Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Mutiara Ramadhan

Syafaat Puasa dan Al-Quran di Hari Kiamat (2)

Bagikan:

NABI Muhammad Shalallaahu ‘Alahi Wasallam suatu ketika menyebut seseorang. Beliau mengatakan, “Itulah orang yang tidak berbantal dengan Al-Qur’an”, yakni dia tidak tidur sebelum membacanya, sehingga Al-Qur’an tidak menjadi seperti bantal tidurnya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari hadist Buraidah, secara marfu’, “Sesungguhnya Al-Qur’an akan menemui ahlinya pada hari Kiamat. Kuburannya akan terbuka dan (dia keluar) sebagai orang yang pucat, lalu berkata, “Apakah kamu mengenal aku? Aku adalah temanmu yang membuatmu haus di siang hari dan membuatmu tidak tidur di malam hari. “Sungguh, seorang pedagang yang beruntung dengan perdagangannya. Kemudian dia diberi kerajaan di tangan kanannya, keabadian di tangan kirinya, dan diletakkan mahkota kebesaran di atas kepalanya. Kemudian dikatakan kepadanya, “Bacalah (hafalan Al-Qur’an-mu) dan naikilah tangga-tangga surga dan kamar-kamarnya.” la pun terus naik selama masih membaca, baik dengan bacaan cepat maupun lambat.”

Dalam hadist riwayat ‘Ubadah bin ash-Shamit yang panjang, disebutkan, “Al-Qur’an mendatangi ahlinya di kubur, lalu ia berkata, “Akulah yang dulu membuatmu terjaga di malam hari, aku yang membuatmu haus di siang hari, aku menghalangimu untuk memenuhi syahwatmu, pendengaran, dan penglihatanmu. Maka, akan kau dapati aku jadi teman akrab setiamu di antara para kekasihmu.” Kemudian dia naik dan meminta kepada Allah alas dan selimut, maka digelarkan baginya alas dari surga (di kuburnya), didatangkan untuknya lentera dari surga, pengharum dari surga, lalu diletakkan al-Qur’an di arah kiblat kuburnya. Maka, kuburnya diluaskan baginya seluas yang dikehendaki Allah.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Seorang qari Al-Qur an semestinya dapat dikenali dari malamnya saat orang-orang tidur, dari siang harinya saat manusia makan-makan, dari tangisnya saat manusia tertawa-tawa, dari wara’-nya ketika manusia berbaur, dari diamnya saat manusia mengobrol, dari kekhusyukannya saat manusia sombong, dan dari kesedihannya saat manusia bergembira ria.”

Muhammad bin Ka’b (62) berkata, “Dulu kami biasa mengenali seorang qari Al-Qur’an dari wajahnya yang pucat.” Ini mengisyaratkan bahwa dia banyak bangun malam dan shalat Tahajud yang lama.*

Dari buku Amalan Dahsyat di Bulan Ramadhan karya Ibnu Rajab Al-Hambali.

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Saatnya Menyibukkan Diri Dengan Al-Qur’an

Saatnya Menyibukkan Diri Dengan Al-Qur’an

Katanya Syetan Dibelenggu, Kok Masiat Jalan Terus?

Katanya Syetan Dibelenggu, Kok Masiat Jalan Terus?

Syarat dan Kedudukan Niat dalam Puasa Ramadhan

Syarat dan Kedudukan Niat dalam Puasa Ramadhan

Siapa Yang Berhak Disebut Amil Zakat

Siapa Yang Berhak Disebut Amil Zakat

Sembilan Amalan Menggoda 10 hari terakhir Ramadhan

Sembilan Amalan Menggoda 10 hari terakhir Ramadhan

Baca Juga

Berita Lainnya