‘Grup Ramadhan’ Kembali Online

Jadikan momentum Ramadhan menjadi wasilah bagi setiap muslim untuk mendapatkan keberuntungan (ketakwaan) dengan meningkatkan berbagai aktifitas ibadah

‘Grup Ramadhan’ Kembali Online
by Sana Sorany (Pinterest) رمضان كريم

Terkait

Hidayatullah.com | Alhamdulillah bulan Ramadhan telah tiba. Jika diibaratkan grup whatsapp, ‘Grup Kemuliaan Ramadhan’ ini kembali online dan mulai aktif setelah sekian lama offline. Kini, Allah Ta’ala, sebagai admin, kembali mengubah settingan grupini menjadi ‘semua peserta’ dapat mengirim pesan, setelah 11 bulan lamanya mode settingan hanya mengizinkan admin saja yang dapat mengirim pesan.

Tapi ingat, ‘group kemuliaan Ramadhan’ ini hanya akan aktif dan menyapa kita selama 30 hari, setelah itu Allah akan kembali memgubah settingan group ini kembali ke asalnya.

Di tahun 1441 H/2020 M ini, syarat dan ketentuan untuk menjadi anggota group sama sederhananya seperti sebelumnya,  mereka cukup  baligh dan beriman. Seperti yang tertuang dalam al-Qur’an surah al Baqarah ayat 183. Namun, suatu kepastian mutlak di tahun ini, jumlah anggota ‘group kemuliaan Ramadhan’ kali ini terdapat perihal berbeda yang dirasakan oleh masing-masing anggota.

Tahun ini, Allah Ta’ala telah meng-kick out (mengeluarkan) beberapa peserta group, dikarenakan ajalnya yang telah tiba. Tentu dari sekian banyak anggota yang dikeluarkan tersebut,  di dalamnya terdapat sanak famili tercinta kita. Semoga Allah Ta’ala memberikan balasan Surga bagi keluarga tercinta yang telah lebih dahulu dipanggil lpg-nya. Amin.

Selain kematian, ditemukan juga banyak anggota yang ‘left’ dari ‘group kemuliaan Ramadhan’ ini. Sebagiannya karena telah menyandang predikat musyrik, sebagian lagi disebabkan gelarnya yang berubah menjadi non-muslim, alias keluar dari Islam. Sungguh betapa beruntungnya kita, karena masih diberi Hidayah dan iman sehingga Allah Ta’ala masih mengizinkan kita berinteraksi dan berbaur menjadi bagian dari anggota ‘group kemuliaan Ramadhan’ ini.

Aktifnya kembali ‘group kemuliaan Ramadhan’ ini sejatinya sama seperti sebelumnya, tidak ada yang berubah. Ia tetap menjadi bulan paling mulia dengan berbagai keistimewaan luar biasa. Di bulan ini al Qur’an sebagai mukjizat terbesar sepanjang masa diturunkan (QS. al Baqarah: 185). Di bulan ini juga terdapat malam lailatul qadr, yaitu malam penuh kemuliaan dan keberkahan di salah satu malam pada malam-malam terakhir dan ganjil. Perbandingan kemuliaan malam itu sama dengan seribu bulan (QS. al Qadr: 1-3).

Bulan Ramadhan ini juga merupakan bulan maghfirah. Allah Ta’ala menyediakan Ramadhan sebagai fasilitas penghapusan dosa selama kita menjauhi dosa besar. Nabi ﷺ bersabda yang artinya: ”Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat dan Ramadhan ke Ramadhan menghapuskan dosa-dosa di antara masa-masa itu selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim).

‘Group kemuliaan Ramadhan’ ini menawarkan hadiah terbesar dalam kehidupan, yaitu predikat ‘takwa’. Siapapun dan dari latar belakang manapun punya kesempatan yang sama untuk meraih gelar ini. Sebab setiap kita berada dalam romansa yang sama, waktu kehidupan yang sama.

Dan yang terpenting, setiap kita ditunjang dengan fasilitas inti yang sama, yaitu fitrah bertuhan. sesuatu yg netral pada jiwa dan tidak terikat serta terpasung oleh keinginan dan keperluan duniawi dan berlapang dada serta jiwa yang tenteram dan tenang. Fitrah kita sejatinya hanya punya satu tujuan yaitu selalu ingin kembali kepada Allah sang Pencipta. Jiwa yang tidak terikat dengan harta benda duniawi dan yg meninggalkan penyakit jiwa (iri dengki, kecemburuan sosial, sombong, hasut, ria dan pelit).

Wahai manusia, Ramadhan sedang online. Jadikan momentum ini menjadi wasilah bagi setiap muslim untuk mendapatkan keberuntungan (ketakwaan) dengan meningkatkan berbagai aktifitas ibadah. Jangan sampai kemuliaan bulan Ramadhan, kita terkategorikan sekelompok orang yang kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam termasuk orang yang merugi meski bulan Ramadhan itu ada di tengah-tengah mereka.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah naik mimbar lalu berkata, ‘Aamiin… aamiin… aamiin.’ Para shahabat pun bertanya, ‘Mengapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?’  Rasulullah lalu bersabda, ‘Baru saja Jibril berkata kepadaku, “Allah melaknat seorang hamba yang berjumpa Ramadan namun tidak mendapatkan ampunan,” maka kukatakan, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, “Allah melaknat seorang hamba yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya masih hidup, namun itu tidak membuatnya masuk surga,” maka aku berkata, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, “Allah melaknat seorang hamba yang ketika namamu disebut, ia tidak bershalawat,” maka kukatakan, ‘Amin’.” (shahih, HR. Ibnu Khuzaimah).*/Rizky Kurnia Syah, anggota PENA

 

Rep: Insan Kamil

Editor: Insan Kamil

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !