Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Ramadhan di Mancanegara

Dua Gadis China Ini Menjalani Puasa untuk Pertama Kali

Nuradlin Lim Cia Cia (kiri) dan Gladys Lim Yin Yin (kanan) berfoto bersama sang ibu dan adiknya.
Bagikan:

Hidayatullah.com–Rasa lapar dan haus tidak menjadi masalah apa pun bagi kedua mualaf ini. Justru melalui bulan Ramadhan ini akan membantu memantapkan iman mereka.

Nuradlin Lim Cia Cia, mahasiswa kedokteran tahun keempat di Universitas Pertahanan Nasional Malaysia, sebenarnya sudah mulai menjalani puasa dua tahun yang lalu, tapi kali ini merupakan pertama kalinya berpuasa sebagai Muslim.

“Sebelum ini saya berpuasa diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua saya karena saya tidak ingin menyakiti perasaan mereka. Ketika adik saya masuk Islam, baru saat itu aku punya keberanian mengikuti jejaknya,” kata gadis berusia 23 tahun ini.

Kata Nuradlin, adiknya, Gladys Lim Yin Yin, 22 tahun, menjadi seorang Muslim tahun lalu.

Dia mengatakan, ibu mereka mendukung langkah itu, sementara ayah masih merasa keberatan.

“Ibu saya sangat mendukung dan memahami. Dia bahkan membangunkan saya setiap hari untuk sahur dan mempersiapkan makanan halal bagi saya,” katanya kepada NST Online, Selasa (15/6/2016).

Namun Nuradlin mengatakan, sebagai mahasiswa kedokteran, dia memiliki jadwal ketat yang tidak selalu memberinya kesempatan melakukan shalat Tarawih di masjid.

“Namun, saya beruntung memiliki teman-teman yang mendukung, yang melakukan shalat bersama dengan saya di rumah,” katanya.

Halim Abdullah (50 tahun), yang sebelumnya bernama Lim Ah Teng dan juga sedang mengalami berpuasa pertama kali, merupakan salah seorang yang mendukung Nuradlin.

“Meskipun selama seminggu ada dorongan untuk makan, tapi aku terus berusaha berpuasa. Saya tidak ingin usaha saya ini sia-sia,” kata Nuradlin.

Halim yang telah menjadi Muslim selama sembilan bulan ini, kata Nuradlin, justru memiliki tantangan lebih besar, yakni sedang dijauhi keluarganya.

Namun kemudian ia beruntung karena telah ‘dijadikan anggota keluarga’ oleh satu keluarga Muslim lain.

“Keluarga saya menentang keputusan saya dan mengusir saya. Namun, saya sangat bersyukur bisa menempuh puasa saat ini dengan keluarga baru saya.

“Keluarga baru saya baru telah menjadi pendukung yang besar. Mereka membantu mengajarkan saya bagaimana cara hidup sebagai seorang Muslim yang tepat dengan membimbing saya melakukan shalat dan membaca Al-Quran,” kata Halim.

Dia mengatakan sempat bersedih karena absen sehari berpuasa karena sakit, namun untuk hari-hari selanjutnya bertekad melaksanakan puasa sampai akhir Ramadhan.

Sementara itu, Nur Syuhada Abdullah, 30 tahun, yang bekerja sebagai operator pabrik, merupakan satu-satunya mualaf di keluarganya

Dia mengatakan, saat ini juga ikut menjalani ibadah puasa dan masih belajar bagaimana melakukan shalat yang benar.

“Untuk saat ini, saya hanya mengikuti apa yang dilakukan Muslim lainnya ketika mereka shalat. Saya bersyukur teman-teman dan tetangga saya telah mengajarkan banyak, terutama untuk kewajiban fardhu ‘ain dan fardhu kifayah.

“Saya tidak merasa lapar selama jam puasa tapi kondisi kerja bisa membuat saya merasa sangat haus. Kadang-kadang saya merasa sangat lesu, namun demikian saya bertekad melanjutkan puasa untuk memenuhi kewajiban agama saya.”*

Rep: Insan Kamil
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Fisik Dikuras Panas, Pikiran Diperas Universitas

Fisik Dikuras Panas, Pikiran Diperas Universitas

Gambar Penduduk Suriah Berbuka Puasa di Tengah Reruntuhan Kota

Gambar Penduduk Suriah Berbuka Puasa di Tengah Reruntuhan Kota

Shalat Jum’at Pertama Bulan Ramadhan di Al-Aqsha Diikuti Sekitar 200.000 Jamaah

Shalat Jum’at Pertama Bulan Ramadhan di Al-Aqsha Diikuti Sekitar 200.000 Jamaah

Pengalaman Iftar di Negeri Paman Sam

Pengalaman Iftar di Negeri Paman Sam

Jutaan Warga Yaman Kekurangan Makanan Selama Ramadhan

Jutaan Warga Yaman Kekurangan Makanan Selama Ramadhan

Baca Juga

Berita Lainnya