frontpage hit counter

Meredakan Kemarahan Suami (1)

Iringilah dengan senyuman dan kata-kata yang baik, serta penuh kasih sayang agar hati suami melunak.

Meredakan Kemarahan Suami (1)

Terkait

SAAT suami Anda marah dan dia mulai membentak dan mencela, tetaplah diam, tetaplah diam, dan tetaplah diam, meskipun hati Anda bergolak, jengkel, dan marah terhadap kata-kata yang Anda dengar darinya. Perbanyaklah ta’awwudz kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari godaan setan terkutuk, dan perbanyak pula istighfar, karena keduanya akan memberikan keteguhan pada Anda. Tindakan seperti ini telah banyak teruji.

Dengan diam, Anda dapat menutup pintu setan rapat-rapat, karena setan sangat keras godaannya dalam keadaan seperti itu. Dalam hadits shahih dijelaskan bahwa iblis menancapkan istananya di atas lautan, kemudian dia mengutus tentaranya dari kalangan setan untuk menyelewengkan anak Adam.

Ada setan datang berkata, “Aku tetap menggoda Fulan hingga dia berzina.” Setan lain berkata, “Aku tetap menggoda Fulan hingga dia membunuh.” Kemudian iblis berkata kepada bala tentaranya, “Sesungguhnya kalian belum melakukan apa-apa.”

Datang setan yang lain dan berkata, “Saya tetap menggoda Fulan sampai aku memisahkan dia dengan istrinya.” Kemudian iblis berkata kepadanya, “Ah… kamu ini, dia akan kembali lagi menikah dengan istrinya.”

Wahai istri yang cerdik, apakah masuk akal jika ada api yang menyala kemudian Anda tuangkan bensin di atasnya, Anda yakin bahwa bensin itu dapat memadamkan kobaran api? Tentu Anda akan mengatakan, “Tidak.”

Ingatlah bahwa perdebatan Anda dengan suami pada saat itu seperti bensin yang Anda tuangkan di atas hatinya, sehingga api kemarahannya semakin berkobar.

Jika setan menipu Anda dengan berkata, “Bantahlah suamimu agar dia paham, tentu setelah itu dia akan diam dan menerima,” maka ingatlah pada saat itu bahwa suami Anda tetap tidak akan paham, tidak akan paham, dan tidak akan paham.

Tidak mungkin dalam situasi seperti ini masalah bisa diurai dan Anda tidak bisa memahamkan apapun kepadanya, karena kalian berdua sama-sama dalam keadaan marah. Pada saat itu akal kalian telah hilang, kejiwaan kalian telah kehilangan kontrol, dan setan siap menggodamu.

Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari).

Pada saat itu jika Anda ikut bersikeras, tidak akan mampu mengatakan kebaikan selamanya. Oleh sebab itu, jika Anda beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir, sebaiknya diam. Jadilah seperti orang yang dipuji oleh Allah dalam firman-Nya:

Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang.” (Ali `Imran: 134)

Seorang laki-laki dengan perangainya mudah terpancing, jika sedang marah, dia tidak mampu membedakan apa yang ada di depannya. Tidak bijaksana jika Anda berkelahi sebagaimana kaum laki-laki. Tidak bijaksana pula saat dia semakin marah, Anda pun semakin marah. Bahkan jika dia marah, hendaknya Anda mengendur. Dan jika dia melembut, berlaku manjalah padanya.

Seorang penulis, Abdullah Al-Ju`aitsan, dalam bukunya Fann Al-istimta’ Bil-hayah berkata, “Jika dua kepala saling berbenturan, maka keduanya akan merasakan sakit. Jika dua keinginan kuat saling berbenturan, maka salah satunya akan pecah, dan dengannya kemuliaan akan hilang.

Dan jika Anda juga termasuk tipe orang yang mudah terpancing, segera keluarlah dari ruang tempat suami berada. Tetapi jika Anda tipe wanita yang sabar dan tenang, maka jangan hanya diam ketika suami marah. Akan tetapi berusahalah menenangkan kemarahannya pada saat itu dengan belaian di wajah dan tubuhnya, atau pelukan dan senyuman yang terpancar dari kedua bibirmu sehingga Anda dapat memadamkan api yang ada dalam diri suami.

Iringilah senyuman itu dengan kata-kata yang baik dan penuh kasih sayang agar hatinya melunak, misalnya, “Engkau pasti akan melihat sesuatu yang menyenangkanmu,” atau, “Orang yang menjengkelkanmu tidak akan bertahan,” dan lain, sebagainya. Renungkan hadits Nabi, “Hendaklah dia berkata baik atau diam.”

Perkataan yang baik didahulukan daripada diam. Kata-kata yang dapat meredakan marah suami termasuk perkataan baik yang didahulukan daripada diam.*/Oleh Nashir Asy-Syafi’i, dari bukunya Bunga-bunga Istri Tercinta. [Tulisan selanjutnya]

Rep: Admin Hidcom

Editor: Syaiful Irwan

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !