Sabtu, 23 Oktober 2021 / 16 Rabiul Awwal 1443 H

Mutiara Ramadhan

Menjadi Manusia Bermartabat dengan Puasa

Bagikan:

Hidayatullah.com | DALAM majalah Serial Khutbah Jum’at No. 2 (1978: 10-15), ada khutbah menarik yang disampaikan oleh Buya M. Natsir terkait al-Qur`an dan bulan Ramadhan. Judulnya, Al-Qur`an Penuntun Rohani Umat Manusia. Meski khutbahnya hanya 6 halaman, namun secara nilai masih relevan untuk diangkat dalam tulisan ini.

Ada banyak panggilan dalam al-Qur`an yang ditujukan kepada orang-orang beriman. Termasuk dalam ayat puasa (QS. Al-Baqarah [2]: 183), juga ada panggilan seperti ini. Panggilan seperti ini, tandas Natsir, tentunya tertuju pada manusia benar-benar hidup.

Apa yang dimaksud dengan manusia yang benar-benar hidup? Kata beliau adalah manusia yang bukan sekadar bernafas sebagaimana hewan, tapi adalah manusia bermartabat yang jika dipanggil oleh Allah dan Rasulnya segera memenuhinya. Ini tercermin dalam firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS: Al-Anfal [8]: 24).

Lebih lanjut Natsir semakin memperjelas, “Hidup artinya berkembang maju, maka seorang mukmin dipanggil oleh Al-Qur`an dan dipanggil oleh Sunnah Rasul. Jawablah panggilan-panggilan dan seruan daripada Al qur`an itu dengan amalmu.” Artinya, hidup akan berarti jika mau memenuhi panggilan Allah dan Rasulnya dengan amal nyata, bukan sekadar retorika.

Baca: Inilah Amalan-amalan Pendamping Puasa

Setelah membaca keterangan Buya Natsir, penulis jadi ingat pesan Ibnu Mas’ud Ra. kepada orang yang meminta nasihat kepada beliau. Pesannya ringkas, namun bernas:

إِذَا سَمِعْتَ اللَّهَ يَقُولُ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا فَأَرْعِهَا سَمْعَكَ فَإِنَّهُ خَيْرٌ يَأْمُرُ بِهِ أَوْ شَرٌّ يَنْهَى عَنْهُ.

“Jika engkau mendengar Allah berfirman: ‘Wahai orang-orang beriman!’, maka perhatikan dengan saksama, karena setelah itu ada kebaikan yang diperintahkan atau keburukan yang dilarang.” Jadi, kadar martabat kita sebagai umat Islam bisa dilihat dari seberapa antusias respon dan perhatian kita pada panggilan Allah.

Ketika orang mukmin memenuhi panggilan Allah dan mengejawantahkannya dengan amal, maka dia akan menjadi mukmin yang maju. Al-Qur`an yang diturunkan oleh Allah pada bulan Ramadhan, membimbing manusia ke arah kemajuan.

Tutur Natsir, “Al-Quran diturunkan Allah s.w.t. untuk menjadikan umat manusia dari tahap ke tahap kata orang sekarang meningkat maju selangkah demi selangkah, maju dalam arti lahir dan bathiniyah.”

Dengan demikian, dalam konteks perintah puasa bagi orang-orang beriman, maka itu sejatinya merupakan suatu proses yang membuat manusia bertambah maju dan bermartabat. Tentu ketika panggilan itu dipenuhi dengan baik dan direalisasikan dalam wujud amal nyata.

Setelah itu, M. Natsir fokus pada penjelasan hikmah ibadah puasa. Nilai puasa adalah agar membentuk pribadi takwa. Yaitu yang pandai mengendalikan diri atau menjaganya dari nafsu yang tak terkendali. Kepiawaian dalam mengendalikan diri ini, tutur Natsir bisa meninggikan martabat orang Islam.

Terkait hal ini beliau menjelaskan, “Ibadah puasa adalah satu panggilan Allah yang harus disambut dengan amal untuk keperluan kita sendiri, supaya berkembang dan tumbuh menjadi manusia lebih baik dari sebelumnya kita berpuasa.”

Kata kunci yang bisa diambil dari penjelasan Buya Natsir ialah bahwa ibadah puasa merupakan panggilan Allah Ta’ala  yang harus dipenuhi. Ketika dipenuhi, maka akan membuat manusia menjadi maju bermartabat. Meminjam bahasa surah Al-Baqarah 183, menjadi orang yang berada pada level takwa.

Menariknya, ujung ayat itu menggunakan fi’il mudhari’ (kata kerja yang menunjukkan waktu sekarang dan yang akan datang). Artinya apa? Takwa harus terus diupayakan. Batasnya adalah sepanjang hayat.

Selagi nyawa masih dikandung badan, maka upaya untuk menjadi manusia maju bermartabat pada tataran takwa, harus terus diusahakan.Ini tidak akan tercapai bagi orang yang berpikir sempit.

Misalnya hanya memandang Ramadhan, ibadah puasa serta amalan-amalan yang ada di dalamnya hanya dikerjakan saat itu juga. Tapi, spirit dan nilai Ramadhan harus tetap dipegang sepanjang hayat.

Baca: Manfaat Psikis Ibadah Puasa

Penulis jadi teringat salah seorang generasi saleh terdahulu yang menandaskan bahwa seburuk-buruk kaum adalah yang hanya menegenal hak Allah hanya pada bulan Ramadhan. Artinya, orang yang memperlakukan Ramadhan hanya sebagai ibadah musiman dan nilai-nilainya tidak dijalankan pada bulan-bulan lain, maka dia termasuk manusia yang buruk.

Menurut catatan Ibnu Rajab Al-Hanbali, menukil sebuah riwayat yang beliau katakan Marfu’, seandainya orang mengetahui kandungan Ramadhan, maka dia pasti akan berharap sepanjang tahun dijadikan sebagai Ramadhan. Memang kesadaran semacam ini tidak banyak yang memikirkannya.

Umur umat Islam, kata Nabi, antara 60-70. Itu artinya sangat singkat dibanding umat-umat terdahulu misalnya zaman Nabi Adam atau Nuh yang sampai seribu tahun. Namun, dengan adanya bulan Ramadhan, umat Islam bisa mendapatkan kualitas dan ketinggian martabat melebihi umat-umat sebelumnya.

Dalam bulan Ramdhan ada malam kemulian (lailatul qadar) yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Dan masih banyak fasilitas mewah yang disediakan Allah pada bulan yang penuh dengan ampunan, rahmat dan berkah ini.

Hanya saja, itu berlaku bagi orang yang sungguh-sungguh dengan landasan iman dan ketulusan harapan kepada Allah. Masalahnya kemudian, maukah kita menjadi orang yang maju, bermartabat hingga pada level takwa, sebagaimana penjelasan Natsir tadi? Setiap orang secara lisan sangat mudah menjawab mau. Tapi, yang benar-benar akan sukses menggapainya adalah orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasulnya dengan amal nyata, bukan hanya kata-kata.

Semoga, kita tak masuk dalam kategori orang celaka yang dibahasakan Nabi, “mendapati hadirnya bulan Ramadhan, tapi saat Ramadhan usai, tak mendapat ampunan Allah.” Artinya, bukan malah menjadi manusia maju dan bermartabat, tapi menjadi manusia yang gagal dan celaka.*/Mahmud Budi Setiawan, LC

Rep: Insan Kamil
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Qiyamulail, Tahajud dan Keutamaannya

Qiyamulail, Tahajud dan Keutamaannya

Begini Ulama Salaf Saat Kehilangan Ramadhan

Begini Ulama Salaf Saat Kehilangan Ramadhan

Ramadhan Momentum Menguatkan Kehati-hatian

Ramadhan Momentum Menguatkan Kehati-hatian

Tradisi Ulama di Bulan Ramadhan: Tinggalkan Aktivitas Demi Al-Qur`an

Tradisi Ulama di Bulan Ramadhan: Tinggalkan Aktivitas Demi Al-Qur`an

Bagaimana Berpuasa di Masa Kedatangan Dajjal?

Bagaimana Berpuasa di Masa Kedatangan Dajjal?

Baca Juga

Berita Lainnya