Ahad, 24 Oktober 2021 / 17 Rabiul Awwal 1443 H

Lensa

“The Power of Santri”

muh. abdus syakur/hidayatullah.com
Santri mendorong mobil angkot yang mogok di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (02/03/2021).
Bagikan:

Hidayatullah.com | PAK Jarwo mungkin tak mengira dengan apa yang terjadi pada siang bolong itu. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Pepatah ini mungkin tidak sepenuhnya menggambarkan apa yang dialaminya.

Hari itu, selepas zuhur, cuaca tampak cerah, langit membiru di atas sebuah permukiman di Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Dua orang pria berboncengan menyusuri jalan di pinggir sebuah danau.

Jalanan ini masih tanah berbatu, sebagian dalam proses pemadatan sehingga kontur tanah masih labil. Masih ada sedikit kubangan yang bisa menjebak. Dan Pak Jarwo tidak tahu menahu tentang itu.

Siapa Jarwo? Pria ini adalah supir taksi -sebutan untuk angkutan kota (angkot) di Balikpapan- nomor 7 yang biasa dipanggil warga untuk penjemputan dan pengantaran. Angkot ini dipanggil tanpa aplikasi khusus, cukup via telepon atau pesan WhatsApp. Biasanya begitu, karena sebagian warga setempat memang sudah berlangganan.

Jarwo mengemudikan taksinya melewati jalan tanah di pinggir empang. Qadarallah, mobilnya amblas pada salah satu ruas jalan yang berkubang. Melihat itu, dua orang pria yang berboncengan sepeda motor tadi segera berhenti dan turun untuk membantu pak supir.

“Saya tadi lihat kering jalan itu, ternyata basah (dalamnya),” tutur Jarwo yang sedang sendirian. “Sudah setahun saya enda lewat sini,” katanya juga.

Ooohhh!

Baca juga: Menjaga Warung, “Menjaga Agama”

Setelah dianalisa secara singkat, mobil Pak Jarwo harus didorong atau ditarik. Namun bisa dipastikan bahwa tenaga yang ada belum cukup kuat. Suasana di sekitar lagi sepi. Selasa (02/03/2021) itu para warga sedang pada sibuk dengan kegiatan rutin masing-masing; para santri sekolah, para warga bekerja baik di kantor maupun di lapangan tugas. Cukup jauh dari titik kejadian yang menimpa Pak Jarwo.

Sebenarnya mobil taksi ini tergolong “ringan”. Ditaksir, cuma butuh tambahan 2-3 tenaga manusia sudah cukup untuk mendorongnya. Sehingga, tak perlu rasanya menerjunkan satu “kompi” warga untuk menuntaskan masalah ini.

Problemnya, nyaris tak terlihat satu-dua warga dan santri yang sedang melintas di dekat TKP di kompleks Pondok Pesantren Hidayatullah Ummul Qura itu. Mereka berharap Allah segera mendatangkan bantuan-Nya.

Tepat! Tak beberapa lama, berjarak hampir 100 meter, melintas salah seorang warga yang tampaknya baru pulang dari masjid. Tapi dia terus saja. Eh, setelah menengok ke arah taksi tadi, bapak warga itu memutar balik dan melajukan roda duanya ke arah lokasi kejadian. Ternyata dia adalah Pak Ali Genda, demikian dikenal.

Tanpa basa basi, Ali Genda langsung memberikan bantuan ide dan tenaga. Cuma, belum membuahkan hasil. Mobil tadi tak kunjung berhasil dievakuasi dari kubangan yang sebenarnya tidak begitu dalam itu.

Sementara Pak Jarwo masih tak tinggal diam. Wajahnya tampak tenang. Tak terlihat ada kecemasan. Mungkin dia sudah berpengalaman menghadapi situasi seperti ini. “Dibantu atau tidak dibantu, saya harus tetap berusaha agar mobil ini segera keluar dari jebakan lubang berlumpur ini!” Begitu mungkin dalam benaknya.

Yah, demikian salah satu spirit yang bisa ditangkap darinya. Di balik kemudi taksinya itu, ada harapan besar baginya untuk mendapatkan lembar demi lembar nafkah, demi menghidupi keluarganya.

Berbagai upaya pun dia lakukan. Mulai dari menumpuk kayu di balik ban-ban mobil yang amblas, sampai mendongkrak mobil dengan alat pendongkrak.

Warga tentu tak ridha membiarkannya berjibaku sendirian. Meskipun secara pribadi mungkin tak mengenalnya lebih jauh, tapi kewajiban warga pesantren itu untuk membantunya. Dicobalah sekali lagi, Bismillah, Allahu Akbar!
Didorong dari depan, dari samping, dari belakang, masih tak berhasil.

Ali Genda memutar otak. “Coba saya cari mobil dulu untuk narik,” ujarnya seraya pergi entah ke mana.

Tak lama kemudian, dia kembali dengan membonceng dua orang santri putra. “Ini ada bantuan tapi cuma dua,” ujarnya. Endak apa-apa, insya Allah sudah cukup.

Tanpa perlu dianalisa lagi, aksi selanjutnya bisa ditebak. Pak Jarwo segera duduk di balik setir, menyalakan mesin, memasang perseneling untuk mundur, lalu sejumlah warga dan santri tadi pun bersiap di depan mobil.

Setelah saling memberi komando, Bismillah! Allahu Akbar! Mereka mendorong dengan full power. “Brum, brumm, bruummm!” Akhirnya angkot ini pun berhasil “dipukul” mundur keluar dari kubangan lumpur yang menjebaknya. Alhamdulillah!

Semua pun senang, termasuk sejumlah warga calon penumpang taksi dari asrama putri yang sedari tadi menunggu. “Kita bantu dengan doa,” ujar Muslimah berjilbab yang tampaknya pemesan angkot hijau putih tersebut. Doanya makbul, Bu!.

Pak Jarwo pun berangkat mengantarkan para penumpangnya setelah menyampaikan apresiasinya terhadap warga Hidayatullah Ummul Qura yang bersedia membantunya siang itu. “Terima kasih, Ustadz,” ujarnya dengan suara yang terdengar penuh ketulusan. “Sama-sama, Pak! Hati-hati di jalan!”.

Malang dapat ditolak, untung dapat diraih (insya Allah) mungkin plesetan yang tepat dari pepatah di atas.* (Foto dan Teks: Muh. Abdus Syakur/hidayatullah.com)

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

‘Cinta Negara, Cinta Agama’

‘Cinta Negara, Cinta Agama’

Bayi Bermata Satu Lahir di Papua

Bayi Bermata Satu Lahir di Papua

Kisah Kasih Pergi Sekolah

Kisah Kasih Pergi Sekolah

Shalat Malam di Stasiun

Shalat Malam di Stasiun

Lika-liku Dai di Mahulu

Lika-liku Dai di Mahulu

Baca Juga

Berita Lainnya