Coretan Tangan untuk Wali Kota Palu

Tertulis "Wali Kota Jangan Sembunyi" dan "Palu Nomoni Bikin Hancur Kota Palu dan Sekitarnya" dengan huruf besar semua.

Coretan Tangan untuk Wali Kota Palu
ist.
Coretan tangan "Walikota Palu Pemuja Setan" di bibir pantai.

Terkait

SEJUMLAH foto beredar dan masuk ke perangkat awak hidayatullah.com baru-baru ini terkait kondisi di Kota Palu, Sulawesi Tengah, pasca dilanda gempa dan tsunami pada Jumat (28/09/2018) lalu.

Dalam dua foto yang dikirimkan seseorang tersebut tampak coretan tangan diduga oleh warga Palu yang menuliskan kalimat “Walikota Palu Pemuja “Setan””. Ditulis pada dinding darurat yang dipasang di bibir pantai berlatar belakang pemandangan laut dan pegunungan, identik suasana di pesisir Kota Palu.

Pada foto lainnya, tampak dua lembar triplek yang dipasang pada batang sebuah pohon di pinggir pantai. Kedua triplek itu masing-masing bertuliskan “Wali Kota Jangan Sembunyi” dan “Palu Nomoni Bikin Hancur Kota Palu dan Sekitarnya” dengan huruf besar semua.

[Foto: Istimewa]

Tulisan-tulisan bernada serupa bertebaran di Kota Palu pasca bencana alam yang menelan korban jiwa hampir 2.000 orang belum termasuk korban hilang dan korban tertimbun itu. Hingga Ahad (07/10/2018), BNPB merilis korban jiwa telah mencapai 1.944 orang.

Coretan tangan korban gempa bumi dan tsunami Palu banyak terlihat setelah bencana tersebut terjadi di pinggir Jalan Trans Sulawesi, Palu, Sulawesi Tengah. [Foto: Fery Pradolo/Liputan6]

Sebelum ini, beberapa hari pasca bencana tersebut viral kabar bahwa ada sejumlah warga Palu yang membuat sesajen di pesisir pantai Palu. Video dan foto-foto ritual itu menyebar luas di berbagai media sosial.

Video dan foto viral masyarakat memberikan sesajen di pesisir pantai Palu, Oktober 2018. [Foto: Istimewa/kolase hidayatullah.com]

Pada Kamis (04/10/2018), diberitakan hidayatullah.com, sebuah tulisan di papan triplek dekat pesisir pantai samping jalan Trans Sulawesi daerah Tondo, Palu, Sulawesi Tengah, menyalahkan Festival Palu Nomoni sebagai penyebab gempa dan bencana tsunami.

“Korban Palu tsunami akibat Palu Nomoni membuat Palu Menangis,” demikian bunyi tulisan tersebut saat dipantau hidayatullah.com.

Saat dipastikan siapa yang menulis tulisan itu, seorang warga mengaku masyarakat sekitar yang menulisnya. Palu Nomoni adalah adat budaya yang baru saja dijadikan eventtahunan oleh Wali Kota Hidayat.

Tahun ini adalah tahun ketiga diadakannya event tersebut. Di antaranya ada ritual lempar sesajen ke laut, dengan harapan bisa menyembuhkan penyakit.

Tulisan “Korban Palu tsunami akibat Palu Nomoni membuat Palu Menangis,” pada papan triplek dekat pesisir pantai samping jalan Trans Sulawesi daerah Tondo, Palu, Sulawesi Tengah, difoto pada Kamis (04/10/2018). [Foto: Sirajuddin Muslim/hidayatullah.com]

Seperti ditulis media ini sebelumnya, sebelum bencana alam gempa dan tsunami melanda Kota Palu, Jumat (28/09/2018), banyak warga yang menghadiri kegiatan festival kebudayaan Palu Nomoni di Pantai Talise, Palu, Sulawesi Tengah. Para warga hadir di pantai tersebut untuk menyaksikan kegiatan Balia yang memang sudah lama hilang.

Kegiatan Balia merupakan kegiatan yang sudah lama hilang dan ingin dihidupkan kembali. Balia sendiri dahulu digunakan untuk mengobati orang sakit menggunakan mantra dan dilakukan oleh orang yang ahli.

Coretan tangan tolak Balia di Sulteng. [Foto: Istimewa]

Menurut Andi Ahmad, warga setempat, budaya ini baru dihidupkan kembali sejak 2016, biasanya menggunakan sesajen, seperti menghanyutkan makanan ke laut, dan hewan ternak seperti kambing.

Baca: Sebelum Tsunami Warga Saksikan Tradisi Nomoni

“Biasanya untuk mengobati orang sakit menurut cerita dahulu, identiknya sih dengan sesajen,” kata Andi Ahmad, saat dimintai keterangan di Jalan Garuda Dua, Birobuli Utara, Palu Selatan, Kota Palu, Selasa (02/10/2018).

Palu Nomoni berarti artinya Palu berbunyi. Menurut Andi, tradisi ini sebenarnya sudah lama lenyap sejak kedatangan Guru Tua Habib Idrus bin Salim Al Jufri, yang disebut masih memiliki sanad keturunan dari Baginda Rasulullah.

“Sebenernya tradisi ini sudah lama hilang, dibersihkan sejak kedatangan guru tua, namun kembali dihidupkan,” tuturnya.

Baca: “Nomoni Membuat Palu Menangis”

Dimulainya tradisi ini sejak 2016, terpilihnya Wali Kota pasangan Hidayat – Sigit Purnomo Said (Pasha). Namun sejak 2016 juga terus terjadi hal-hal aneh seperti angin kencang.

“Jadi memang tradisi ini identik dengan roh halus, sejak 2016 dihidupkan kembali, memang 2016 dan 2017 itu setiap dirayakan angin kencang trus, saat ini barulah tsunami,” paparnya.*/SKR/Sirajuddin Muslim

Berita gempa dan tsunami Palu bekerjasama dengan Dompet Dakwah Media

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !