Dompet Dakwah Media

Dai Menghadapi Pandemi

“Mereka Berkekurangan Tapi Berbagi, Mereka Butuh Tapi Tak Mengeluh”

Para Dai Mengabdi di bawah koordinasi Posdai tak menyerah. Meski kekurangan dan dalam keterbatasan, mereka bergerak menyebar paket tanda cinta ini untuk negeri. "Tidak kurang 6.253 paket sembako telah dibagikan"

“Mereka Berkekurangan Tapi Berbagi, Mereka Butuh Tapi Tak Mengeluh”
Dok. Posdai
[Ilustrasi] Ustadz Muhaimin, salah seorang dai Posdai, sedang menyeberangi sungai dalam perjalanan dakwah untuk membina warga mualaf Suku Wana di pedalaman kawasan Pegunungan Tokala, Dusun Fatu Marando, Desa Salubiro, Kecamatan Baturube, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, tahun 2017.

Terkait

Hidayatullah.com– Dalam kondisi tidak mudah di tengah merebaknya coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang menghantui hampir semua sektor kehidupan saat ini, Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) terus bergerak mengabdi membangun bangsa Indonesia dan masyarakat.

Direktur Posdai Pusat Ustadz Ahmad Suhail SPd mengatakan, aktifitas dakwah memang praktis tak bisa dilakukan sekemuka sebagai ikhtiar memutus penyebaran wabah patogen ini. Namun berbagai upaya untuk itu tetap dijalankan, termasuk mujahadah meringankan beban mereka yang terdampak.

Posdai mengerahkan sumber daya yang ada dengan aksi tali asih berbagai daerah. Hingga memasuki 10 hari terakhir Ramadhan 1441H/2020M, setidaknya sudah beribu-ribu paket sembako dibagikan di berbagai titik rentan seluruh Indonesia, di samping pendampingan untuk pembinaan ruhani.

“Bisa dikata tak ada yang tidak terdampak. Kurang lebih 3 bulan sudah virus corona jenis baru ini mendera bangsa ini. Paling nelangsa adalah para pekerja harian, dhuafa dan kelompok rentan lainnya, serta para dai dan guru ngaji,” kata Ustadz Suhail dalam siaran persnya kepada media di Jakarta, Kamis (21/05/2020).

Para Dai Mengabdi di bawah koordinasi Posdai tak menyerah. Meski kekurangan dan dalam keterbatasan, mereka bergerak menyebar paket tanda cinta ini untuk negeri.

“Tidak kurang 6.253 paket sembako telah dibagikan ke berbagai titik di penjuru Indonesia,” kata Ustadz Suhail.

Ia mengatakan, ikhtiar mulia untuk meringankan beban saudara kita yang terdampak wabah belum selesai. Misalnya, Posdai perwakilan Kalimantan Utara (Kaltara) yang kembali menyebarkan paket sambako tanda cinta untuk para marbut dan guru ngaji di daerah Kampung Enam, Mamburungan, Kecamatan Tarakan Timur, Kota Tarakan, Selasa (12/05/2020).

“Alhamdulillah Posdai Kaltara kembali mendistribusikan sembako untuk guru ngaji dan dhuafa. Pada tahap yang kedua ini ada sebanyak 22 paket sembako yang kita bagikan,” ujar Ketua Posdai Kaltara Ustadz Qamaruddin dalam kesempatan terpisah.

Puluhan sembako tersebut diserahkan langsung kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama dai dan guru ngaji yang ada di Kecamatan Tarakan Timur.

Selain itu, kata Ustadz Suhail, ada pula Ustadz Kholid yang bergerak di NTB, juga Ustadz Mukhlis yang terus bergeliat di Jawa Tengah. Begitu pula Ustadz Ahmad di Maluku yang keluar masuk hutan menemui muallaf.

“Ratusan dai kita bergerak mengabdi. Mengantar sebongkah bingkisan untuk sesama. Mungkin jumlahnya tak seberapa. Namun harapannya, kebaikan ini melestari senantiasa dan membahagiakan saudara,” ujarnya.

Mengokohkan NKRI

Ikhtiar taawun Posdai tersebut adalah koherensi daripada program usungan pada bulan Ramadhan 1441H/2020M ini dengan mengangkat tagline “Dai Mengabdi”.

Selain itu, hal demikian juga upaya Posdai sebagai bagian dari bangsa yang besar ini, untuk menyambut seruan pemerintah menguatkan masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19.

“Tentu, upaya ini diharapkan semakin mengokohkan persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan solidaritas bangsa dalam menghadapi setiap bencana yang datang,” ujar Ustadz Suhail.

Dia menjelaskan, slogan “Dai Mengabdi” merupakan spirit Nubuwwah dimana inspirasi dari program ini adalah kekariman penuh khidmat kaum Anshar dan kaum Muhajirin di masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam 14 abad silam.

“Ini adalah tentang jiwa penolong. Meskipun para dai ini dirinya sendiri dalam kesulitan, tapi mereka tetap memikirkan dan berbuat untuk nasib orang lain,” ungkapnya.

“Aksi tebar sembako gencar dilakukan mulai dari DKI Jakarta, NTB, Riau, Papua, Sulawesi Tengah dan lain-lain yang sebagian laporannya dipublikasikan di www.posdai.or.id,” sambungnya.

Momentum Ramadhan

Tentu pandemi ini berdampak tidak saja pada isu kesehatan tetapi juga ekonomi. Kementerian Ketenagakerjaan bahkan mencatat, lebih dari 2 juta tenaga kerja yang terkena PHK akibat penyebaran wabah ini.

Kementerian Ketenagakerjaan per 20 April 2020 juga menunjukkan data yang sepenarian, dimana tercatat sebanyak 84.926 perusahaan telah merumahkan para pekerjanya. Sementara Kementerian Keuangan menyebutkan terjadi peningkatan jumlah angka kemiskinan hingga 3,78 juta.

Dalam kondisi sedemikian itu, kata Ustadz Suhail, para dai yang tak bergaji laiknya karyawan perusahaan, terus bertahan di garis depan. Mendampingi dan membina umat di terpelosok negeri, terpencil, terluar, tertinggal, dan minoritas.

“Di masa wabah ini, sejatinya dai termasuk kelompok sangat rentan terdampak dari krisis panjang ini. Namun. Dai, siapa menggaji. Dia, siapa peduli. Mereka bahkan tak berpikir dapat tunjangan akhir tahun pada lebaran ini. Namun meskipun sangat butuh, mereka tak mengeluh,” ujarnya.

“Ini adalah tentang jiwa kaya. Meskipun para dai itu kekurangan mereka tidak meminta. Orang mengira mereka tidak butuh, karena mereka tidak pernah mengeluh. Ilmunya menahan mereka untuk melakukan itu,” sambungnya.

Mereka para dai tidak ingin merepotkan, merasa cukup dan terima dengan apa yang ada serta ikhtiar semampu mereka. Inilah jiwa kaum Muhajirin, orang-orang yang hijrah – yang mau mengubah nasib.

Di penghujung hari-hari akhir Ramadhan ini, kami mengajak segenap kita memintal kepedulian untuk menunjang kiprah dai. Menopang langkah mereka, para ustadz dan guru ngaji yang berada di pojok-pojok sunyi dan sepi dari sorotan binar gawai.

“Apapun dan dimanapun posisi kita berada, setiap Muslim sejatinya memiliki kewajiban dakwah. Memerankan fungsi suluh agama ini untuk mengabarkan kebenaran serta mengajak kepada keselamatan dan kegembiraan hakiki,” ujarnya.

Karenanya, lanjut Ustadz Suhail, kita perlu bersama-sama, bersatu padu dalam gerak meniti jalan amanah dakwah ini. Di kala ada yang tampak kewalahan dalam perjalanan, kita papah hingga ringan bebannya. Di saat ada yang menepi jalan karena lelah dan penuh tekanan, kita kuatkan. Kita bahagiakan.

Ia mengatakan, saat ini tidak ada lagi Nabi sesudah Rasulullah Muhammad, dan al-Qur’an telah cukup menjadi pedoman hidup manusia sepanjang masa.
“Oleh karena itu, dai-lah yang harus meneruskan tugas Nabi: mengumandangkan wahyu itu kepada manusia.”

“Masih ada waktu. Terus kita kuatkan. Sebarkan. Kita menangkan. Semoga kita semua dipertemukan di surga-Nya kelak berkat washilah hantaran kebaikan kita di penghujung Ramadhan ini. Klik, https://donasi.posdai.or.id/,” pungkasnya.* (M Zainal A)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan. Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !