Ibrah Dibalik Nikmatnya Berbuka Puasa

Selain menawarkan fadhilah yang melimpah, Ramadhan juga kaya dengan ibrah. Salah satunya spirit mengamalkan sunnah.

Ibrah Dibalik Nikmatnya Berbuka Puasa

Terkait

Hidayatullah.com | BERJUMPA dengan bulan Ramadhan adalah karunia yang sangat istimewa. Betapa tidak, momen yang akan kita lewati pada bulan ini sarat dengan peluang. Bukan saja peluang mendulang pahala sebanyak-banyaknya. Pada bulan ini pula tersaji banyak ibrah (pelajaran).

Jadi, Ramadhan bukan sekadar bulan berpuasa dan shalat Tarawih. Lebih dari itu, Ramadhan adalah madrasah. Di dalamnya bertabur tuntunan, bimbingan dan arahan nabawi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan puasa itu sendiri. Sejak makan sahur hingga berbuka bimbingan Nabi hadir memandu kita. Jika kita tunduk dan patuh pada bimbingan itu, maka nilai puasa kita akan lebih maksimal.

Dalam urusan berbuka misalnya. Meski berbuka nampak hanya urusan makan dan minum, tapi menjadi spesial karena di dalamnya ada petunjuk dan arahan Nabi yang mencerahkan. Tentu dibalik setiap perintah selalu ada kebaikan yang menyertainya jika perintah itu diamalkan.

Menyegarakan Berbuka Puasa

عن سهل بن سعد – رضي الله عنه – أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر

“Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah bersabda, “Manusia tetap dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” (Muttafaqunalaih)

Dalam Hadits ini Rasulullah memotivasi kita untuk menyegerakan berbuka. Dalam pandangan kita boleh jadi berbuka itu satu hal yang sangat biasa dan lumrah. Tanpa ada perintah khusus, seorang tetap akan melakukannya. Sebab, sebagai manusia memiliki naluri ingin makan ketika sepanjang hari menahannya. Namun berbuka puasa tidak lagi sebatas makan dan minum. Lebih dari itu, buka puasa telah menjadi perintah Rasulullah .

Kita meyakini bahwa pada setiap perintah syar’i di dalamnya terdapat maslahat. Syaikh Muhammad Husain al-Jizani berkata, “Syari’at ini dibangun di atas prinsip mewujudkan maslahat dan mencegah mafsadat di dunia dan di akhirat. Karenanya, syari’at tidak memerintahkan sesuatu kecuali jika di dalamnya terdapat maslahat murni atau dominan.” (Ma’alim Ushul Fiqh Inda Ahlissunnah Wal Jama’ah, h. 242).

Maslahat menyegerakan berbuka terlihat jelas pada lafaz Hadits di awal. Syaikh al-Bassam ketika menjelaskan Hadits tersebut berkata, “Menyegerakan berbuka adalah tanda menetapnya kebaikan kepada siapa saja yang melakukannya sekaligus juga tanda hilangnya kebaikan bagi yang meninggalkannya.” (Taudhihul Ahkam Min Bulughil Maram, 3/520). Jadi, kesempatan merebut kebaikan pada Ramadhan hadir setiap saat. Bahkan sampai perkara yang terkait makan dan minum sekalipun. Adapun Makna menyegerakan dalam Hadits ini adalah jika telah dipastikan masuknya waktu berbuka. (Ithaful Kiram, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, h. 194).

Jika belum masuk waktunya, kita harus memastikan terlebih dahulu. Jangan pernah menyegerakan berbuka jika belum tiba atau masih meragukan. As-Shan’ani Rahimahullah ketika menjelaskan Hadits tersebut berkata, “Hadits ini merupakan dalil disunnahkannya menyegerakan berbuka jika telah tiba waktunya.” (Subulussalam, as- Shan’ani, h. 563).

Selain menyegerakan berbuka, masih banyak lagi sunnah lain terkait dengan berbuka puasa. Semisal berbuka dengan kurma atau air putih. Anas bin Malik, sahabat sekaligus pembantu Rasulullah pernah bertutur, “Rasulullah ﷺ selalu berbuka dengan ruthab sebelum shalat, jika tidak ada maka dengan kurma, jika tidak ada beliau meneguk beberapa tegukan air.” (Riwayat Abu Daud, Tirmidzi dan ia menghasankannya)

Kebaikan Mengikuti Sunnah

Rasulullah tidak merinci jenis-jenis kebaikan yang akan diraih orang yang menyegerakan berbuka. Salah satu tujuannya untuk menegaskan bahwa kebaikan di dalamnya sangat banyak dan bersifat umum.

Namun jika kita membaca lebih jauh, beberapa kebaikan berhasil diungkap oleh para ulama. Syaikh al-Bassam berkata, “Kebaikan yang dimaksudkan adalah kebaikan berupa mengikuti sunnah dan tidak diragukan lagi, mengikuti sunnah adalah sebab meraih kebaikan dunia dan akhirat.” (Taudhihul Ahkam, 3/520).

Mengikuti Nabi juga merupakan satu-satunya cara yang Allah Ta’ala tetapkan untuk meraih cinta-Nya. Allah berfirman, “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” (Ali Imran [3]: 31). Terkait menyegerakan berbuka, secara khusus Allah berfirman dalam dalam Hadits qudsi, “Hamba-Ku yang paling aku cintai adalah hambaku yang menyegerakan berbuka.” (Riwayat Tirmidzi).

Dari uraian ini semakin terasa jika Ramadhan sejatinya bulan multi fungsi. Selain menawarkan fadhilah yang melimpah, Ramadhan juga kaya dengan ibrah. Salah satunya spirit mengamalkan sunnah. Dalam Ramadhan kita dilatih militan dalam mengamalkan sunnah. Tentu saja sunnah tidak saja dalam urusan berbuka. Dalam Ramadan sunnah hadir dalam setiap aktivitas yang kita jalankan. Sunnah hadir saat makan sahur, shalat Subuh, shalat Tarawih, membaca al-Qur’an, dan amalan lainnya.

Sudakah kita melaksanakan itu semua dengan niat menjalankan dan meraih keutamaan mengikuti sunnah? Ketika motif ini telah hadir dalam diri kita, maka itu pertanda benih-benih cinta kita kepada Allah sudah mulai bersemi. Sebaliknya, jika belum pernah terbesit dalam hati, maka ada kekhawatiran akitivitas yang kita jalani tak lebih dari kebiasaan atau ikut-ikutan. Secara kasat mata amalan bisa saja sama, tapi nilainya di sisi Allah Ta’ala berbeda karena motif dan maksud yang menyertainya yang berbeda.

Menyelisihi Orang Yahudi

Salah satu bentuk kebaikan dari menyegerakan berbuka adalah menyelishi cara beribadah orang-orang kafir. Rasulullah bersabda, “…..Karena orang Yahudi dan Nashrani mengakhirkan berbuka hingga bermunculan bintang-bintang.” (Riwayat Abu Daud).

Seorang Muslim tidak saja mengaku dalam ucapan, tapi harus mampu menampakkan Islam dalam kehidupannya. Semua itu tidak mungkin tercapai kecuali dengan bara’ atau berlepas diri dari kebiasaan orang-orang kafir.

Pada bulan ini kita ditarbiyah untuk membuat tembok pemisah antara kita dengan kebiasaan orang kafir. Bukan sekadar tampil beda. Menyelishi kebiasaan orang kafir adalah tuntutan aqidah. Karena menyerupai orang kafir akan menanamkan rasa cinta dan wala’ kepada mereka. Semoga Ramadhan kita kali ini mampu dilaksanakan dengan sabar, ikhlas, dan mampu meraih predikat takwa. Wallahu a’lam.Ahmad Rifa’i

Rep: Insan Kamil

Editor: Insan Kamil

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !