Kamis, 4 Maret 2021 / 20 Rajab 1442 H

None

Ulama Argapura Minta Tempat Wisata di Sukadana Ditutup

Bagikan:

Hidayatullah.com–Keberadaan tempat wisata Curug Kemuning, Curug Ibun, Gua Lalay atau Green Canyon, Lorong Sanca yang terletak di desa Sukadana, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka Jawa Barat menuai protes sebagian warga dan para ulama.
Sebagian masyarakat Argapura menyatakan ketidaksetujuannya karena tempat tersebut menurut mereka bisa dijadikannya sebagai tempat maksiat oleh sebagian pengunjung.

“Ada warga yang melapor ke saya, tempat wisata ini kerap digunakan untuk maksiat oleh sebagian pengunjung,” kata Kiai Otong, Aktifis Front Pembela Islam (FPI) Majalengka

Pada Ahad, 11 januari 2015 lalu, para ulama, kiai, ustadz dan santri se Argapura yang terdiri dari MUI, Majelis Alkisa dan Front Pembela Islam (FPI) mendatangi kantor kepala desa Sukadana untuk meminta penutupan tempat wisata tersebut.

Mereka kemudian mengadakan pertemuan untuk melakukan musyawarah dengan pejabat Muspika di Balai atau Ruang Pertemuan kepala desa Sukadana.

Hadir pada pertemuan tersebut Camat Dedi Supriyadi, kapolsek Argapura AKP Paweka, Danramil Bambang Irawan, dan ketua MUI Kec Argapura Kiai Mu’in, KH Mabruri, KH Subki, Kiai Bahrun, Kiai Otong, Kiai Iping dan para Kiai lainnya untuk mencari solusi dari masalah tempat wisata tersebut.

Camat Argapura, Dedi Supriyadi menjelaskan, dirinya setuju akan keinginan masyarakat agar tidak ada maksiat di daerahnya seperti peredaran miras,tindak asusila dan lainnya akibat keberadaan tempat wisata di desa Sukadana. “Tinggal sekarang ada keinginan tidak dari pengelola supaya tidak ada maksiat seperti miras asusila dan lainnya. Kita butuh suasana yang kondusif,” ujarnya.

Kiai Muin, Ketua MUI Argapura, menyatakan bahwa tugas ulama, tugas Kiai adalah untuk meluruskan sesuatu yang bengkok di tengah-tengah masyarakat.

“Kami kedatangan para ulama. Mereka khawatir dengan kemaksiatan yang saat ini merajalela. Kalau itu terus terjadi maka akan mengundang adzab. Karena itu janganlah kita untuk berani dekat-dekat dengan maksiat, “ujarnya. Karena menurut beliau ada hadist jika ada kemungkaran maka kita harus mengubahnya dengan tangan, kalau tidak bisa maka dengan lisan dan kalau tidak bisa juga dengan hati dan itu selemahnya iman.

“Maka kami mengusulkan supaya tempat yang indah itu dijadikan pesantren saja. Jika demikian para ulama setuju. Para ulama tetap mengharapkan agar tempat wisata tersebut ditutup,” tegasnya.

AKP MR Paweka, Kapolsek Argapura mengatakan terimakasih kepada warga terutama FPI yang telah membantu dalan memberantas Miras.

“Masalah tempat wisata akan kita musywarahkan nanti,” tandasnya.

Sementara itu pemilik lahan Curug ibun menyatakan bahwa dirinya bersedia menutup Curug ibun. “Bismillahirrahmanirrahim saya mewakili bapak saya bersedia agar Curug ibun yang ada di Desa Sukadana setuju ditutup. Namun saya dan keluarga meminta perlindungan dari kepolisian jika nanti ada yang mengganggu kami baik harta dan jiwa. Saya setuju jika tempat tersebut mau dijadikan pesantren atau wisata religius,”ujar Syamsul Maarif, putra Kiai Tamim pemilik lokasi yang tanahnya berdekatan dengan Curug Ibun.

Kepala Desa sukadana, Asep Suherman, mengatakan, karena dirinya punya atasan dan punya warga maka dirinya akan memusyawarahkan nanti terkait tempat wisata di Sukadana.

“Kami tidak ingin kondisi desa kami tidak kondusif. Sebab pembukaan tempat wisata di Sukadana diawali oleh musyawarah tokoh masyarakat Sukadana,” jelasnya.

Sementara itu Kiai Haji Mabruri mengatakan jika ada maksiat di sekelilingnya kemudian ulama diam maka para ulama dilaknat Allah. Dan barang siapa yang menolong kebaikan maka ia dapat pahala yang sama. Dan barangsiapa yang nenolong kemaksiatan maka dapat dosanya sama.

“Musibah yang ada di dunia ini akibat ulah manusia, bukan hanya menimpa si pelakunya tapi semuanya akan kena,” tegasnya.

Bambang Irawan Danramil Argapura menyatakan setuju semua kemaksiatan harus diberantas. “Sejak awal saya menyampaikan kepada pengelola tempat wisata, yakni konpipar agar tempat wisata tersebut harus bersih dari sampah dan kemaksiatan” celotehnya.

Kiai Bahrun mengatakan bahwa asal kemungkaran karena hubbundunya atau cinta dunia. Karena kita sudah mengaku Islam maka kita harus patuh pada Islam secara kaffah seratus persen. Namun Karena senang akan dunia maka yang haram atau wasilah menuju keharaman ditabrak saja. Padahal kalau kita menolong yang maksiat maka ia juga berdosa. Jika ada yang nunjukkin adanya tempat maksiat, maka yang nyetujuinya juga ia dapat dosa .

“Keinginan kami jelas semua tempat wisata itu ditutup,”tegas Kiai Bahrun.

Munsyawarah sempat panas karena belum ada keputusan yang tegas dari pemerintahan desa setempat untuk menutup tempat wisata yang baru seumur jagung itu. Namun terakhir ada titik terang ketika kepala desa Sukadana juga mewakili pihak pengelola yakni konpepar bersedia untuk mencoret tempat wisata di desanya. Namun resminya akan dimusyawarah dulu.”kalau sudah keputusan musyawarah ya saya coret,” ujarnya.

Tempat wisata ini mulai ramai sejak empat bulan lalu dan kian ramai sejak 1 Januari 2015. Menurut salah seorang warga pada awal tahun baru kemarin diperkirakan ada 2500 pengunjung mendatangi tempat tersebut. Sayangnya tempat ini banyak disalahgunakan.*/Abu ziad

 

Rep: Anton R
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

DPD: Perbaikan Penyelenggaraan Haji Bisa Dimulai dari Manasik

DPD: Perbaikan Penyelenggaraan Haji Bisa Dimulai dari Manasik

Nashirul: Keadilan Harus Ditegakkan

Nashirul: Keadilan Harus Ditegakkan

Militer Myanmar ‘Sengaja Bakar’ Desa-Desa Muslim Rohingya

Militer Myanmar ‘Sengaja Bakar’ Desa-Desa Muslim Rohingya

Operator Seluler Terbesar Afrika MTN Dituding Menyuap Taliban, Al-Qaeda

Operator Seluler Terbesar Afrika MTN Dituding Menyuap Taliban, Al-Qaeda

Tiga Dasar Mengapa Seorang Mukmin Harus Semangat

Tiga Dasar Mengapa Seorang Mukmin Harus Semangat

Baca Juga

Berita Lainnya