Senin, 20 September 2021 / 12 Safar 1443 H

Konsultasi Syariah

Membentengi Diri dari Sihir dan Setan

ilustrasi
Bagikan:

Oleh Ustd. Hamim Thahari*

Hidayatullah.com–Di antara rombongan jamaah haji yang bersama saya, ada wanita yang sejak di Makkah mengalami gangguan kesehatan. Setelah diperiksa dokter, ternyata dinyatakan sehat secara medis.

Para pembimbing haji kemudian meruqyahnya. Akhirnya wanita tersebut mengaku membawa benda-benda tertentu yang diindikasikan berbau “sihir”.

Mohon penjelasan Ustadz, bagaimana cara menghindari sihir dan cara pengobatannya?

Jazakumullahu khairan katsira.

HG

Jakarta

Jawaban:

Tindakan cepat penyelenggara haji yang membawa jamaah sakit ke dokter adalah tepat dan terpuji. Para ulama sepakat bahwa berobat kepada orang yang ahli bukan saja boleh, tapi sangat dianjurkan. Allah SWT telah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya.

Sebaliknya, mendatangi dukun, orang pinter, kahin, dan sejenisnya secara tegas dilarang oleh Islam. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ فِيْمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa yang mendatangi kahin (dukun) dan membenarkan apa yang dikatakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (Riwayat Abu Dawud).

Seorang Muslim haram tunduk dan percaya terhadap dugaan serta praktik perdukunan sebagai cara pengobatan. Barangsiapa yang rela menerima praktik perdukunan pada dasarnya telah menolong para kahin dalam perbuatan batil dan kufur.

Meskipun demikian, Islam tidak serta-merta menolak eksistensi sihir dan perdukunan ini. Itu ada, dan Islam mengharamkannya.

Allah SWT berfirman:

وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِۦ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا۟ لَمَنِ ٱشْتَرَىٰهُ مَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِنْ خَلَٰقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا۟ بِهِۦٓ أَنفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ

“Mereka (ahli sihir) tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan, dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Dan sungguh, mereka sudah tahu, barangsiapa yang menukar (kitab Allah) dengan sihir itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat.” (al-Baqarah [2]: 102).

Ayat ini mengakui bahwa sihir itu ada, dan itu adalah perbuatan kufur. Pengaruh sihir itu nyata, tetapi tanpa izin Allah SWT, tidak akan berpengaruh apa-apa.

Syariat Islam mengajarkan kepada kaum Muslimin untuk mencegah bahaya sihir, baik secara preventif maupun kuratif, antara lain dengan:

  1. Membaca Ayat Kursi setiap selesai shalat lima waktu, juga di malam hari. Rasulullah SAW bersabda yang artinya Barangsiapa yang membaca Ayat kursi pada malam hari, Allah senantiasa menjaganya dan setan tidak akan mendekatinya sampai Shubuh.” (Riwayat al-Hakim 1: 562).

Ayat Kursi:

للّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ (surat Al Baqarah 255)

2. Membaca Surat al-Ikhlash, al-Falaq, dan an-Nas setiap selesai shalat lima waktu, serta saat pagi dan malam hari.

3. Membaca dua ayat terakhir Surat al-Baqarah 285-286. Rasulullah SAW bersabda:

  1. مَنْ قَرَأَ بِالآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِى لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

    “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari Surat al-Baqarah pada malam hari, maka cukuplah kedua ayat tersebut baginya (ia akan terpelihara dari kejahatan).” (Riwayat Bukhari no 5009 dan Muslim no 808).

4. Menguang-ulang membaca Ta’awudz, baik siang maupun malam hari, saat di ruang terbuka atau tertutup. Rasulullah SAW bersabda,

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya.” (Riwayat Muslim).

5. Cari dan temukan barang yang sering dipakai oleh para dukun atau tukang sihir sebagai media praktik perdukunannya. Buang segera! Lenyapkan dan hancurkan berpuing-puing.

Insya’ Allah dengan cara-cara tersebut, gangguan sihir dapat dicegah dan dilemahkan. Cukuplah Allah SWT sebagai penolong dan pelindung kita.*

*Anggota Dewan Pertimbangan DPP Hidayatullah

 

Tonton video Masjid Namira Sering Viral Ini Kata Pemiliknya

Rep: Ahmad
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Hukum Membatalkan Lamaran

Hukum Membatalkan Lamaran

Terlanjur Berpacaran

Terlanjur Berpacaran

Bermakmum pada Makmum Masbuk

Bermakmum pada Makmum Masbuk

Fatwa Al Azhar terkait Tata Cara Memandikan dan Menshalati Jenazah Korban Corona

Fatwa Al Azhar terkait Tata Cara Memandikan dan Menshalati Jenazah Korban Corona

Zakat Perusahaan, Bagaimana Menghitungnya?

Zakat Perusahaan, Bagaimana Menghitungnya?

Baca Juga

Berita Lainnya