Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Lensa

Berbeda yang Indah

muh. abdus syakur/hidayatullah.com
Perbedaan ras dan warna kulit pun melebur. Tampak kiri, Umar Abdullah, Muslim dari Papua.
Bagikan:

BERBEDA-beda tapi tetap satu jua. Kalimat ini biasa dimaknai dari semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Indonesia memang terdiri dari berbagai macam suku, agama, dan ras.

Jika dibawa ke ranah persatuan umat Islam, perbedaan sering dimaknai sebagai suatu rahmat. Coba kita tengok sejenak gambar jepretan fotografer hidayatullah.com ini.

Tampak Kepala Suku Asmat Besar dari Kabupaten Asmat, Papua, Umar Abdullah Kayimter (berpeci), mengulum senyumnya. Kala itu ia sedang ber-cipika-cipiki dan bersalaman dengan seorang jamaah Masjid at-Taqwa.

Hal serupa dilakukannya terhadap ratusan pria lain yang bergantian menyalaminya. Saat itu, Kamis, 4 Rabiuts Tsani 1437 H (14/01/2016), usai shalat Zhuhur, baru saja digelar prosesi pengucapan dua kalimat syahadat oleh 4 remaja Asmat.

[Foto: Syakur]

[Foto: Syakur]

Umar Abdullah, bersama dai Papua Ustadz Fadlan Garamatan, adalah yang memprakarsasi para pemuda itu masuk Islam.

Masjid di kompleks kantor pusat PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), Jl Trunojoyo, Jakarta, itu pun diliputi keharuan penuh kebahagiaan. Apalagi saat masing-masing mualaf itu usai bersyahadat.

Begitu sesi salam-salaman, para jamaah tak kuasa untuk tidak meluapkan kebahagiaan mereka.

Saat ratusan pipi kanan-kiri dan telapak tangan saling bersentuhan, perbedaan ras dan warna kulit pun melebur, membentuk formasi indah dalam satu keyakinan tauhid.*

[Foto: Syakur]

[Foto: Syakur]

Rep: Muhammad Abdus Syakur
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Untuk “Kemerdekaan” Sungai Ciliwung

Untuk “Kemerdekaan” Sungai Ciliwung

“Manusia Perahu” di Jakarta

“Manusia Perahu” di Jakarta

‘Awan Tsunami’

‘Awan Tsunami’

“Jumat Berkah”

“Jumat Berkah”

Masihkah Ada Alasan…

Masihkah Ada Alasan…

Baca Juga

Berita Lainnya