Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Mutiara Ramadhan

Kabar Gembira Buat yang Suka Berbuat Kebaikan

skr/hidayatullah.com
Warga Jakarta berbagi takjil atau hidangan berbuka puasa gratis, Ramadhan 1438 H.
Bagikan:

KEBERUNTUNGAN hidup selamanya milik orang-orang beriman, di dunia terlebih di ‎hari ‎Akhirat kelak.

Termasuk ketika mereka senantiasa berpegang teguh dalam rel ‎kebaikan ‎dan ketaatan di jalan Allah.‎

Allah berfirman:‎
وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا ما يُوعَظُونَ بِهِ لَكانَ خَيْراً لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتاً ، وَإِذاً لَآتَيْناهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْراً عَظِيماً، وَلَهَدَيْناهُمْ ‏صِراطاً مُسْتَقِيماً

‎“… Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada ‎mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan ‎‎(iman mereka). Dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang ‎besar dari sisi Kami. Dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (QS. ‎An-Nisa [4]: 66-68).

Baca: Jalan Kebaikan

Setidaknya ada empat kabar ‎gembira (busyrah) dalam ayat di atas, bagi orang-orang ‎yang senantiasa istiqamah mengerjakan perintah ‎agama. ‎

Pertama, kebaikan berbalas kebaikan. Inilah rumus awal kemenangan orang-orang ‎beriman.

Orang yang berbuat baik niscaya meraih kebaikan dan akan ‎dikumpul ‎bersama orang-orang yang baik pula. Allah bahkan tak segan memberi cap baik kepada ‎hamba tersebut.‎

Alhasil dengan ‎stempel baik itu tadi, maka setiap perilakunya senantiasa baik, tingkah ‎lakunya lalu ‎berhias adab dan akhlak mulia.

Serta yang terpenting adalah kebaikan ‎apapun akan ‎menjadi ringan dikerjakan dengan bantuan Allah Ta’ala.

Baca: Siapa Mengajak Kebaikan, Ia Memperoleh Pahala seperti Pahala yang Mengikuti

Kedua, jaminan keteguhan iman dari Allah. Jika ‎seorang Muslim istiqamah ‎menegakkan agama, niscaya Allah tak ‎sungkan menolongnya dengan mengokohkan ‎keimanannya.

Di zaman fitnah sekarang, keteguhan iman adalah barang langka ‎sekaligus harga mati ‎sebuah keyakinan. Ia tak bisa ditawar apalagi ditukar dengan ‎‎materi duniawi.‎

Kini, dunia berkabut fitnah dan berselimut syubhat agama. ‎Keburukan dan ‎kemaksiatan kian merajalela. Keduanya bahkan seolah tak bisa ‎dikenali dan dibedakan ‎dengan kebaikan dan ketaatan.

Pelaku keburukan justru ‎disanjung dan dielu dengan ‎pujian, sedang orang-orang baik justru terpinggirkan. ‎Mereka kian asing di tengah ‎pusaran fitnah dan badai syubhat dan syahwat tersebut.

Ketiga, ganjaran pahala yang besar. Orang-orang yang istiqamah di masa fitnah ‎melanda akan memperoleh ‎ganjaran yang datang dari sisi Allah Ta’ala.

Ganjaran ‎tersebut berlaku di dunia dan di ‎Akhirat nanti. Di dunia mereka memperoleh ‎ketenangan serta kebahagiaan jiwa.

Sedang di surga, seluruh kebutuhan dan ‎kesenangan mereka dipenuhi sesuka ‎hati. Sesuatu yang selama ini belum pernah ‎terlihat oleh mata, belum ter‎dengar oleh telinga, bahkan tak terjangkau khayalan ‎manusia ‎sekalipun.‎

Baca: Tujuh Kabar Gembira Ramadhan

Keempat, jaminan hidayah. Pastinya Kami tunjuki ia ke jalan yang lurus, begitu janji ‎Allah kepada ‎hamba-Nya.

Abdurrahman as-Sa’di mengurai persoalan ini dengan ‎berkata: Hal ini ‎merupakan bentuk keumuman makna setelah pengkhususannya. Yaitu, ‎dari ‎kemuliaan hidayah menuju jalan yang lurus.

Kini, Ramadhan telah berlalu beberapa hari. Berburu kebaikan dan ketaatan adalah keniscayaan di bulan mulia tersebut.

Diharapkan, kabar gembira di atas menjadi motivasi tambahan bagi setiap kita untuk tak melewatkan waktu berkah tersebut kecuali dengan ibadah dan ragam amal shaleh lainnya.*

Rep: Masykur Abu Jaulah
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Puasa Training Center Terbesar Bagi Akhlak (1)

Puasa Training Center Terbesar Bagi Akhlak (1)

Etos Perjuangan di Bulan Ramadhan

Etos Perjuangan di Bulan Ramadhan

Ramadhan Bulan Jihad

Ramadhan Bulan Jihad

Ramadhan Bulan Syahrul Ijabah

Ramadhan Bulan Syahrul Ijabah

Tiga Hak Al-Quran

Tiga Hak Al-Quran

Baca Juga

Berita Lainnya