Sabtu, 4 Desember 2021 / 28 Rabiul Akhir 1443 H

Mutiara Ramadhan

Ramadhan Bulan Syahrul Ijabah

Bagikan:

Oleh: Shohib Khoiri, Lc., MA

KEISTIMEWAAN Ramadhan selain dinamai sebagai Syahrul Quran (bulan diturunkannya al-Quran) dan Syahrul Maghfirah (bulan penuh ampunan), ia dinamai juga sebagai Syahrul Ijabah (bulan dikabulkannya setiap doa).
Maka tidak ada doa yang dipanjatkan oleh seorang hamba yang beriman dan berpuasa melainkan akan Allah kabulkan.

Keistimewaan Ramadhan ini tampak pada urutan ayat dalam al-Quran yang berkaitan dengan Shaum Ramadhan, yaitu ayat 183 hingga 187 di mana Allah selipkan satu ayat dalam ayat-ayat tersebut penjelasan bahwa Allah itu dekat dan Dia akan mengabulkan setiap doa yang dipanjatkan oleh hamba-hamba-Nya, yaitu Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 186:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, katakanlah bahwa Aku dekat, Aku akan mengabulkan doa orang yang berdoa jika dia berdoa kepada-Ku, maka hendaknya mereka memenuhi segala seruan-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk.”

Rasulullah telah memberikan contoh kepada kita bahwa untaian doa pada bulan Ramadhan akan diijabah oleh Allah. Doa tersebut Rasulullah panjatkan pada suatu peristiwa besar yang terjadi pada awal mula Shaum Ramadhan disyariatkan.

Para ulama sepakat bahwa Shaum Ramadhan pertama kali disyariatkan pada tahun kedua Hijriah, atau dua tahun setelah beliau hijrah dari Mekkah ke Madinah. Pada awal disyariatkannya Shaum Ramadhan, terjadi sebuah peristiwa besar, yaitu perang Badar di mana umat Islam yang hanya berjumlah 313 orang melawan pasukan kafir Quraisy yang berjumlah 1000 orang.

Rasulullah di samping sebagai utusan Allah, juga sebagai manusia biasa yang memiliki rasa khawatir sebagaimana manusia lainnya. Melihat pasukan Quraisy yang begitu besar, sementara umat Islam kurang dari setengahnya, beliau pun bermunajat pada Allah pada malam-malam pertempuran dengan penuh kekhawatiran.

Beliau khawatir jika umat Islam kalah dalam pertempuran ini, maka semua orang yang beriman akan binasa dan tidak ada lagi yang menyembah Allah. Imam Muslim mengabadikan doa Rasulullah tersebut dalam Shahihnya dari Umar bin Khatab, di mana Nabi berdoa sambil mengangkat sorbannya: “Ya Allah di manakah janji-Mu, Ya Allah penuhilah janji-Mu, Ya Allah jika sekiranya Engkau binasakah pasukan ini, niscaya Engkau tidak akan lagi disembah di bumi ini selamanya.

Rasulullah terus memanjatkan doanya hingga sorbannya terjatuh. Tidak lama kemudian datanglah Abu Bakar mengambil sorban Rasul yang terjatuh dan memberikannya kepada beliau dari arah belakangnya seraya berkata: “Wahai Nabi Allah, cukuplah Engkau berdoa pada Allah, sesungguhnya Dia akan memenui apa yang Dia janjikan padamu.”

Akhirnya doa Rasulullah pun dikabulkan oleh Allah dan kaum muslimin diberikan kemenangan yang gemilang atas pasukan kafir Quraisy.

Mengapa doa Rasulullah tersebut Allah kabulkan? Setidaknya kita dapat mengambil dua kesimpulan darinya.

Pertama, doa Rasulullah dikabulkan karena merupakan salah satu contoh doa yang dipanjatkan pada bulan Ramadhan, bulan dikabulkannya segala doa. Maka doa apa pun yang dipanjatkan oleh seorang hamba yang beriman dan berpuasa pada bulan Ramadhan, insya Allah dengan izin-Nya akan dia kabulkan.

Kedua, doa Rasulullah dikabulkan karena pribadi beliau yang shalih, manusia agung yang dijanjikan masuk syurga. Oleh sebab itu, sebelum kita berdoa meminta kepada Allah, hendaknya kita menshalihkan diri kita terlebih dahulu. Hal ini sesuai firman Allah, yaitu pada akhir ayat 186 dari surat al-Baqarah bahwa agar doa dikabulkan hendaklah mereka taat memenuhi seruan-Nya: “ …. Maka hendaknya mereka memenuhi segala seruan-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk.”

Bulan Ramadhan sebagai bulan yang setiap doa diijabah karena pada bulan tersebut nilai ketaatan manusia relatif meningkat dibandingkan pada bulan-bulan lainnya. Oleh sebab itu, jangan sia-siakan pada bulan Ramadhan ini untuk berdoa dan memanjatkan segala hajat kita kepada-Nya.*

Penulis adalah staf pengajar Fakultas Dakwah UNISBA.

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Mempersiapkan Batin Sambut Ramadhan

Mempersiapkan Batin Sambut Ramadhan

Ramadhan yang Beradab

Ramadhan yang Beradab

Ramadhan Bulan Syahrul Ijabah

Ramadhan Bulan Syahrul Ijabah

Kisah Puasa Si Badui dan Menteri Rauh bin Zinba’

Kisah Puasa Si Badui dan Menteri Rauh bin Zinba’

Tadarus Al-Qur’an

Tadarus Al-Qur’an

Baca Juga

Berita Lainnya