Senin, 29 November 2021 / 23 Rabiul Akhir 1443 H

None

Tetaplah Melangkah Meski Terjeda

muh. abdus syakur/hidayatullah.com
[Ilustrasi] Buku "Mencetak Kader" menceritakan perjalanan hidup Pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said.
Bagikan:

Hidayatullah.com | TAHUN 1998 adalah tahun duka cita bagi Hidayatullah. Pada tahun itu, tepatnya 4 Maret 1998, KH Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, wafat. Semua berduka. Perjalanan panjang pun sejenak terjeda.

“Sorot mata yang tajam itu kini sudah tiada. Mata itu telah tertutup rapat. Tiada bedanya dengan orang yang tengah tertidur lelap,” tulis KH Manshur Salbu, kader senior Hidayatullah, dalam bukunya Mencetak Kader.

“Semua warga Hidayatullah akan selalu mengingat pesan yang pernah beliau sampaikan sambil berurai air mata, bahwa Hidyatullah harus terus berjalan (sepeninggal beliau nanti),” tulis Ustad Manshur Salbu pada  halaman lain buku tersebut.

Jeda ini tak boleh lama. Maka, bebeberapa hari setelah wafatnya KH Abdullah Said, berkumpullah para kader senior di Kampus Hidayatullah Karang Bugis, Kalimantan Timur. Ini adalah kampus pertama yang dibangungun Allahuyarham KH Abdullah Said sebelum membangun kampus induk di Gunung Tembak, Kalimantan Timur.

Dalam pertemuan tersebut, semua kader sepakat untuk menunjuk KH Abdurrahman Muhammad sebagai pengganti Allahuyarham KH Abdullah Said. Setelah berkali-kali menolak karena merasa belum pantas, akhirnya tak ada pilihan lain bagi Kiai Abdurrahman Muhammad selain menerima beban berat tersebut.

Tongkat estafet telah terpegang. Jeda telah usai. Langkah kembali dilanjutkan. Kiai Abdurrahman Muhammad, sebagai nakhoda baru, menginginkan kepemimpinan kolektif dalam mengendalikan biduk Hidayatullah. Ia merasa perlu didampingi oleh banyak kader senior dan memutuskan segala sesuatu lewat syuro.

Sejalan dengan itu, pada tanggal 13 Juli 2000, atau 11 Jumadil Tsani 1421 H, Hidayatullah mengubah wujudnya dari yayasan (organisasi sosial) menjadi organisasi massa (ormas) Islam. Pada tahun itu juga digelar Musyawarah Nasional (Munas) pertama Hidayatullah di Balikpapan, Kalimantan Timur. Inilah proses metamorfosis yang harus dilalui Hidayatullah.

Sejak saat itu, Hidayatullah memiliki sejumlah lembaga tingkat pusat yang berkedudukan di Jakarta. Sedangkan KH Abdurrahman Muhammad sendiri, sebagai pemimpin tertinggi di Hidayatullah, tetap berkedudukan di Kampus Gunung Tembak. Lembaga-lembaga tingkat pusat ini berfungsi membantu KH Abdurrahman Muhammad menjalankan roda organisasi.

Lembaga-lembaga tingkat pusat ini, dari periode ke periode, selalu berubah-ubah, sesuai kebutuhan saat itu. Pada periode terakhir –setelah Munas ke-5 tahun 2020– lembaga-lembaga tersebut terdiri atas Dewan Pertimbangan, Majelis Penasehat, Dewan Mudzakarah, Dewan Murobbi Pusat, dan Dewan Pengurus Pusat.

Di tingkat wilayah juga dibentuk Dewan Pengurus Wilayah (DPW) bersama perangkat-perangkatnya. Saat ini, DPW Hidayatullah telah ada di 34 propinsi di Indonesia. Demikian pula Dewan Pengurus Daerah (DPD), telah ada di 374 kabupaten/kota di seluruh Indonesia (atau 73% dari total jumlah Kabupaten/Kota di Indonesia).

Visi dan misi organisasi telah ditetapkan. Pedoman Dasar Organisasi juga telah disusun. Hal-hal yang bersifat kultural, seperti jati diri dan gerakan nawafil, telah dirumuskan. Perekrutan kader telah dibuka lebar. Semua masyarakat bisa ikut terlibat dalam gerakan Hidayatullah dengan melewati sejumlah marhalah. Pembinaan kader dilakukan lewat wadah halaqah.

Sekolah-sekolah Hidayatullah telah berdiri. Hingga tahun 2020, tak kurang dari 313 sekolah integral telah tersebar di seluruh Indonesia, plus 6 perguruan tinggi. Demikian juga amal-amal usaha, mulai dari Baitul Mal Hidayatullah, Baitul Waqaf Hidayatullah, Baitut Tanwil Hidayatullah, Islamic Medical Service, Search and Rescue, Lembaga Bantuan Hukum, Sahabat Anak Indonesia, Pos Dai, hingga Kelompok Media.

Gedung-gedung dan perkantoran telah dibangun. Program demi program telah dijalankan. Hidayatullah —sebagaimana pesan Allahuyarhan KH Abdullah Said— atas izin Allah Ta’ala, terus berjalan.

Lalu, saat semua pimpinan lembaga Hidayatullah berkumpul di Batam, Kepulauan Riau, pada Oktober 2015, KH Abdurrahman Muhammad mengingatkan tentang kisah seorang wanita tua yang tinggal bersama binatang ternaknya di dekat sebuah kerajaan milik raja yang zalim.

Suatu hari, kata KH Abdurrahman Muhammad, wanita tua tersebut hendak pergi ke luar kota untuk satu keperluan. Karena tak ada yang menjaga hewan ternaknya, ia pun berdoa kepada Tuhan agar berkenan menjaga rumah dan binatang ternaknya dari raja yang zalim itu.

Namun, betapa terkejutnya wanita tua itu, ketika pulang dari perjalanan jauhnya, mendapati rumah dan hewan ternaknya sudah tak ada lagi. Rupanya, raja zalim itu telah menghancurkan semuanya.

Wanita tua itu merasa kecewa dengan Tuhan. Ia terus bertanya, mengapa Tuhan tak sudi menolongnya? Padahal, ia telah beribadah sepanjang siang dan malam. Bukankah seharusnya raja zalim itu yang  dibinasakan Tuhan, bukan dirinya yang lemah?  Bukankah Tuhan Maha Melihat dan Maha Perkasa?

“Boleh jadi suatu saat nanti kita seperti wanita tua itu,” kata KH Abdurrahman Muhammad. Kita merasa telah banyak berbuat untuk agama ini. Kita ingin cepat mendapatkan hasil. Namun, ketika Allah Ta’ala tidak mengabulkan apa yang kita inginkan, kita kecewa. Kita memprotes takdir. Kita tak mau bersabar dalam berjuang.

Kalau pun ada di antara kita yang berhasil membangun organisasi secara fisik, kata KH Abdurrahman Muhammad lagi, jangan buru-buru berbangga hati. JKHru kita perlu waspada dengan semua itu.  Sebab, banyak tawaran yang akhirnya menjadikan kita tawanan. Kita terperangkap oleh tujuan jangka pendek.

Lebih celaka lagi, ungkap KH Abdurrahman Muhammad, jika kita terperangkap oleh kerumitan yang melalaikan. Perbedaan-perbedaan yang bersifat cabang (furu’) seringkali menimbulkan perdebatan yang menyita banyak waktu. Akibatnya, perjalanan menuju visi akan terhenti. Padahal, perjalanan ini masih panjang.

Inilah sekelumit kisah perjalanan Hidayatullah. Hari ini, Selasa, 10 AgKHus 2021, atau 1 Muharram 1443 H, “Kampung Pengkaderan” yang dulu dicita-citakan oleh KH Abdullah Said, telah berusia 50 tahun. Ia telah beranjak muda, tak lagi berwujud “perkampungan”. Ia telah berubah menjadi pergerakan yang dengan izin Allah Ta’ala akan terus membesar.

Selamat milad setengah abad Hidayatullah. Teruslah bergerak, namun tidak dengan cara menabrak. Teruslah berjalan, namun tidak dengan mengundang murka Tuhan. *  (Tamat)

Rep: Mahladi
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Satu dari Tujuh Mahasiswi Inggris Alami Pelecehan

Satu dari Tujuh Mahasiswi Inggris Alami Pelecehan

‘Pemerintah Jangan Anggap Remeh Pelemahan Rupiah’

‘Pemerintah Jangan Anggap Remeh Pelemahan Rupiah’

terowongan Hamas

Hamas Tembakkan Roket ke Laut dalam Latihan Militer yang Menandai Peringatan Perang dengan Zionis

Az Zikra Dapat Dukungan dari Akademisi UIKA Kawal Kasus Syiah

Az Zikra Dapat Dukungan dari Akademisi UIKA Kawal Kasus Syiah

Pembicaraan Damai Perang Suriah di Kazakhstan Belum Menunjukkan Perkembangan Positif

Pembicaraan Damai Perang Suriah di Kazakhstan Belum Menunjukkan Perkembangan Positif

Baca Juga

Berita Lainnya