim panas juga merupakan sebuah tantangan, khususnya bagi yang belum pernah ke sini. Selain waktu puasa yang lebih lama dibanding di Indonesia, kaum Muslimin di sini juga menghadapi hawa panas yang cukup menyengat, bahkan sampai 46 derajat celsius.

Perlu diketahui, Pakistan merupakan negara yang masih kekurangan listrik. Sehari bisa 2-3 kali listrik padam, durasinya antara 2-3 jam.

Tak heran, bagi warga kampus International Islamic University (IIU) of Islamabad, ketika listrik mati, mereka menuju ke kamar mandi untuk mandi ataupun membasahi sarung/kain, yang nantinya akan diikat di kepala sebagai pereda panas. Tentu karena alat pendingin ruangan sedang tak bisa berfungsi.

Pun demikian dengan warga sekitar, bagi mereka yang mendapat jatah kerja tentu akan lebih berat lagi.

Hari yang ditunggu-tunggu warga Indonesia di sini adalah Jumat dan Sabtu. Dimana KBRI Islamabad selalu mengadakan acara buka puasa bersama bersama seluruh warganya. Hidangan yang disajikan merupakan hidangan khas Indonesia.

Dalam momentum ini pula, kita dapat bercengkrama dengan warga sekaligus merupakan momentum untuk mempererat silaturrahmi.

Dan memang benar, bulan ramadhan merupakan bulan penuh berkah. Alhamdulillah.* Kiriman Adnin Zahir, mahasiswa BS Islamic Studies, IIU, Islamabad

Rep: Niesky Abdullah

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !