Senin, 6 Desember 2021 / 30 Rabiul Akhir 1443 H

None

Dai harus Mau Dikoreksi, Enak beri Nasihat, Enak pula Dinasehati

hidayatullah.com/M Abd Syakur
Suasana Rakornas Hidayatullah di Depok
Bagikan:

Hidayatullah.com- Para dai di Indonesia harus distandarisasi, meliputi berbagai aspek. Di antaranya aspek spiritualitas, seperti shalat, berinfaq, dan perbaikan baca al-Qur’an.

Pimpinan Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman menyerukan ini dalam tausiyahnya pada acara Rakornas Hidayatullah di Cilodong, Depok, Jawa Barat, Sabtu, 16 Rabiul Awal 1435 H (18/1/2014).

“Berhenti memperbaiki baca al-Qur’an itu (berarti) berhenti jihad,” ujarnya di depan ratusan pengurus Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah se-Indonesia.

Menurut Abdurrahman, jihad itu banyak macamnya, di antaranya termasuk usaha keras memperbaiki baca al-Qur’an. Jihad ini bukan hal mudah, apalagi bagi para dai yang lidahnya masih “asli”, berlogat khas daerah masing-masing.

“Lidah kita ini kan masih asli. Saya Bugis, ada yang Makassar, ada Jawa. Ini harus diluruskan (sesuai lafadz bahasa al-Qur’an. Red),” ujarnya.

Aspek penting lain yang harus distandarisasi adalah gaya dai dalam berdakwah, yaitu bersikap lemah lembut. Abdurrahman mengkritis sikap pendakwah yang keras dan seakan mau mematikan yang lain.

“Ini yang perlu dikoreksi, keras-keras semua (dakwahnya), mau dimatikan, semua dikafirkan,” singgungnya.

Dengan demikian, para dai harus terbuka dalam dakwahnya. Terbuka untuk dikoreksi oleh siapa saja. Enak memberi nasihat, dan enak pula diberi nasihat.

Selain itu, antara pelaku dakwah dengan objek dakwah juga harus ada kedekatan. Begitu pula antara pemimpin dengan jamaahnya.

“Sekali-kali dirangkul murid, sekali-kali diundang ke rumah. Ada kedekatan, intinya. Ini yang harus dibangun, keakraban,” ujarnya berpesan kepada para ustadz-ustadz Hidayatullah.

-Dai Harus Bekerja-

Abdurrahman menyampaikan, standarisasi dai tidak hanya meliputi spiritual dan gaya berdakwah. Tapi juga standar keekonomian, seperti pekerjaan mencari nafkah.

“Para pelaku dakwah harus berdaya secara pekerjaan, biar mereka bisa berinfaq. Berinfaq ini harus jadi budaya. Jadi (dai) harus bekerja, ada jalur rezeki yang halal,” jelasnya.

Abdurrahman pun mengaku, selama ini di sekitar rumahnya di Balikpapan, Kalimantan Timur, dia tengah membudidayakan berbagai tanaman produktif, seperti singkong dan pisang.

Namun, dia mewanti-wanti para dai terkait hal-hal duniawi. Semua itu bisa menjadi beban jika penggunannya tidak tepat. Solusinya adalah dengan berinfaq di jalan Allah.

“Harus yakin bahwa Allah ganjar 700 kali lipat (infaqnya),” tandasnya.*

Rep: Muhammad Abdus Syakur
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

KISPA: Membela Aleppo adalah Panggilan Keimanan

KISPA: Membela Aleppo adalah Panggilan Keimanan

Saifullah Yusuf Sebut Semangat Muktamar NU Dekatkan pada Muassis

Saifullah Yusuf Sebut Semangat Muktamar NU Dekatkan pada Muassis

Eki Pitung: 500 Jawara dan Pendekar Siap Kawal Aksi Bela Al-Quran

Eki Pitung: 500 Jawara dan Pendekar Siap Kawal Aksi Bela Al-Quran

Selamatkan Anak Indonesia dari Prostitusi Homoseksual dengan Rehabilitasi dan Pertobatan

Selamatkan Anak Indonesia dari Prostitusi Homoseksual dengan Rehabilitasi dan Pertobatan

Majalah Suara Hidayatullah Kader Jurnalis Muslim  di Batam

Majalah Suara Hidayatullah Kader Jurnalis Muslim di Batam

Baca Juga

Berita Lainnya