Jadikan Ramadhan Sebagai Bulan Kemenangan

Kemenangan itu hanya untuk kaum yang insyaf. Selamat datang bulan perjuangan! Selamat datang bulan kemenangan!

Jadikan Ramadhan Sebagai Bulan Kemenangan

Terkait

Oleh: Ali Akbar bin Agil

 

DALAM salah satu peristiwa sejarah yang sangat monumental adalah sejarah terjadinya perang Badar. Peristiwa tersebut terjadi persis di bulan suci Ramadhan. Perang Badar kerap disebut sebagai Yaumul Furqan, “hari pemisah kebenaran dan kebatilan; keimanan dan kekufuran.”

Kala itu, jumlah pasukan Islam yang tidak seimbang bukan menjadi batu penghalang meraih kemenangan gemilang. Jika ditilik lebih jauh, raihan kemenangan yang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah ini tidak hanya bertumpu pada kemampuan fisik dan persenjatan belaka.

Pihak musuh jauh lebih kuat, digdaya, dan jumlah pasukannnya lebih banyak dengan disuplai persenjataan yang jauh lebih canggih. Namun, ada satu hal yang perlu kita sadari, di dada mereka ada iman. Iman yang bersih dari pamrih dan penghargaan, tidak mengharap selain ridha Ilahi.

Sinergi antara iman dan keikhlasan hati yang bersih dari maksiat turut memberi andil besar bahwa “Kam min Fi-atin Qalîlatin Ghalabat fi-atan katsîrah bi idznillâh. (Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah).”

Pasukan tempur yang dipimpin langsung oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam hanya diperkuat 300 orang sementara pihak tentara kafir 1000 orang. Tidak seimbang. Rasul dan para sahabatnya berjibaku dengan tidak mengandalkan kekuatan jasmani sebagai satu-satunya pegangan, namun rasa kebatinan mereka yang bangga dengan Islam dan imanlah yang akhirnya membawa mereka pada kemenangan. Sekali lagi dengan izin Allah.

Sejarah menceritakan kisah yang berbeda untuk kita. Syahdan, saat Kaisar Byzantium, Heraklius merasa penasaran dengan kekalahan bertubi-tubi yang dialami oleh pasukannya, segera ia memanggil panglima perangnya. Ia bertanya, “Lebih banyak mana, pasukan kita dengan pasukan Islam?”

“Di setiap negeri, pasukan kita jauh lebih banyak berlipat-lipat ganda ketimbang mereka, Tuan.”

“Lantas, kenapa kita selalu mengalami kekalahan di tiap perang dengan mereka? Apa sebabnya?”

Belum sempat sang panglima menjawab, seorang kakek tua datang menengahi dialog seraya berucap, “Mereka berhasil meraih kemenangan sebab mereka bangun beribadah di waktu malam, puasa di siang hari, mereka menepati janji yang telah dibuat, memerintahkan kebaikan dan melarang kemunkaran, serta saling melayani sesamanya. Sebaliknya kita minum minuman keras, berzina, memakan yang haram, melanggar janji, merampok, menzalimi, menyuruh berbuat jahat dan membuat kerusakan di muka bumi.”

Pernyataan tanpa tedeng aling-aling dari seorang kakek tersebut, perlu direnungi oleh kita semua. Mengapa justru hari ini, umat Islam di mana mereka berada, selalu terpinggirkan di berbagai bidang. Kita kalah. Kita terkadang menjadi pecundang. Adakah sikap tentara romawi di atas malah mewarnai hari-hari kita: mencuri, menzalimi, tidak menepati janji, menunggak minuman keras, berzina?

Adakah dari kita yang memotong dana BOS dengan dalih “biaya administrasi”? Memungut pungutan liar atas nama negara atau gedung sekolah? Adakah dari kita yang lebih asyik-masyuk dengan dentuman suara musik di diskotik yang memekakkan telinga dengan ditemani Narkoba? Ke manakah orang yang bersimpuh sujud itu, berpuasa di siang hari, menepati janji-janjinya, berdiri gagah dalam berdakwah dan mencegah hal yang munkar?

Ramadhan sudah selayaknya semakin memperkuat kesadaran kolektif kita akan kondisi kaum Muslim yang sangat jauh dari gambaran ideal sebagaimana kaum Muslim terdahulu yang begitu agung.

Ramadhan kali ini selayaknya juga semakin menambah keinginan dan semangat kita untuk mewujudkan umat ini sebagai sebaik-baik umat yang telah dipilih Allah untuk menjadi saksi atas seluruh manusia.

Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah menulis surat kepada Khalid bin Walid usai berhasil menaklukkan Byzamtium, Ibu Kota Romawi Timur, “Kalian orang-orang Islam tidak akan dapat dikalahkan karena jumlah yang kecil. Tapi, kalian pasti dapat dikalahkan walapun jumlah kalian lebih banyak melebihi jumlah musuh jika kalian terlibat dalam dosa.”

Jangan angkat jari telunjuk kita pada pihak lain, menyatakan bahwa mereka Kaum Kuffar adalah biang problem selama kita masih terlibat pada kasus maksiat. Kemenangan itu hanya untuk kaum yang insyaf. Selamat datang bulan perjuangan! Selamat datang bulan kemenangan!*

Pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Kota Malang

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !