Jum'at, 24 September 2021 / 17 Safar 1443 H

Mutiara Ramadhan

Ramadhan: Petakan ‘Musuh’, Raihlah ‘Tsunami’ Ampunan

Bagikan:

Hidayatullah.com | BULAN Ramadhan telah menghampiri kita. Bulan paling mulia yang Allah hiasi di dalamnya dengan berbagai keutamaan dan ampunan. Bulan yang merupakan universitas tahunan yang diprogram “langit” untuk mencetak wisudawan-wisudawati bergelar insan fitri karena lulusannya ditarget bisa mencapai gelar manusia yang kembali ke fitrah. Bulan mulia yang mana di dalamnya ada malam Lailatul Qodar, malam Nuzulul Quran, kewajiban puasa sebulan penuh, dan beberapa ibadah khas Ramadhan lainnya semacam Tarawih dan tadarus serta zakat fitrah.

Di dalam hadis dijelaskan bahwasannya Rasulullah ﷺ bersabda,” Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan berharap pahala semata dari Allah maka akan Allah ampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(Hadis Mutafaqun Alaihi).

Kewajiban puasa disyariatkan kepada umat Islam seperti pula dengan yang diwajibkan atas umat terdahulu, dan bertujuan agar pelakunya menjadi insan yang bertakwa (QS. Al Baqoroh : 183).

Puasa adalah sebuah ibadah privat yang hanya pelakunya dan Allah saja yang mengetahui. Atau dengan kata lain puasa adalah ibadah sunyi. Maka dari sinilah Alllah sendiri yang akan membalas pahala bagi mereka yang melaksanakannya. Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah SWT berfirman, “Seluruh amal ibadah anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Ia untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya.(Hadis Mutafaqun Alaihi).

Begitu istimewanya puasa hingga Allah sendiri yang akan memberi pahala kepada mereka yang melakukannya. Disebutkan bahwa tidurnya orang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipat gandakan pahalanya, doanya mustajab dan dosanya diampuni. (HR. Baihaqi dalam Su’abul Iman (03 : 415),  Ad Dailami dalam Musnad Al Firdaus (05 : 248).

Bahkan disebutkan di dalam banyak riwayat bahwa bau mulut orang berpuasa di sisi Allah lebih harum dari bau misk yang dengan alasan itulah dimakruhkan bagi orang yang sedang berpuasa untuk bersiwak setelah masuk waktu Dhuhur seperti penjelasan dalam kitab-kitab fikih seperti Matan Ghoyah Wa Taqrib Lil Qodi Abi Suja’.

Habib Muhammad Bin Abdullah Al Haddar dalam An Nafahatur Ramadaniyah menjelaskan bahwa Ramadhan itu adalah membakar dosa, musim (waktu) kebahagiaan, jika selamat (damai) di dalamnya maka selamat (damai sentausa) pada tahun itu, bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirannya adalah terbebas dari api neraka. (Habib Muhammad Bin Abdullah Al Haddar,  An Nafahatur Ramadaniyah, Tarim: Darul Ilmi Wad Dakwah, 1431 H / 2010 M, Halaman 09).

‘Tsunami ampunan’

Dengan berbagai keistimewaan itu maka seyogyanya bagi para Mukminin agar semaksimal mungkin memanfaatkan waktunya di bulan Ramadhan. Sebab sungguh merugi bagi mereka yang mendapati dirinya di bulan “tsunami” ampunan dan pahala ini namun ternyata tetap tidak merasakan dampaknya.

Sebagian ulama berkata bahwa ada empat orang yang diharamkan bagi mereka mendapatkan ampunan di bulan Ramadhan dan selainnya yaitu mereka yang durhaka kepada orang tuanya, memutus tali silaturrahim, saling bermusuhan, dan pecandu khamr (miras).

Ada sebuah hadis yang mana di dalamnya diriwayatkan bahwa Malaikat Jibril AS berdoa barangsiapa yang mendapati dirinya ada di dalam bulan Ramadhan namun ia gagal mendapatkan ampunan di dalamnya maka semoga Allah melaknatnya dan Nabi ﷺ mengaminkannya. Lalu Jibril AS berdoa barangsiapa yang ada nama Nabi Muhammad ﷺ disebut di sisinya namun ia tak bersholawat atas Nabi Muhammad ﷺ maka semoga Allah melaknatnya lalu Nabi ﷺ mengaminkannya. Lalu Jibril AS berdoa barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satu dari mereka hingga usia renta dalam perawatannya namun dia gagal mendapatkan surga karena tidak berbakti kepada mereka maka semoga  Allah melaknatnya dan Nabi ﷺ mengaminkannya. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad (646), Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya (03 : 192), Ibnu Hibban dalam Shahihnya (03 : 188)

Doa dari Malaikat Jibril AS di atas sungguh merupakan warning bagi kita. Bisakah kita mendapatkan keutamaan Ramadhan atau malah sebaliknya kita gagal merengkuh manisnya Ramadhan dan menjadi golongan yang mendapat doa “buruk” dari Malaikat Jibril AS tersebut. <<<<Bersambung 2>>>

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Puasa untuk Memenuhi Undangan Allah

Puasa untuk Memenuhi Undangan Allah

Ramadhan; Sangkala Kematian Posmodernisme [1]

Ramadhan; Sangkala Kematian Posmodernisme [1]

Memburu 10 Hari Terakhir Ramadhan

Memburu 10 Hari Terakhir Ramadhan

10 Keutamaan Puasa Ramadhan

10 Keutamaan Puasa Ramadhan

Teladan Salaf  dalam Berinteraksi dengan Ramadhan

Teladan Salaf dalam Berinteraksi dengan Ramadhan

Baca Juga

Berita Lainnya